Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Embarkasi Makassar Maksimalkan Layanan Haji lewat One Stop Service
Ilustrasi jemaah calon haji Indonesia (IDN Times/Umi Kalsum)
  • Sistem One Stop Service mempercepat pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Makassar dengan menyederhanakan proses layanan.
  • Kesiapan layanan mencapai 99 persen, termasuk sarana prasarana, dokumen, dan petugas untuk melayani 15.856 orang tahun ini.
  • Pemerintah menyesuaikan diri dengan regulasi baru dari Kerajaan Arab Saudi melalui skema tanazul, murur, dan safari wukuf untuk peningkatan pelayanan jemaah haji.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pelayanan bagi jemaah haji Embarkasi Makassar tahun ini kembali dimaksimalkan melalui penerapan sistem One Stop Service. Sistem ini diklaim telah terbukti efektif mempercepat dan menyederhanakan proses pemberangkatan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan (Sulsel), Ali Yafid, menyampaikan sistem ini memungkinkan seluruh proses layanan jemaah mulai dari pengecekan kesehatan, keimigrasian, pembagian paspor, hingga layanan akomodasi. Menariknya, semua sistem dilaksanakan dalam satu atap dan satu waktu di Asrama Haji Sudiang.

"Semua layanan jemaah haji di embarkasi itu dilaksanakan dalam satu atap atau mungkin ada dalam satu ruangan. Alhamdulillah luar biasa bisa memotong kesibukan jemaah dari 4 jam menjadi 2 jam dalam pelaksanaan penerimaan," kata Ali Yafid dalam wawancara usai Apel Siaga Penyelenggaraan Haji, Rabu (30/4/2025).

1. Kesiapan capai 99 persen

Rapat Koordinasi terkait kesiapan keberangkatan jemaah di Asrama Haji Sudiang, Rabu (30/4/2025).(Dok. Kemenag Sulsel)

Lebih lanjut, Ali Yafid menegaskan kesiapan layanan telah mencapai 99 persen, termasuk kesiapan sarana prasarana, dokumen, dan petugas. Tahun ini, Embarkasi Makassar akan melayani 15.856 orang, yang terdiri dari 15.572 jemaah dan 284 petugas kloter.

"Sudah dilakukan inspeksi oleh pihak yang terkait terhadap kesiapan asrama haji embarkasi makassar, baik dari sarananya maupun dari segala teknis yang ada di asrama haji Insyallah sudah siap untuk menerima jemaah," katanya.

2. Menyesuaikan dengan aturan baru Arab Saudi

Potret Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi (unsplash.com/omrfrkars)

Selain peningkatan pelayanan di tanah air, pemerintah juga menyesuaikan diri dengan regulasi baru dari Kerajaan Arab Saudi. Tahun ini, Kementerian Agama memberlakukan skema tanazul, murur, dan safari wukuf, yang akan mengatur pola pergerakan jemaah selama di Tanah Suci.

"Tahun ini di Arab Saudi itu ada surat edaran keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah nomor 137, bahwa tahun ini jemaah haji Indonesia ada istilah tanazul, murur, dan safari wukuf itu dilaksanakan nanti," kata Ali Yafid. 

Tanazul, murur, dan safari wukuf merupakan bagian dari upaya penyesuaian layanan haji agar lebih ramah terhadap kondisi kesehatan dan kebutuhan khusus jemaah. Tanazul bertujuan mengurangi kepadatan di Mina

Kemudian, murur yaitu skema pelayanan kepada jemaah lanjut usia, disabilitas, atau berisiko tinggi (risti) dan safari wukuf yaitu layanan jemaah haji yang sakit dan tidak bisa mengikuti wukuf secara mandiri di Arafah.

3. Skema tanazul terbagi tiga kategori

Asrama Haji Sudiang Makassar jadi pintu keberangkatan dan kepulangan jemaah haji asal delapan provinsi di wilayah Indonesia Timur. (Dok. Kemenag Sulsel)

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag Sulsel, Ikbal Ismail, menjelaskan program tanazul yang terbagi dalam tiga kategori pelayanan jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armusda). 

Kategori pertama ditujukan bagi jemaah yang tidak bisa bergerak secara mandiri atau dalam kondisi sakit. Mereka akan mengikuti wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah dengan tetap berada di dalam bus. Setelah wukuf selesai, jemaah akan langsung kembali ke hotel untuk beristirahat.

Kategori kedua mencakup jemaah lanjut usia, risiko tinggi (risti), dan disabilitas. Mereka akan mengikuti program uruf, yaitu setelah wukuf di Arafah, jemaah langsung naik bus menuju Muzdalifah tanpa turun. Di sana, mereka berniat di dalam bus, lalu melanjutkan perjalanan ke Mina dan beristirahat selama tiga hari.

Sementara kategori ketiga diperuntukkan bagi jemaah yang sehat dan kuat secara fisik. Mereka akan mengikuti skema tanazul dengan rute normal dari Arafah ke Muzdalifah, lalu tengah malam melanjutkan perjalanan ke Mina. Usai istirahat sejenak, mereka akan langsung menuju Jamarat untuk melontar jumrah dan setelahnya kembali ke hotel masing-masing.

“Alhamdulillah, seluruh hotel dari 41 kloter embarkasi Makassar tahun ini berada dekat dengan Jamarat. Ini jauh lebih efisien dibanding jemaah harus berjalan kaki kembali ke tenda sejauh lima kilometer,” kata Ikbal.

Editorial Team

Related Article