Radityo W. Putra Sikado (tengah) selaku eks Pimpinan Cabang Pembantu Bulog Pinrang saat konferensi pers di Makassar, Jumat (25/11/1011). IDN Times/Ashrawi Muin
Radityo mengatakan, dirinya tak langsung mengiyakan tawaran Irfan lantaran merasa tidak sesuai prosedur. Namun pada akhirnya dia tetap memberikan pinjaman beras tersebut dengan melihat potensi keuntungan.
Apalagi, dia juga sedang mengejar target penjualan dari perusahaan. Di sisi lain, pihak CV SMP juga sudah bekerja sama dengan Bulog sebelum dirinya menjabat sebagai Pincab Pembantu di Pinrang, pada September 2021.
Rekanan tersebut juga dikenal memiliki rekam jejak yang baik dalam hal penjualan, penyerapan, maupun pengadaan beras. Namun dia mengaku termakan bujuk rayu dari pihak CV SMP.
"Kami tidak menaruh curiga karena ada jaminan sertifikat yang diserahkan berupa pabrik poles dan penggilingan. Namun ternyata setelah dikroscek, sertifikatnya ganda. Jadi, kami merasa termakan bujuk rayu," kata Radityo.
Hingga saat ini pengembalian beras itu baru sebesar 40 ton. Pengembalian beras yang tersisa pun tak kunjung terjadi. Imbasnya, Radityo beserta kepala gudang Bulog Pinrang dicopot dari jabatannya.
Radityo mengaku tak ada niat sama sekali untuk merugikan perusahaan. Kini dia pun menjalani pemeriksaan di kepolisian atas kasus tersebut dengan status terperiksa.
"Dalam hal ini, apapun proses hukum yang sedang berjalan saya akan tetap koperatif. Karena ini murni bukan rencana saya menghilangkan beras yang ada di Bulog. Niat saya hanya bagaimana mencapai target walupun prosedur ini tidak sesuai," katanya.
Saat dikonfirmasi IDN Times, Irfan membantah seluruh keterangan Radityo. Ia meminta seluruh pihak menunggu hasil penyelidikan Polres Pinrang atas kasus hilangnya 500 ton beras itu.
"Saya tunggu hasil penyelidikan baru nanti saya konferensi pers di media untuk memberikan statement yang sebenarnya. Pastinya saya sebagai pihak ketiga akan bongkar semua dengan bukti-bukti yang valid," katanya.