Comscore Tracker

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi Selatan

Kasus positif COVID-19 di Sulsel per Senin (30/3) 50 orang

Makassar, IDN Times - Pada 2 Maret 2020 Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengumumkan dua kasus pertama pasien positif COVID-19 di Indonesia. Sembilan hari berselang, Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengumumkan bahwa wabah virus corona jenis baru berstatus pandemi. WHO turut meminta pemerintahan di seluruh dunia untuk mempersiapkan segala sesuatu menyangkut upaya penanganan hingga tenaga medis.

Di Sulawesi Selatan, dua kasus positif pertama diumumkan pada hari Kamis 19 Maret, oleh Achmad Yurianto selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19. Pada hari yang sama Gubernur Nurdin Abdullah menyatakan salah satu pasien virus corona di Sulsel telah meninggal sebelum hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan dia positif.

Berikut data terbaru pasien positif, Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Resiko (ODR) berdasarkan laporan yang dikumpulkan IDN Times dari laman Sulsel Tanggap COVID-19 dan informasi dari pemerintah daerah di Sulsel.

Baca Juga: Dinkes Sulsel Tracing Riwayat Kontak 2 Pasien Positif Corona

30 Maret 2020: Angka positif jadi 50 orang, Pemkab Gowa dan Pemkot Makassar siapkan rencana penanganan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanANTARA FOTO/Arnas Padda

Data Satgas COVID-19 Sulsel pada hari Senin (30/3) pukul 17.05 WITA masih menunjukkan grafik peningkatan kasus positif coronavirus. Jumlahnya kini menjadi 50 orang, hanya bertambah 3 kasus dibanding hari sebelumnya. Rinciannya, 46 orang dalam perawatan intensif sementara 4 sudah meninggal dunia.

Angka ODP kembali membengkak menjadi 620 orang, 37 diantaranya sudah menjalani proses pemantauan. Hal sama juga terjadi pada jumlah warga berstatus PDP yakni 105 orang. Tak ada perubahan jumlah warga yang sudah diizinkan pulang atau meninggal, namun PDP yang masih dirawat oleh beberapa rumah sakit rujukan adalah 96 orang.

Sementara itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulawesi Selatan berencana menyiapkan tempat pemakaman khusus bagi pasien terjangkit COVID-19 yang meninggal dunia.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulsel, Mayjen TNI Andi Sumangerukka menyebutkan, pihaknya telah meminta kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan lokasi lahan pemakaman tersebut.

“Ke depan, sudah ada kebijakan dari Pak Gubernur. Nanti akan disiapkan daerah Sudiang untuk pemakaman yang terindikasi sebagai COVID-19. Di situ nanti akan kita mobilisasi untuk memperketat daerah itu agar siap menerima jenazah atau pemakaman yang akan dilakukan,” kata Sumangerukka pada hari Senin.

Dari Kabupaten Gowa, Pemkab setempat menyiapkan anggaran sebesar Rp500 juta untuk penanganan dan penanggulangan COVID-19. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Gowa, Abdul Karim Dania mengatakan, anggaran disiapkan dari dana tidak terduga.

Selain itu, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan memastikan tidak ada pejabat Pemkab yang melakukan perjalanan dinas dalam satu hingga dua bulan ke depan. Anggarannya bakal dialihkan untuk penanganan COVID-19. Demikian pula dengan rapat-rapat dan kegiatan yang melibatkan banyak orang, bakal ditunda.

"Seperti musyawarah perencanaan pembangunan ini tentu ada uang makan minum rapat, uang sewa gedung. Tetapi nanti akan dilakukan melalui teleconference sehingga tidak ada biaya sewa gedung, tidak ada uang makan dan rapat. Inilah anggarannya yang dialihkan untuk penanganan COVID-19," kata Bupati Adnan dalam keterangan pers yang diterima IDN Times.

Adapun Pemkot Makassar menerbitkan Surat Edaran tertanggal 27 Maret 2020, mengenai antisipasi dan pencegahan penyebaran COVID-19. SE dengan nomor surat 443.01/123/S.Edar/Dishub/III/2020 menerangkan bahwa untuk sementara waktu sampai batas yang belum ditentukan, masyarakat tidak keluar masuk dari dan ke pulau dalam wilayah Kota Makassar.

