4 WNI Disandera Perompak Somalia, 2 Asal Sulsel

- Empat WNI disandera perompak Somalia di kapal Honour 25 saat berlayar dari Oman menuju Somalia, dua di antaranya berasal dari Sulawesi Selatan.
- Kapten Ashari Samadikun menceritakan detik-detik penyerangan bersenjata, tembakan ke arah kabin, hingga seluruh kru dipaksa menyerah dan barang-barang mereka dirampas.
- Para sandera menghadapi ancaman eksekusi jika tebusan tak dipenuhi, sementara keluarga korban berharap pemerintah segera bertindak menyelamatkan mereka.
Makassar, IDN Times - Empat warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban penyanderaan perompak Somalia di kapal tanker Honour 25. Dua di antaranya diketahui berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Kapten Kapal, Ashari Samadikun dari Gowa dan Adi Faizal, selaku 3nd Officer asal Bulukumba. Sementara dua lainnya yaitu Wahudinanto, selaku Chief Officer asal Pemalang dan Fiki Mutakin dari Bogor.
Kapal Honour 25 yang mengangkut minyak itu dibajak perompak pada Selasa (21/4/2026) saat kapal berlayar dari Oman menuju Somalia dengan jumlah kru sebanyak 17 orang, empat di antaranya WNI sementara lainnya berasal dari India, Paskistan, dan Myanmar.
1. Dijaga ketat perompak bersenjata

Salah satu korban, Kapten kapal Ashari Samadikun (33), saat video call bersama keluarga dan rekan seangkatannya di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar, mengungkap detik-detik mencekam saat kapal yang dipimpinnya diserang.
Dalam komunikasi singkat itu, ia menyebut kondisi seluruh kru masih berada di bawah pengawasan ketat perompak bersenjata, meski kebutuhan dasar masih diberikan.
“Aman ji alhamdulillah, masih dikasih makan dan salat. Semua kru tidur di atas, tapi kalau malam dijaga ketat. Ada yang berjaga di kanan, kiri, dan belakang,” ujarnya.
Ia menyebut para perompak membawa persenjataan lengkap dengan amunisi dalam jumlah besar. “Senjatanya lengkap, pelurunya banyak sekali,” katanya.
Ashari kemudian menceritakan awal mula serangan yang terjadi dini hari. Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, sebuah kapal kecil sempat terpantau dari belakang, namun tidak diantisipasi maksimal oleh kru yang berjaga.
“Sekitar jam 10 malam ada satu boat memantau dari belakang, tapi kru tidak melapor. Jam 2 dini hari, datang tiga boat, dua di kanan, satu di kiri,” jelasnya.
2. Sempat diberondong peluru

Situasi berubah drastis ketika ia melihat langsung para perompak membawa senjata. “Saya lihat pakai teropong, ada senjata. Saya bilang dalam hati, ini bahaya,” tuturnya.
Ia sempat kembali ke kamar untuk mengamankan diri, namun tak lama kemudian rentetan tembakan menghujani kapal. “Saya masuk kamar, kunci pintu. Tidak lama mereka menembak, kamar saya diberondong,” katanya.
Dalam kondisi genting, Ashari sempat mengirim pesan suara ke kantor dan keluarga sebelum para perompak berhasil naik ke kapal dan memaksa seluruh kru keluar.
“Mereka dobrak pintu, semua kru saya suruh keluar, angkat tangan,” ujarnya.
Momen paling menegangkan terjadi saat ia berhadapan langsung dengan pimpinan perompak yang menodongkan senjata ke kepalanya.
“Saya langsung bilang ‘I am Muslim, don’t shoot’. Dia jawab ‘you Muslim?’ Saya bilang saya Muslim Indonesia, saya kapten,” ungkapnya.
Setelah itu, situasi sempat mereda. Para perompak kemudian menguasai kapal dan mengambil barang-barang milik kru.
“Mereka ambil semua uang dan barang kami,” katanya.
3. Dincam bakal dieksekusi

Hingga kini, belum ada kepastian terkait tuntutan tebusan. Ashari mengaku bahkan sempat berdialog dengan perompak terkait kondisi kapal.
“Saya bilang kapal ini kecil, tua, muatannya juga sedikit, jangan harap terlalu banyak,” ujarnya.
Meski begitu, ancaman terus membayangi. Ia mengaku beberapa kali ditodong dan diancam akan ditembak. “Sudah beberapa kali saya ditodong, diancam ditembak. Empat kali mereka ancam kepala saya,” tuturnya.
Ia juga mengungkap sempat diminta mendekat ke daratan, namun berusaha menahan posisi kapal agar tidak mudah didatangi tambahan perompak.
“Saya tahan kapal sekitar lima mil dari darat, supaya tidak mudah naik tambahan orang,” katanya.
Sementara itu, keluarga korban di Gowa terus diliputi kecemasan. Istri Ashari, Santi Sanaya (26), menyebut komunikasi terakhir menunjukkan kondisi penuh ancaman.
"Iya, kemarin dulu dia (Ashari) sempat bilang katanya kalau tidak ditebus ini malam mau mki dieksekusi. Makanya saya dan mertuaku terpukul sekali," imbuhnya.
Pihak keluarga berharap pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto, segera mengambil langkah untuk membebaskan para sandera. Hingga kini, proses negosiasi masih berlangsung, sementara keselamatan para kru berada dalam ancaman perompak.


















