IDN Times/Kristina Natalia
Usai berbuka puasa, Kuco duduk di depan pintu bilik huntaranya. Kedua tangannya mulai membersihkan bawang putih yang ada di dalam karung.
Sudah beberapa bulan ini, Kuco makan gaji dari mengupas bawang putih milik pedagang di Pasar Tradisional Masomba. Dari mengupas satu karung bawang putih, dia diberi upah Rp35 ribu.
“Tidak sendiri juga kupas, dibantu anakku dan saudaraku, jadi kami kupas bertiga. Upahnya bagi tiga juga,” tutur Kuco.
Sehari, Kuco hanya bisa membersihkan dan mengupas bawang putih sebanyak satu karung. Pekerjaan ini juga tidak ada setiap hari. “Kerjaku hanya ini saja, tidak ada lagi. Dicukup-cukupkanlah uang yang ada di tangan,” kata Kuco.
Sebelum bencana melanda Kota Palu, Kuco membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya. Ia menjual hasil pangan dari pekarangan rumahnya. Dari hasil itulah Kuco bisa menghidupi dirinya dan anak cucunya.
“Anak cucuku juga kerja kecil-kecilan jadi baku bantu kita beli kebutuhan dalam rumah. Kalau di huntara ini juga kita jual pisang dengan kacang, yah seribu dua ribu adalah setiap hari,” ucap Kuco.
Selama berada di Huntara Petobo, beberapa kali Kuco dan keluarga mendapat bantuan sembako dari pemerintah maupun dari pihak lain. Bantuan itulah yang dimanfaakan keluarganya pada masa awal-awal bertahan hidup di huntara.
“Kalau sekarang hampir tidak ada lagi bantuan begitu jadi kita harus bekerja meski pun dalam keadaan tidak mampu lagi jalan,” kata dia.