29 Maret 2020: Kasus positif membengkak ke angka 47, kabar duka dari klaster Gowa dan Makassar

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanIlustrasi petugas menggunakan pakaian astronot. Dok Humas RSUP Dr Sardjito

Juru Bicara Penanganan Virus Corona atau COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto, pada Minggu (29/3) sore menyebut pasien positif coronavirus di Sulsel secara kumulatif menjadi bertambah menjadi 47 orang. Setelah dua hari tanpa lonjakan signifikan, terjadi 14 penambahan kasus dibanding hari sebelumnya. Rinciannya adalah 44 orang masih jalani perawatan intensif, 4 orang meninggal dan belum ada yang dinyatakan sembuh.

Sedangkan menurut data milik Satgas COVID-19 Sulsel pada Minggu pukul 19.36 WITA, angka ODP membengkak ke angka 496 orang. Rinciannya, 37 orang telah selesai dipantau dan 459 lainnya masih dalam proses pemantauan. Hal serupa juga terjadi pada jumlah PDP, jumlahnya naik ke 92 orang. Warga berstatus PDP yang masih dirawat ada 83 orang, 8 dinyatakan sehat, dan satu orang telah meninggal.

Kabar terbaru perihal klaster Gowa datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Satu orang pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona di Kota Minyak meninggal dunia. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi.

Pasien, yang pulang dari sebuah acara keagamaan di Gowa beberapa waktu silam, sempat diisolasi di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan sejak 20 Maret 2020, sebelum meninggal pada Minggu (29/3) sekitar pukul 12.00 WITA. Rizal menuturkan pasien tersebut dimakamkan di Balikpapan.

Kabar duka juga datang dari Makassar. Seorang PDP yang sempat dirawat di ruang isolasi RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, meninggal dunia pada Minggu (29/3) dinihari pukul 02.50 WITA. Mendiang adalah seorang laki-laki berusia 52 tahun penduduk Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Camat Somba Opu, Agussalim, menyampaikan bahwa jenazah pasien tersebut telah dimakamkan di Pekuburan Sudiang Makassar pada Minggu pagi. Ternyata, rencana mendiang dimakamkan di Pemakaman Umum Baki Nipa Nipa Antang Kota Makassar ditentang oleh warga setempat.

Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, meminta masyarakat tidak takut, panik serta tidak menolak jika ada pasien COVID-19 yang meninggal dunia. Adnan menjelaskan, proses pemakaman yang dilakukan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan Kemenkes sehingga benar-benar aman.

"Masyarakat perlu diedukasi bahwa pemakaman memakai SOP. Insya Allah tidak apa-apa. Mohon agar masyarakat tidak menolak jika ada pemakaman yang meninggal akibat virus ini. Kita sadar penyebaran Corona cepat tapi semua bisa tertangani dengan baik jika kita semua mengambil peran untuk memutus mata rantainya. Tidak dengan menolak dan mengusir mereka yang masuk daftar ODP, PDP dan keluarganya," ujar Adnan dalam rilis berita yang diterima IDN Times.

28 Maret 2020: Kasus positif bertambah menjadi 33 orang, Kepala Satgas COVID-19 Sulsel baru jabarkan strategi

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanPeninjauan ruang isolasi di RSUD Sayang Rakyat Makassar oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Jumat (27/3). Pemprov Sulsel

Tak ada lonjakan mencolok jumlah pasien positif COVID-19 di Sulawesi Selatan. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulsel di hari Sabtu (28/3) pukul 17.36 WITA menyatakan Sulsel memiliki 33 kasus, naik sebanyak 4 orang dibanding hari sebelumnya. Rinciannya adalah 29 orang sedang menjalani perawatan, dengan 4 pasien sudah meninggal.

Dengan pasien positif sebanyak 33 orang, kini Sulawesi Selatan menjadi provinsi di luar Pulau Jawa dengan kasus terbanyak.

Jumlah ODP kembali menanjak menjadi 365 orang. Namun, tak ada penambahan ODP yang telah selesai menjalani pemantauan. Jumlahnya masih berada di angka 36, di saat orang masih dalam proses pemantauan meningkat menjadi 329 orang.

Total warga yang berstatus PDP pun naik sebanyak 5 orang, sehingga jumlahnya menjadi 80 orang. Sebanyak 72 orang masih dirawat, sedang jumlah pasien yang sudah sehat dan diizinkan pulang masih bergeming di angka 8.

