Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setahun Berjalan, Gus Ipul Ungkap Siswa Sekolah Rakyat Kini Percaya Diri
Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)
  • Setelah setahun pendampingan, siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya mengalami putus sekolah dan keterbatasan akses pendidikan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, kesehatan, serta semangat menatap masa depan.

  • Pada awal program, Kemensos menemukan sebagian siswa SMP dan SMA belum bisa membaca, memiliki masalah kesehatan, atau belum pernah sekolah; mereka mendapat edukasi, rehabilitasi, dan pendampingan.

  • Lebih dari 44 ribu anak telah belajar di 93 Sekolah Rakyat yang beroperasi, sementara program ini menggabungkan pendidikan anak dengan pemberdayaan ekonomi dan bantuan sosial bagi keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan perubahan yang dialami siswa Sekolah Rakyat setelah setahun mengikuti pendidikan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu itu disebut lebih percaya diri, lebih sehat, dan mulai berani menatap masa depan.

Perubahan tersebut terlihat dalam penampilan siswa berupa tarian, dongeng, hingga drama musikal pada peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). Menurut Gus Ipul, perkembangan itu menjadi gambaran hasil pendampingan terhadap anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan berbagai persoalan sosial.

“Setelah satu tahun dilakukan pendampingan, mereka sudah lebih percaya diri menatap masa depannya, kemudian lebih sehat, lebih bugar, orang tuanya juga lebih semangat untuk mendampingi siswa-siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.

Ia mengungkapkan, sebagian siswa yang dijangkau melalui program tersebut sebelumnya tidak pernah bersekolah. Ada pula anak yang putus sekolah selama dua tahun, bekerja sebagai pembantu dan kuli, hingga mengamen di jalanan.

“Semua ini adalah anak-anak bangsa yang menurut Bapak Presiden harus mendapatkan akses untuk memperoleh pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas,” ujarnya.

1. Di masa awal, siswa SMP dan SMA ada yang belum bisa membaca

Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

Gus Ipul menjelaskan, kondisi anak-anak saat pertama kali masuk Sekolah Rakyat sangat beragam. Sejumlah siswa memiliki masalah kesehatan, seperti gangguan gigi dan anemia. Selain itu, sebagian anak membutuhkan pendampingan untuk membangun kembali semangat belajar.

Kementerian Sosial (Kemensos) bahkan menemukan siswa yang telah duduk di kelas satu SMP maupun SMA, tetapi belum bisa membaca. Ada pula anak berusia 17 hingga 18 tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Menurut Gus Ipul, kondisi tersebut membuat sebagian siswa membutuhkan pemulihan dan pendampingan sebelum mengikuti pembelajaran secara penuh.

“Data-data yang kami miliki memang anak-anak ini memerlukan di samping edukasi juga rehabilitasi. Jadi ada sebagian anak-anak siswa Sekolah Rakyat yang memiliki masalah-masalah tertentu yang harus dilakukan pemulihan terlebih dahulu,” jelasnya.

Ia menilai, pendampingan dari kepala sekolah, guru, wali asrama, dan wali asuh menjadi bagian penting dalam proses pemulihan tersebut. Pemerintah daerah juga diharapkan aktif mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat agar kebutuhan siswa dapat terpenuhi.

2. Sebanyak 93 titik Sekolah Rakyat sudah beroperasi

Sekolah Rakyat di Jalan Pajjaiang, Makassar, Jumat (7/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Kemensos mencatat lebih dari 44 ribu anak telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat. Sementara itu, lebih dari seribu anak lainnya masih menjalani proses rehabilitasi di sentra-sentra Kemensos.

Pemerintah menargetkan alokasi pendidikan bagi 45 ribu siswa pada 2026. Dari sisi pembangunan, terdapat 100 titik Sekolah Rakyat yang sedang dalam proses pembangunan. Hingga 28 Oktober 2026, sebanyak 93 titik di antaranya telah beroperasi.

Pemerintah berencana melanjutkan pembangunan Sekolah Rakyat pada tahun berikutnya. Presiden Prabowo Subianto menargetkan setiap kabupaten dan kota memiliki setidaknya satu gedung permanen untuk mendukung penyelenggaraan program tersebut.

“Targetnya Bapak Presiden setiap kabupaten/kota memiliki sekurang-kurangnya satu gedung permanen Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.

3. Sekolah Rakyat bagian pengentasan kemiskinan

Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus Hari Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

Gus Ipul menegaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini juga menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan yang mengintegrasikan kebutuhan anak dan pemberdayaan keluarga.

Melalui pendekatan tersebut, siswa memperoleh akses pendidikan, sementara orang tua mereka didorong mendapatkan pemberdayaan ekonomi dan bantuan sosial sesuai kebutuhan. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya menyasar anak, tetapi juga kondisi keluarga yang memengaruhi keberlangsungan pendidikan mereka.

Keluarga siswa juga dapat memperoleh bantuan iuran jaminan kesehatan melalui Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Selain itu, tersedia bantuan perbaikan rumah agar keluarga dapat menempati hunian yang lebih layak sesuai ketentuan program.

“Jadi ini pendekatannya utuh sebagai model pengentasan kemiskinan yang terpadu,” tuturnya.

Gus Ipul menambahkan, pemerintah terus membenahi kurikulum, tata kelola, metode pengajaran, serta sarana dan prasarana Sekolah Rakyat. Pembenahan tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article