Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG: Sulsel Masih Musim Kemarau, Awal Musim Hujan Diprediksi Mundur
Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Ruang Rapim Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (29/9/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • BMKG menyatakan Sulawesi Selatan masih mengalami kemarau hingga Oktober 2026, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampaknya.
  • Musim hujan 2026/2027 di 92 persen wilayah Sulsel diprediksi mundur 10–30 hari akibat pengaruh El Nino; wilayah yang biasanya hujan Oktober dapat bergeser ke November.
  • BMKG menegaskan El Nino berbeda dengan musim kemarau dan memprediksi kemarau berakhir Oktober, sambil mendorong pemerintah serta masyarakat menyiapkan antisipasi perubahan musim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Sulawesi Selatan masih berada dalam fase musim kemarau pada akhir September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi tersebut masih berlangsung hingga Oktober 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, mengatakan masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak kemarau meski BMKG mulai menyampaikan prediksi musim hujan 2026/2027. Hal ini disampaikannya saat menyampaikan Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Ruang Rapim Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (29/9/2026).

"Sulawesi Selatan pada saat ini kita masih di fase kemarau dan kita prediksi musim kemarau kita akan berlanjut sampai dengan Oktober ya," kata Ayi. 

1. BMKG ingatkan dampak kemarau masih perlu diwaspadai

Kantor Balai BMKG Wilayah IV Makassar. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Menurut Ayi, kondisi kemarau masih perlu menjadi perhatian karena masyarakat belum sepenuhnya memasuki periode musim hujan. September hingga Oktober masih menjadi bagian dari fase kemarau di Sulsel.

"Walaupun kita akan melakukan prediksi musim hujan untuk tahun ini, tetapi kewaspadaan kita terhadap musim kemarau harus tetap dilaksanakan dan diterapkan dari sekarang," katanya. 

Di sisi lain, musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Ayi mengatakan pengaruh El Nino yang masih kuat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Sulsel mengalami pergeseran.

"Sebagian besar akibat El Nino yang saya gambarkan tadi, sebagian besar musim hujannya mundur," katanya.

2. Awal musim hujan di 92 persen wilayah Sulsel diprediksi mundur

Ilustrasi musim hujan (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Berdasarkan prediksi BMKG, sebanyak 92 persen wilayah Sulsel diperkirakan mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Pergeserannya bervariasi, mulai dari satu hingga tiga dasarian atau sekitar 10 hingga 30 hari.

"Bahkan ada beberapa mungkin mundurnya pun ada yang satu, dua, bahkan ada tiga dasarian. Artinya mundurnya sebulan," jelas Ayi. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat wilayah yang biasanya mulai memasuki musim hujan pada Oktober baru akan mengalaminya pada November. Sementara daerah yang secara normal memasuki musim hujan pada November diprediksi baru mengalaminya pada Desember.

Ayi menegaskan keberadaan El Nino hingga tahun depan tidak berarti Sulsel akan mengalami kemarau hingga 2027. Menurutnya, ketika El Nino berlangsung bersamaan dengan periode musim hujan, dampaknya lebih terlihat pada keterlambatan awal musim hujan.

"El Nino-nya memang sampai tahun depan, tetapi karena bersaman dengan datangnya musim hujan, kekeringannya tidak sampai tahun depan," katanya. 

3. El Nino berbeda dengan musim kemarau

Ilustrasi Kemarau. (IDN Times/Anjani Asra)

Ayi mengatakan kemarau diperkirakan berakhir hingga Oktober, sementara El Nino masih memberikan pengaruh terhadap waktu datangnya musim hujan. Karena itu, masyarakat perlu memahami perbedaan antara fenomena El Nino dan musim.

"Jadi di sini kami sampaikan, El Nino berbeda dengan musim ya. Musim itu tiap tahun pasti ada, musim hujan, musim kemarau. Tapi El Nino tidak tiap tahun ada, biasanya ada siklusnya," katanya.

Ayi menjelaskan prediksi musim hujan disampaikan lebih awal agar pemerintah daerah dan masyarakat dapat menyiapkan langkah antisipasi menghadapi perubahan musim. Informasi tersebut juga diharapkan menjadi dasar dalam mengantisipasi potensi dampak iklim di berbagai sektor.

"BMKG menginformasikan Bapak Ibu yang punya kerjaan nantinya, kemudian petani juga bisa berkolaborasi dan semuanya disiplin, mudah-mudahan kita bisa menghindarkan kerugian yang diakibatkan oleh bencana iklim ekstrim," katanya.

Ayi menegaskan kewaspadaan terhadap kemarau tetap diperlukan sampai periode tersebut berakhir. Sementara itu, BMKG akan terus memperbarui informasi terkait perkembangan musim hujan di Sulawesi Selatan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article