Daftar pejabat publik Sulsel yang dinyatakan terinfeksi coronavirus kembali bertambah. Dia adalah Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar, Baitul Ikhwan. Sebelumnya sudah ada mantan Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Idrus Paturusi dan Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichsan Mustari.

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulsel yang baru yakni Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Andi Sumangerukka, langsung membeberkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah rencana mendatangkan dua unit pesawat nirawak (drone) sebagai alat deteksi suhu tubuh warga.

"Daerah-daerah yang kita indikasi terutama tempat masyarakat berkumpul apakah itu di pasar, pelabuhan. Nanti drone itu mengidentifikasi siapa masyarakat yang dicurigai atau perlu diambil langkah-langkah," ungkapnya dalam sesi teleconference.

27 Maret 2020: Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ichsan Mustari, dinyatakan positif terinfeksi COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanKepala Dinas Kesehatan Sulsel Ichsan Mustari. IDN Times/Asrhawi Muin

Tidak ada penambahan signifikan untuk angka penderita coronavirus di Sulsel pada hari Jumat (27/3). Hanya ada dua penambahan kasus, dengan total 29 kasus positif. Data situs Sulsel Tanggap COVID-19 milik Pemprov Sulsel pada Jumat pukul 21:35 WITA, masih belum ada pasien yang dinyatakan sembuh dan ada 4 orang meninggal dunia.

Peningkatan drastis terjadi pada jumlah orang dalam pemantauan (ODP). Sebelumnya jumlah ODP hanya155 orang kini sudah berjumlah 343 orang. Rinciannya, adalah 307 orang dalam pemantauan dan 36 orang selesai pemantauan.

Angka pasien dalam pengawasan (PDP) meningkat tak terlalu tajam, yakni dari 64 orang pada hari Kamis (26/3) menjadi 75 orang, dengan rincian 67 orang masih dirawat dan 8 orang telah diizinkan pulang.

Namun, kabar mengejutkan justru datang dari lingkungan Pemprov Sulsel. Kepada Dinas Kesehatan Sulsel yakni Ichsan Mustari mengumumkan bahwa dirinya positif terinfeksi COVID-19. Kendati demikian, dia mengaku tak mengalami satupun gejala yakni demam, batuk maupun sesak napas.

"Berdasarkan pemeriksaan PCR atau polymerase chain reaction untuk diagnosis COVID-19, diri saya hasilnya positif," ungkap Ichsan dalam sebuah video berdurasi 2 menit 30 detik. Lantaran tanpa gejala, ia kini diminta menjalani karantina secara mandiri di kediamannya.

Ichsan turut meminta agar keluarga, kerabat dan staf kantor yang sempat melakukan kontak fisik dengannya selama beberapa terakhir untuk segera melakukan physical distancing. "Jika dalam masa waktu 14 hari seandainya timbul gejala-gejala, maka sebaiknya para sahabat-sahabat sekalian melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat," lanjutnya.

Di sisi lain, Pemprov Sulawesi Selatan mulai menyiapkan ruang isolasi di RSUD Sayang Rakyat di Kecamatan Biringkanaya sebagai salah satu RS rujukan kasus COVID-19. Sebuah ruangan dengan 118 tempat tidur ini rencananya akan direnovasi sesuai standar.

Proses renovasinya menelan dana sebesar Rp14 miliar, sedang anggaran untuk alat kesehatan adalah Rp11 miliar.

26 Maret 2020: Angka positif melonjak tajam seiring beroperasinya tiga laboratorium di Makassar

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanIlustrasi penanganan pasien virus corona. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Beroperasinya tiga laboratorium penguji sampel di Makassar –sekaligus bertindak sebagai lab utama untuk wilayah Indonesia timur-- membuat jumlah pasien positif mulai meningkat secara pesat. Pada hari Kamis (26/3), data pemerintah kembali diperbaharui.

Jumlah pasien positif di Sulawesi Selatan kembali melonjak drastis. Dari 13 orang menjadi 27 kasus, sekaligus menjadikan Sulsel sebagai provinsi dengan kasus terbanyak keenam se-nasional. Rinciannya, kasus aktif sebanyak 24 orang dan pasien meninggal mencapai 3 orang.

Dari data Satgas COVID-19 Sulsel pada Kamis pukul 21.46 WITA, jumlah ODP kembali melonjak menjadi 208 orang. Sebanyak 172 orang dalam proses pemantauan, sedang 36 lainnya sudah selesai dipantau. Ada 81 warga berstatus PDP, dengan 8 orang sudah mendapat izin pulang.

