Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Appi Targetkan 95 Persen Sampah Terkelola Lewat Urban Farming
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (kedua dari kiri) menghadiri peluncuran Gerakan Urban Farming Bukit Baruga. (Dok. Humas Pemkot Makassar)
  • Pemerintah Kota Makassar memperkuat pembangunan berkelanjutan lewat integrasi program ketahanan pangan dan pengelolaan sampah berbasis wilayah melalui urban farming di seluruh kota.
  • Konsep urban farming mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos, melibatkan masyarakat hingga tingkat lorong untuk menciptakan lingkungan produktif dan mandiri pangan.
  • Pemkot menargetkan 95 persen sampah terkelola dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, termasuk DP2, Dewan Lingkungan, serta kemitraan CSR dari sektor swasta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Wali Kota Makassar namanya Pak Munafri mau bikin kota jadi bersih dan hijau. Ia bilang orang-orang bisa tanam sayur di tempat kecil, pakai sampah dapur yang dijadiin pupuk. Banyak orang diajak bantu, seperti warga, lurah, dan anak kuliah. Sekarang mereka mau supaya 95 persen sampah bisa diurus baik dan kota jadi lebih rapi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times – Pemerintah Kota Makassar fokus memperkuat pembangunan berbasis lingkungan berkelanjutan. Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui integrasi program ketahanan pangan dan pengelolaan sampah berbasis wilayah.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa program urban farming akan dimaksimalkan di seluruh wilayah kota. Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) didorong sebagai leading sector untuk mengakselerasi program ini hingga ke tingkat kelurahan. Pemerintah kota menilai pendekatan ini penting untuk menjawab tantangan perkotaan, khususnya keterbatasan lahan dan meningkatnya volume sampah rumah tangga.

“Kita perlu maksimalkan program urban farming di semua wilayah, dengan melibatkan aktif kelompok masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan, dalam pembangunan di tingkat lorong,” kata Appi -sapaan Munafri, Minggu (12/4/2026).

1. Integrasi dengan pengelolaan sampah rumah tangga

ilustrasi urban farming (freepik.com/freepik

Munafri menjelaskan, konsep urban farming tidak hanya mendorong pemanfaatan lahan sempit menjadi produktif, tetapi juga terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah. Sampah organik rumah tangga diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian perkotaan. Menurutnya, setiap kelompok masyarakat nantinya dapat diberi tanggung jawab membina minimal dua lorong dengan melibatkan lurah serta RT/RW setempat, guna menciptakan lingkungan yang produktif dan tertata.

Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan solusi ganda, yakni mengurangi volume sampah sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat. “Urban farming diharapkan menjadi solusi ganda, mengurangi volume sampah sekaligus memperkuat kemandirian pangan warga,” jelasnya.

Ia juga mencontohkan model peternakan skala kecil, seperti budidaya ayam, yang tetap produktif meski di lahan terbatas serta tidak menimbulkan bau jika dikelola dengan baik.

2. Libatkan masyarakat dan sektor swasta

ilustrasi urban farming (unsplash.com/Gigi)

Untuk memperkuat implementasi program, Pemkot Makassar mendorong kolaborasi lintas sektor. DP2 diminta berkoordinasi dengan Dewan Lingkungan agar kelompok masyarakat mendapat pendampingan serta fasilitas yang memadai.

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kemitraan dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Langkah ini diharapkan mampu mendukung pembiayaan sekaligus memperluas jangkauan program berbasis masyarakat.

Munafri menilai keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan, terutama dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya lingkungan yang berkelanjutan.

3. Target pengelolaan sampah capai 95 persen

ilustrasi urban farming (pexels.com/Matheus Bertelli)

Di sisi lain, Pemkot Makassar juga menargetkan peningkatan signifikan dalam pengelolaan sampah. Saat ini, tingkat pengelolaan sampah dinilai masih belum optimal dan belum mencapai 70 persen secara maksimal.

“Biaya yang kita keluarkan harus sebanding dengan hasil. Target kita, minimal 95 persen sampah harus terkelola,” tegas Munafri.

Ia pun meminta camat dan lurah untuk lebih aktif turun ke lapangan, memantau kondisi wilayah, serta membangun kegiatan bersama masyarakat, baik dalam aspek kebersihan, keamanan, maupun pemberdayaan lingkungan.

Dengan strategi ini, Pemkot Makassar berharap pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh melalui lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.

Editorial Team