Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Udara Buruk, WALH Sulsel Desak Prabowo Hentikan Karhutla di Kalimantan
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
  • WALHI Sulsel mendesak Presiden Prabowo segera mengendalikan karhutla di Kalimantan, yang dinilai berpotensi memperburuk udara Sulsel dan mengancam kesehatan masyarakat.
  • WALHI menilai penanganan karhutla lambat karena dilakukan setelah meluas, serta meminta pencegahan, pemulihan hutan dan hak warga terdampak, serta penindakan pihak bertanggung jawab.
  • BMKG mencatat PM2,5 di Maros mencapai 65 µg/m³ pada Senin pagi, kategori tidak sehat; asap berpotensi berasal dari kebakaran lokal Sulawesi maupun kiriman luar daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. WALHI menilai kebakaran tersebut berpotensi berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara di Sulsel dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Departemen Eksternal WALHI Sulsel, Rahmat Kottir, mengatakan pemerintah pusat perlu mengambil langkah serius untuk mengendalikan karhutla. Selain berdampak terhadap lingkungan, asap kebakaran juga dikhawatirkan mengancam kesehatan masyarakat.

"Sebagai kepala negara, kami mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk segera memadamkan Karhutla di Kalimantan, sebab kebakaran tersebut berimbas pada kondisi udara yang semakin buruk di Sulawesi Selatan, hal itu juga akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat," kata Rahmat dalam siaran persnya.

1. WALHI nilai penanganan karhutla masih lambat

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Rahmat menilai pengendalian karhutla selama ini cenderung lambat karena penanganan baru dimulai ketika kebakaran meluas. Menurutnya, pemerintah seharusnya mengutamakan upaya pencegahan dengan mengevaluasi penanganan kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya.

"Seharusnya pemerintah mencegah agar tidak terjadi kebakaran, pemerintah harus mengambil pelajaran tahun-tahun sebelumnya, namun yang terjadi saat ini justru lebih parah, itu artinya pemerintah tidak serius mencegah karhutla," katanya. 

2. Minta pemerintah pulihkan hutan dan hak masyarakat

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

WALHI Sulsel juga meminta pemerintah melibatkan berbagai pihak dan mengerahkan sumber daya yang diperlukan untuk menangani kebakaran. Upaya tersebut, menurut Rahmat, perlu mencakup pemulihan kawasan hutan dan pemenuhan hak masyarakat yang terdampak.

Selain itu, dia mendesak pemerintah menindak tegas pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, kondisi karhutla saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.

"Jadi kami minta keseriusan Prabowo Subianto untuk segera mengkonsolidasikan bersama semua pihak dalam menghentikan kebakaran hutan, memulihkan hutan serta memulihkan hak-hak rakyat yang terdampak," katanya. 

3. Kualitas udara Makassar masih tidak sehat

Kondisi langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tampak kelabu dan berkabut pada Sabtu (10/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Sementara itu, kualitas udara di Makassar dan sekitarnya masih perlu diwaspadai pada Senin (12/10/2026). Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 sebesar 65 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 07.00 WITA. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

PM2,5 merupakan partikel pencemar udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel ini berisiko menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Berdasarkan grafik pemantauan BMKG, konsentrasi PM2,5 di Maros sempat berada pada kategori sedang sebelum kembali meningkat menjadi 65 µg/m³ pada Senin pagi. Angka tersebut sekitar 4,3 kali lipat dari pedoman batas rata-rata harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 µg/m³.

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan mengurangi kegiatan fisik di luar ruangan. Warga juga disarankan menutup jendela dan pintu rumah untuk mengurangi masuknya polutan dari luar.

4. BMKG sebut karhutla lokal juga berpotensi menyumbang asap

(Ilustrasi Karhutla) IDN Times/istimewa

Sebelumnya, Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara di Makassar dan sekitarnya berpotensi dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi sendiri. Selain itu, asap yang terbawa angin dari luar Sulawesi juga berpotensi berkontribusi.

"Jadi, selain ada potensi dari kiriman asap dari luar daerah Sulawesi, dari Sulawesi-nya sendiri juga berpotensi untuk memberikan kontribusi atau sumbangsih asap di wilayah Makassar dan sekitarnya," kata Rizky.

Rizky menjelaskan konsentrasi PM2,5 meningkat sejak Jumat (9/10/2026) malam setelah sebelumnya sempat turun ke kategori sedang. Konsentrasi tersebut kembali melampaui 55 µg/m³ dan bertahan pada kategori tidak sehat hingga Sabtu (10/10/2026) siang.

Menurutnya, kondisi kualitas udara dalam beberapa hari ke depan bergantung pada penanganan sumber kebakaran, curah hujan, dan arah angin. Jika sumber kebakaran belum terkendali dan hujan belum turun, maka kualitas udara yang buruk berpotensi bertahan selama beberapa hari.

Perubahan arah angin juga memengaruhi pergerakan asap dan konsentrasi PM2,5 di Sulawesi Selatan. Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi kualitas udara dan mengikuti anjuran kesehatan dari instansi terkait.

Curated For You

Editorial Team

Related Article