Kepada Dinas Kesehatan Sulsel, Ichsan Mustari, menjelaskan bahwa pola transmisi sebagian besar kasus positif terbaru bukan imported case atau penularan dari luar negeri melainkan dari local transmission atau penularan secara lokal. Ichsan pun meminta masyarakat agar benar-benar menjaga physical distancing.

"Minimal kita tidak menjabat tangan. Kalau pun ingin bersentuham pastikan tangan itu dicuci dulu, apalagi kalau mau bersentuhan meski dalam rumah," ungkapnya.

Adapun Pj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb mengatakan bahwa Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kesehatan tengah mengamati 670 orang hasil tracing atau penelusuran. Ada tiga klaster utama sumber penyebaran virus Corona mulai dari klaster umrah, klaster sebuah pertemuan di Bogor dan klaster ijtima di Gowa sebagai antisipasi.

Lebih rinci, sudah ada data dari 4 perusahaan travel yang sudah dikantongi. Sedang 3 sisanya masih sulit dihubungi. "Baru 4 travel di mana ada 68 warga Makassar yang ikut dalam keberangkatan travel tersebut dan sementara ini dalam pengamatan," kata Iqbal dalam sesi teleconference pada Kamis malam.

Pada hari yang sama, seorang balita PDP berusia tiga tahun asal Kabupaten Bulukumba meninggal di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan balita tersebut negatif COVID-19. Namun sang ibu kini menjadi suspect karena mengalami gejala seperti demam, batuk, dan susah bernapas.

25 Maret 2020: Kasus positif jadi 13 orang termasuk mantan Rektor Unhas, tiga laboratorium beroperasi di Makassar

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanANTARA FOTO/Arnas Padda

Jumlah pasien positif COVID-19 di Sulsel meroket pada hari Rabu (25/3). Data yang dihimpun pemerintah menyebut ada penambahan 9 kasus, sehingga seluruhnya menjadi 13 orang. Rinciannya, 12 orang jalani perawatan intensif serta 1 orang sudah meninggal (Kasus 285).

Data Satgas COVID-19 Sulsel pada Rabu pukul 23.26 WITA menyebut jumlah ODP naik menjadi 158 orang, dengan 122 di antaranya berada dalam proses pemantauan. Adapun pasien berstatus PDP juga naik ke 89 orang, dengan 81 pasien sedang menjalani perawatan intensif di ruang isolasi.

Seluruh 9 pasien positif baru berada di tiga RS berbeda, Ada di RSUD Wahidin Sudirohusodo (5 orang), RS Universitas Hasanuddin (1 orang) dan RS Siloam Makassar (3 orang). Dan dari 12 kasus aktif di Sulsel, sebanyak 11 orang dirawat di Makassar dengan 1 lainnya di Parepare.

Lebih jauh, tiga laboratorium pemeriksaan di Sulsel telah berfungsi pada hari Selasa (24/3) yakni milik Universitas Hasanuddin, RSUD Wahidin Sudirohusodo dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Kemenkes.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ichsan Mustari, menyebut tim medis bisa bekerja lebih cepat berkat beroperasinya tiga laboratorium di Makassar. "Dengan bertambahnya jumlah ini tentu berkat adanya hasil pemeriksaan di laboratorium dan tidak menunggu lama seperti sebelumnya," ungkapnya dalam sesi teleconference pada Rabu malam.

Saat menyoal upaya tracing, Dinas Kesehatan disebut masih terus melakukan pelacakan. "Kita melihat angka ODP dan PDP saat ini yang semakin bertambah itulah bagian yang sebenarnya hasil dari tracing yang kita lakukan. Tentu tracing kita akan lebih ditingkatkan," ungkap Ichsan.

Kabar lain datang dari sivitas akademik Universitas Hasanuddin. Prof. Idrus Paturusi, Rektor Unhas periode 2006-2014 dinyatakan positif tertular COVID-19. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh sang anak, Idrianti Idrus Paturusi, lewat media sosial pada Rabu sore. Saat ini, Prof. Idrus sudah berada di ruang isolasi Rumah Sakit Universitas Hasanuddin.

