Udara Sulsel Terdampak Kiriman Polusi, Gubernur Imbau Warga Waspada

- Langit Makassar tampak kelabu dan beraroma asap; Gubernur Andi Sudirman menyebut kualitas udara Sulsel terdampak kiriman polusi dari arah timur maupun barat.
- Gubernur mengimbau warga, khususnya pengemudi ojol dan pekerja lapangan, menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi kualitas udara yang terpantau.
- DLHK mengindikasikan asap terkait karhutla dan pergerakan angin dari Kalimantan; BMKG mencatat PM2,5 Maros-Makassar berkategori sedang hingga kurang sehat, terutama dini hari sampai pagi.
Makassar, IDN Times - Langit di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), belakangan ini tampak sedikit berkabut. Warnanya tidak secerah biasanya.Beberapa hari terakhir, warna langit tampak lebih kelabu alih-alih warna biru cerah dan berawan.
Di tengah kondisi tersebut, kualitas udara juga menjadi perhatian karena terdapat indikasi polusi yang terbawa dari wilayah lain. Dari pantauan IDN Times, udara di Makassar terasa seperti aroma asap.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengimbau masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan untuk menyesuaikan kegiatannya dengan kondisi kualitas udara. Sudirman mengatakan kondisi udara di Sulsel saat ini terdampak kiriman polusi dari wilayah lain, baik dari arah timur maupun barat.
"Bukan cukup buruk, tapi dia kondisinya adalah kondisi yang ditetapkan bahwa ada polusi ya, terdampak kiriman polusi baik dari timur maupun dari barat," kata Andi Sudirman, Senin (5/10/2026).
1. Gubernur minta warga menyesuaikan aktivitas di luar ruangan

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman. IDN Times/Asrhawi Muin Sudirman meminta masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan untuk memperhatikan kondisi lingkungan sebelum menjalankan kegiatannya. Menurutnya, penyesuaian aktivitas penting diterapkan, terutama bagi masyarakat yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan.
"Sehingga kita harus menyesuaikan ketika ada pekerjaan kami imbau, masyarakat yang aktivitasnya lebih banyak di luar," katanya.
Kelompok yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan, seperti pengemudi ojol dan pekerja lapangan, menjadi perhatian pemerintah. Sudirman meminta mereka menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara yang ada.
"Terutama yang mungkin berkendara seperti teman-teman dari driver ojol ataupun kemudian pekerja bangunan, proyek dan sebagainya untuk senantiasa kemudian mungkin bagaimana mengkondisikan, menyesuaikannya," kata Sudirman.
Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih rentan terdampak ketika konsentrasi partikulat di udara meningkat. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi udara saat menjalankan aktivitas.
2. DLHK Sulsel temukan indikasi kiriman asap

Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulsel, Kasman, membenarkan adanya indikasi kiriman asap dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut diduga turut memengaruhi kualitas udara di Sulsel.
"Kalau kualitas udara memang kalau kita lihat beberapa hari terakhir, itu terindikasi memang ada kiriman asap dari daerah," kata Kasman.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari masih terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
"Karena sebagaimana kita lihat bersama, karena kan di beberapa wilayah di Indonesia kan masih terjadi karhutlah juga. Sehingga mungkin berpengaruh dengan kondisi udara yang ada di Sulawesi Selatan," katanya.
Kasman mengatakan pantauan citra juga menunjukkan adanya kemungkinan pergerakan asap menuju Sulsel. Salah satu kemungkinan jalurnya berasal dari Kalimantan yang terbawa angin menuju Sulawesi.
"Karena kalau melihat pantauan citra juga seperti itu, mungkin ada arah angin yang mungkin dari Kalimantan ke Sulawesi, sehingga mungkin itu yang menyebabkan kondisi di wilayah Sulawesi agak berkabut sedikit," katanya.
3. BMKG pantau PM2,5 Maros dan sekitarnya

Kantor Balai BMKG Wilayah IV Makassar. (IDN Times/Asrhawi Muin) Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idris, mengatakan hasil pengamatan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir menunjukkan indikator PM2,5 di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, berada pada kategori sedang hingga kurang sehat.
"Jadi, beberapa hari terakhir ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5, Maros dan sekitarnya termasuk Makassar itu masuk dalam kategori kurang sehat ya, kurang sehat hingga sedang," kata Asriani.
Menurutnya, kondisi kurang sehat lebih sering terjadi pada tengah malam hingga pagi hari. Pada pengamatan Senin, kondisi tersebut masih terpantau hingga sekitar pukul 11.00 WITA dan mulai kembali normal sekitar tengah hari.
"Yang tingginya itu yang kurang sehatnya itu biasanya terjadi pada dini hari, tengah malam hingga pagi hari," katanya.
Asriani menjelaskan kondisi panas yang dirasakan masyarakat juga berkaitan dengan musim kemarau yang masih berlangsung di Sulsel. Suhu udara saat ini berada pada kisaran 30 hingga 35 derajat Celsius.
Namun, menurutnya, suhu yang terasa panas berbeda dengan suhu udara yang diukur menggunakan termometer. BMKG memiliki indikator suhu udara terasa panas yang memperhitungkan sejumlah parameter cuaca.
"Karena ini adalah kombinasi, dia menggunakan kombinasi perhitungan beberapa parameter cuaca, yaitu arah angin, suhu udara, kelembaban udara, sama radiasi," katanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















