Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Gaya Parenting: Mau Bikin Anak Nurut Atau Bikin Anak Takut?
Anak sedang belajar (Pexels.com/ Annushka Ahuja)

Setiap orang tua pasti pengin anaknya tumbuh jadi pribadi yang baik, patuh, dan punya masa depan cerah. Tapi sayangnya, gak semua orang tua sadar bahwa cara mereka dalam mendidik anak, alias gaya parenting, punya pengaruh besar banget terhadap bagaimana anak tumbuh dan berkembang. Ada yang bikin anak jadi percaya diri dan nyaman, tapi ada juga yang tanpa sadar malah bikin anak tumbuh dengan ketakutan dan luka batin yang susah disembuhin.

Nah, gaya parenting itu sebenarnya ada beberapa tipe, dan tiap tipe punya dampaknya sendiri buat anak. Penting banget buat para orang tua (atau calon orang tua) tahu perbedaan ini, biar gak salah kaprah. Karena anak yang kelihatan patuh belum tentu beneran nurut karena sadar, bisa jadi dia cuma takut

1. Otoriter: anak nurut karena takut, bukan karena mengerti konsekuensi

Ilustrasi ibu dan anak (Pexels.com/Mikhail Nilov)

Gaya parenting otoriter ini biasanya penuh aturan dan tuntutan, tapi minim kasih sayang dan komunikasi dua arah. Orang tua otoriter sering banget bilang, “Pokoknya nurut aja!” tanpa ngasih ruang buat anak bertanya atau mengungkapkan pendapat. Akibatnya, anak memang bisa terlihat nurut, tapi sebenarnya mereka nurut karena takut. Mereka gak berani beda pendapat karena khawatir dimarahi atau dihukum.

Dalam jangka panjang, anak-anak dari pola asuh ini bisa tumbuh jadi pribadi yang gak percaya diri, gampang cemas, dan susah ambil keputusan sendiri. Mereka terbiasa diarahkan terus-menerus, jadi begitu harus mandiri, mereka kebingungan. Gaya ini juga bikin hubungan anak dan orang tua jadi jauh, karena anak merasa gak bisa jadi diri sendiri di rumah. Anak bukan belajar menghargai aturan, tapi belajar untuk menyembunyikan kesalahan supaya gak dimarahi.

2. Permisif: anak merasa bebas, tapi bingung dengan batasannya

ilustrasi anak kecil (twitter.com/ Bruna Saito)

Kalau yang ini kebalikan dari otoriter. Orang tua permisif cenderung terlalu santai dan jarang banget ngasih aturan tegas. Semua keinginan anak diturutin, biar anak senang dan gak marah. Sekilas terlihat kayak orang tua yang asik dan dekat sama anak, tapi kalau terus-terusan kayak gini, anak jadi bingung mana yang boleh dan mana yang enggak.

Anak yang dibesarkan dengan gaya ini cenderung tumbuh tanpa kedisiplinan. Mereka bisa susah mengatur emosi, kurang menghargai batasan, dan gampang tantrum kalau gak dapet yang mereka mau. Bukannya jadi anak mandiri dan bertanggung jawab, mereka malah bisa tumbuh jadi pribadi yang manja atau sulit beradaptasi. Hubungan antara anak dan orang tua memang mungkin kelihatan dekat, tapi sebenarnya ada ruang dimana anak gak merasa benar-benar diarahkan.

3. Neglektif: anak tumbuh sendiri tanpa arahan dan dukungan

Ilustrasi anak bersedih (Pexels.com/Kindel Media)

Parenting tipe ini sering kali gak kelihatan secara langsung karena terjadi secara diam-diam. Orang tua dengan gaya neglektif biasanya terlalu sibuk dengan urusan sendiri, sehingga jarang memperhatikan kebutuhan emosional dan perkembangan anak. Anak jadi merasa sendirian, diabaikan, dan gak penting. Mereka dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa arahan, batasan, atau kasih sayang yang cukup.

Akibatnya, anak bisa merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan. Mereka tumbuh tanpa rasa aman dan sulit membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak bisa mengalami gangguan emosi atau perilaku karena kekurangan perhatian dan validasi. Gaya ini jelas bukan yang bikin anak nurut, tapi malah ninggalin luka batin yang dalam dan bisa terbawa sampai dewasa.

4. Otoritatif: anak nurut karena paham dan merasa dihargai

Ilustrasi ibu dan anak (Pexels.com/Kamaji Ogino)

Nah, ini dia gaya parenting yang paling seimbang dan paling sehat. Orang tua otoritatif menetapkan aturan yang jelas, tapi tetap hangat, suportif, dan terbuka buat diskusi. Anak diajak ngobrol, didengarkan pendapatnya, dan diberikan penjelasan kenapa sebuah aturan penting untuk dijalani. Hasilnya, anak jadi patuh karena paham, bukan karena takut.

Anak yang dibesarkan dengan gaya ini biasanya punya rasa percaya diri yang kuat, bisa mengatur emosi, dan punya hubungan yang dekat dengan orang tua. Mereka tahu kapan harus disiplin, tapi juga gak takut buat jujur atau terbuka kalau lagi ada masalah. Gaya ini ngajarin anak untuk berpikir kritis, bertanggung jawab, dan punya empati. Jadi bukan cuma bikin anak “nurut”, tapi juga bantu mereka tumbuh jadi pribadi yang sehat secara mental dan emosional.

Mendidik anak bukan cuma soal bikin mereka nurut, tapi gimana caranya biar mereka ngerti dan tumbuh jadi manusia yang baik dan bahagia. Gaya parenting yang kita pilih punya dampak jangka panjang, dan penting banget untuk disadari sejak awal. Semoga setelah baca ini, kamu jadi lebih peka sama pola asuh di sekitar kamu, atau bahkan pola yang kamu alami sendiri. Ingat, anak-anak itu belajar dari cara kita memperlakukan mereka, jadi pastikan kita ngajarin mereka lewat cinta, bukan lewat rasa takut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team