24 Maret 2020 : Kasus positif jadi empat orang, satu PDP meninggal

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanIlustrasi petugas medis berada di dalam ruangan Respiratory Intensive Care Unit. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Dalam konferensi pers pada Selasa (24/3) sore, Achmad Yuniarto selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 menyebut bahwa ada dua pasien positif baru di Sulawesi Selatan. Dengan ini, jumlah totalnya menjadi empat orang, termasuk pasien Kasus 285 yang sudah meninggal pada 15 Maret silam.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ichsan Mustari, menyebut tiga pasien positif saat ini terpantau stabil dalam ruang isolasi. "Keadaan pasien hari ini dalam keadaan baik. Tapi masih sementara dirawat," ujar Ichsan dalam konferensi pers yang diadakan melalui aplikasi pertemuan jarak jauh juga pada Selasa sore.

Data Satgas COVID-19 Sulsel pada Selasa (24/3) pukul 18.21 WITA menunjukkan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) kembali meroket. Angka ODP menanjak dari 115 menjadi 149 orang, dengan rincian 36 telah selesai dipantau serta 113 masih dalam proses pemantauan. Sementara angka PDP naik dari 29 ke angka 59 jiwa. Sebanyak 46 orang PDP masih jalani perawatan intensif.

Sementara itu, seorang PDP COVID-19 meninggal di Rumah Sakit Grestelina Makassar pada Senin (23/3) malam. Menurut Penjabat Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb, pasien laki-laki berusia 55 tahun dan memiliki riwayat perjalanan umrah beberapa pekan yang lalu. Lebih jauh, pemerintah kesulitan mendapat data rombongan umrah yang lain beserta alamat masing-masing jemaah sehingga upaya tracing masih buntu.

"Jika kami bisa dapatkan, tentu lebih mudah petugas kami untuk tracing satu per satu semua yang satu pesawat,” ujar Iqbal. Ini adalah kematian ketiga terkait virus Corona. Sebelumnya sudah ada Kasus 285 dan perempuan berusia 60 tahun berstatus ODP yang meninggal di RSUD Haji Makassar pada Sabtu tanggal 21 Maret.

23 Maret 2020: Terjadi penambahan pada jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP)

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanIlustrasi (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Jumlah pasien positif pada hari Senin (23/3) pukul 20:34 WITA masih bergeming di angka dua. Namun, jumlah ODP hasil surveilans meningkat menjadi 115 orang, 94 di antaranya masih dalam proses pemantauan dari tenaga medis. Peningkatan juga terjadi pada jumlah PDP, di mana angkanya menanjak ke 29 orang. Sebanyak 22 PDP masih dirawat secara intensif dalam ruang isolasi milik sejumlah rumah sakit rujukan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Wilayah Sulawesi Selatan mempersiapkan sekitar 100 ribu tenaga tambahan yang rencananya akan disebar ke tujuh rumah sakit rujukan penanganan COVID-19. Menurut Ketua PPNI Sulsel yakni Abdul Rakhmat, ada kurang lebih 100 ribu perawat yang tercatat dalam keanggotaan PPNI Sulsel. Sebanyak 60% di antaranya berpotensi menjadi relawan.

"Baru hari ini kita buat SK Wilayah Sulsel. Kemungkinan memang akan dibutuhkan beberapa relawan (perawat) di beberapa wilayah. Karena kita lihat kondisinya memang penyakit ini semakin lama semakin berkembang," ujar Rakhmat.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Sulsel mulai melakukan pengadaan Alat Pelindung Diri secara bertahap. Bantuan dari Kementerian Kesehatan sudah tiba, namun difokuskan ke RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk sementara mengingat RS tersebut menangani ODP dan PDP paling banyak.

22 Maret 2020: Tak ada penambahan kasus positif, namun seorang ODP meninggal dunia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanANTARA FOTO/Arnas Padda

Tak ada tambahan jumlah pasien positif COVID-19 di Sulawesi Selatan pada hari Minggu (22/3). Masih ada dua kasus dalam data milik pemerintah yakni Kasus 285 (meninggal pada hari Minggu 15 Maret) dan Kasus 286 yang sudah jalani perawatan intensif lebih dari sepekan di ruang isolasi RSU Wahidin Sudirohusodo.

Kendati demikian, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) rupanya meningkat. Ada 95 orang berstatus ODP, atau bertambah 45 dibanding data sehari sebelumnya. Sebanyak 83 orang masih dalam proses pemantauan, sementara 12 sisanya sudah selesai jalani pemantauan.

