Masjid Cheng Hoo Gowa, Simbol Akulturasi Budaya Muslim Tionghoa

- Masjid Muhammad Cheng Hoo Gowa dibangun oleh komunitas mualaf Tionghoa sebagai simbol persaudaraan dan akulturasi budaya antara Muslim Tionghoa, Bugis-Makassar, serta masyarakat sekitar.
- Arsitekturnya memadukan filosofi Bugis sulapa appa, elemen Timur Tengah, dan bentuk pagoda khas Tionghoa dengan dominasi warna merah, hijau, serta emas yang sarat makna keberuntungan dan kemakmuran.
- Masjid ini aktif mengadakan pengajian, kursus Mandarin, kegiatan Ramadhan, hingga olahraga panahan; terbuka bagi semua kalangan tanpa membedakan latar belakang etnis maupun agama.
Makassar, IDN Times - Di perbatasan Makassar dan Kabupaten Gowa, sebuah masjid menonjol dengan arsitektur yang memadukan budaya Bugis, Tionghoa, dan Timur Tengah. Masjid Muhammad Cheng Hoo, itulah namanya. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan menjadi simbol akulturasi budaya.
Muhammad Yunus, Imam Rawatib sekaligus Ketua Bidang Dakwah Masjid Muhammad Cheng Hoo, menjelaskan bahwa masjid ini lahir dari inisiatif komunitas mualaf Tionghoa. Sebelumnya, mereka mengadakan pengajian dari rumah ke rumah.
"Masjid ini dibangun itu sebagai simbol persaudaraan antara umat muslim Tionghoa dan umat muslim khususnya yang ada di daerah Makassar," kata Yunus saat ditemui di masjid tersebut, Senin (23/2/2026).
Masjid ini tak ubahnya merupakan sarana bagi komunitas mualaf Tionghoa. Masjid ini juga menjadi tempat bagi mereka untuk lebih memperdalam agama yang telah mereka pilih.
"Jadi sebagai tempat untuk wadah belajar bersama warga mualaf Tionghoa yang ada di Makassar dan Gowa," kata Yunus.
1. Sejarah dan filosofi pendirian

Masjid ini mulai dibangun pada 11 November 2011 oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Sulawesi Selatan. Yayasan ini merupakan bagian dari jaringan yang berpusat di Surabaya.
Nama Cheng Hoo diambil dari Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah muslim terkemuka dari Dinasti Ming, Tiongkok. Dia adalah pelaut yang dikenal turut menyebarkan Islam di Nusantara.
"Meskipun beliau tidak pernah sampai di Makassar, tapi itulah yang menjadi kebanggaan muslim Tionghoa," jelas Yunus.
Yang unik, pembangunan masjid ini melibatkan kontribusi tidak hanya dari umat muslim Tionghoa, tetapi juga warga non-muslim, termasuk penganut Konghucu, Buddha, dan Kristen. Hingga kini, paguyuban marga Tionghoa kerap memberikan dukungan tambahan.
"Jadi tidak hanya warga muslimnya saja yang membangun masjid ini," kata Yunus.
2. Arsitektur yang menyatukan tiga budaya

Keunikan masjid ini terlihat dari desainnya yang mengadopsi filosofi Bugis-Makassar sulapa appa atau persegi empat. Sulapa appa merupakan falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar yang melambangkan kesempurnaan alam semesta dan karakter manusia.
Filosofi ini berakar pada empat unsur kosmik yakni angin (langit), air, api, dan tanah. Unsur-unsur tersebut sering divisualisasikan dalam bentuk belah ketupat (walasuji) dan aksara Lontara.
Desain masjid ini memadukan lekukan khas arsitektur Timur Tengah dengan kubah berbentuk pagoda. Pagoda sendiri adalah menara bertingkat dengan atap menjorok keluar, yang biasa dijumpai dalam tradisi arsitektur Buddha di Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang atau Korea.
Kubah atau atap pagoda biasanya berbentuk segi delapan (oktagonal). Dalam budaya Tionghoa, bentuk ini melambangkan keberuntungan, kesempurnaan, dan kemakmuran.
Hal lain yang membuat masjid ini terlihat unik karena warnanya lebih mencolok dibanding masjid pada umumnya. Desainnya didominasi warna merah, hijau, dan emas. Dalam budaya Tionghoa, merah menandakan keberuntungan, hijau untuk kesehatan dan warna emas melambangkan kekayaan.
Bagian interiornya, terlihat bernuansa Timur Tengah, khas masjid pada umumnya. Di lantai satu, terdapat mihrab, mimbar, karpet sajadah, dan ornamen kaligrafi Kufi bertuliskan Allah dan Muhammad. Kemudian, di lantai dua, ada kaca patri pada bagian atap yang menampilkan kaligrafi Arab bertuliskan Allah dan Muhammad.
"Jadi ada Bugis-nya, ada Timur Tengah-nya, dan juga ada Tionghoa-nya. Jadi ada tiga budaya yang diakulturasikan dalam pembangunan masjid ini," kata Yunus.
3. Aktivitas yang menghidupkan masjid

Masjid Cheng Hoo Gowa menyelenggarakan pengajian rutin, kursus bahasa Mandarin, dan kegiatan TPA. Selain itu, masjid juga menyediakan fasilitas untuk panahan dan menembak di lapangan belakang.
"Untuk panahan, masyarakat bisa langsung datang dan menanyakan jadwal latihan. Namanya Laskar Panah Cheng Hoo," jelas Yunus.
Selama Ramadhan, masjid ini menyiapkan takjil untuk berbuka puasa. Jumlahnya berkisar antara 150 hingga 200 porsi setiap harinya.
Yunus menjelaskan bahwa karena tidak ada warga tetap di masjid, maka semua takjil untuk berbuka puasa disiapkan oleh pihak masjid. Dia mengatakan bahwa meskipun sumbangan kadang kurang selama Ramadhan, namun komunitas Muslim Tionghoa tetap dengan mudah memberikan bantuan untuk kegiatan agama.
Yunus menekankan bahwa sumbangan dari umat Muslim Tionghoa selalu dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya disimpan di kas masjid. Dia juga mengatakan bahwa setelah memeluk Islam, umat Muslim Tionghoa sangat totalitas dalam menyalurkan bantuan.
"Mereka tidak pernah hitung-hitungan, bahkan kalau ada keperluan yang mendesak, mereka dengan mudah mengeluarkan bantuan," kata Yunus.
4. Simbol akulturasi dan keterbukaan

Meski masjid ini didirikan oleh komunitas Tionghoa, Masjid Cheng Hoo terbuka untuk semua kalangan. Warga sekitar, tokoh agama, bahkan pengurus non-Tionghoa kini dilibatkan dalam kegiatan masjid.
"Warga Tionghoa itu sudah mewakafkan masjid ini untuk kegiatan pengembangan agama. Jadi mereka tidak membatasi bahwa yang bisa menggunakan ini hanya dari warga Tionghoa saja," kata Yunus.
Awalnya, pengurus masjid ini memang harus berasal dari keturunan Tionghoa. Namun seiring waktu, warga sekitar dan tokoh-tokoh agama di Kabupaten Gowa juga dilibatkan menjadi bagian dari pengurus.
Meski demikian, ketuanya tetap harus orang Tionghoa. Menurut Yunus, hal ini juga menjadi simbol bahwa masjid ini didirikan oleh komunitas mualaf Tionghoa.
"Jadi mereka tidak membatasi siapa saja yang ingin menggunakan masjid ini. Masjid ini juga merangkul warga sekitar yang ada di Masjid Cheng Hoo," katanya.