Angka Pasien Dalam Pengawasan (PDP) hanya bertambah satu, sehingga jumlahnya mencapai 28 orang. Jumlah PDP yang dirawat masih ada 21 orang. Berita bagusnya, satu orang PDP dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang. Jumlah PDP dengan kondisi stabil bertambah jadi 7 orang.

Kabar lain datang dari RSUD Haji Makassar. Satu orang berstatus ODP meninggal dunia pada Sabtu (21/3) pagi setelah dirawat selama empat hari. Koordinator Lapangan Tim COVID-19 RSUD Haji Makassar, Sahruna Madjid, menyebut ODP yang meninggal dunia diketahui tak pernah melakukan kontak dengan pasien positif atau melakukan perjalanan keluar daerah.

Namun untuk memastikan apakah pasien berstatus positif atau negatif, kewenangan diserahkan pada pihak Dinkes. "Iya, kan tidak sempat lakukan uji swab kemudian meninggal. Jadi kita serahkan ke surveilans dari Dinas Kesehatan provinsi. Nanti mereka yang lakukan pengecekan," ujar Sahruna.

21 Maret 2020: Ada 50 warga masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP)

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanIlustrasi (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Data covid19.sulselprov.go.id menunjukkan, hingga Sabtu (21/3) pukul 14.24 Wita tidak ada penambahan pasien positif COVID-19 di Sulsel. Sejauh ini ada dua kasus positif, masing-masing satu meninggal dan satu dirawat. Data kasus terkonfirmasi COVID-19 adalah yang telah diumumkan secara resmi oleh Kementerian Kesehatan.

Di saat yang sama, data menunjukkan sejauh ini ada 50 orang masuk daftar orang dalam pemantauan (ODP). Sepuluh orang sudah selesai dipantau, 40 lainnya masih dalam proses. Pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 27 orang, dengan rincian 21 orang masih dirawat, dan enam orang sudah pulang dengan sehat.

20 Maret 2020: Pemkot Makassar umumkan 5 kasus ODP dan 9 pasien berstatus PDP

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanPj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb saat konferensi pers di Kantor Dinas Kesehatan Makassar, Jumat (29/3). IDN Times/Istimewa

Pj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb pada hari Jumat (20/3) mengumumkan ada 68 orang di daerahnya yang berada dalam pengawasan terkait COVID-19. Semuanya adalah warga yang pernah melakukan kontak langsung dengan Kasus 285 yang sudah meninggal beberapa hari sebelumnya.

Selain 68 orang, ada juga 5 kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan 9 lainnya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Salah satu Orang Dalam Pengamatan (ODP) adalah suami dari mendiang Kasus 285 lantaran telah mengalami gejala-gejala mirip COVID-19. Tracing Kasus 285 melebar ke rekan-rekan Kasus 285 yang masuk dalam rombongan umrah.

"Belum ada gejala-gejalanya. Tapi semua itu kami tracing satu per satu. Datanya kami dapatkan. Oleh karena itu tugas kita melakukan tracing langsug kepada masing-masing rombongan travel tersebut," ujar Iqbal.

19 Maret 2020: Gubernur Nurdin Abdullah umumkan dua kasus COVID-19 pertama di Sulawesi Selatan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Kasus Virus Corona di Sulawesi SelatanGubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat melakukan konferensi pers di kediaman pribadinya, Kamis (19/3). IDN Times/Asrhawi Muin

Dalam jumpa pers di kediaman pribadinya di Makassar pada Kamis (19/3) malam, Gubernur Nurdin Abdullah menjelaskan bahwa Kasus 285 dan Kasus 286 mendapat perawatan intensif di ruang isolasi selama beberapa hari.

Namun, pasien Kasus 285 yang baru pulang melaksanakan ibadah umrah sudah meninggal dunia pada hari Minggu (15/9). "Pasien sudah meninggal, tapi baru hari ini kita mendapatkan informasi bahwa pasien tersebut positif Corona," ucap Nurdin.

Sementara itu, Kasus 286 dirawat setelah sempat mengeluhkan demam dan batuk yang tak kunjung sembuh. Kondisinya kian membaik setelah jalani perawatan selama sepekan lebih.

Baca Juga: Satu Warga Sulsel Baru Ketahuan Positif Corona setelah Meninggal Dunia

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Aan Pranata
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya