Kerinduan Pangeran Diponegoro pada Sang Ibu Saat Diasingkan di Makassar

- Pangeran Diponegoro mengusulkan agar sang ibunda pindah ke Makassar untuk hidup bersama dirinya.
- Penggunaan kapal uap di Hindia-Belanda membuat waktu perjalanan laut berkurang secara drastis, memungkinkan rencana tersebut dilaksanakan.
- Rencana Diponegoro untuk hidup bersama ibunda tidak terkabul karena kondisi kesehatan sang ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Makassar, IDN Times - Pangeran Diponegoro memandang lepas pantai Makassar dari loteng tempat penahanannya di gedung kediaman para perwira Benteng Fort Rotterdam yang berada di sisi timur dan lebih dekat ke Bastion Ravelin. Saat itu sudah masuk pertengahan 1849, atau 12 tahun sejak pengobar Perang Jawa (1825-1830) tersebut diasingkan ke Makassar. Sebelumnya sempat dibuang oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Tondano (Sulawesi Utara), tapi mengaku tidak nyaman dengan udaranya yang dingin.
Sepucuk surat dari sang ibu yang sudah berusia lanjut, Raden Ayu Mangkorowati, membuat Diponegero dilanda perasaan gembira. Sejak ditangkap oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus di Kock pada 28 Maret 1830, praktis ia tak lagi berkomunkasi dengan sang ibu. Terlebih anggota keluarganya tercerai berai sebab ada yang diasingkan di Ambon (anak Diponegoro yakni Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib) serta ke Sumenep (anak tertuanya yakni Pangeran Diponegoro II). Tapi, Diponegoro tetap bisa tahu perkembangan dunia luar melalui jalur komunikasi tidak resmi.
1. Pangeran Diponegoro sempat mengusulkan agar sang ibunda bisa pindah ke Makassar

Sejarawan Peter Carey dalam buku Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 Jilid 2 (KPG, 2021) mengemukakan bahwa Diponegoro sudah sempat menulis surat kepada sang ibunda tercinta pada akhir 1839 atau masuk tahun kelima pengasingannya di Makassar. Tapi, pemerintah kolonial urung mengirim surat tersebut dengan alasan Diponegoro masih memakai gelar-gelarnya selama Perang Jawa. Selain itu, ia berstatus sebagai tahanan negara sehingga gerak-geriknya harus selalu diawasi.
Setelah mendapat surat tersebut, Diponegoro memikirkan sebuah rencana: bagaimana jika sang ibu pindah ke Makassar untuk hidup bersama dirinya menghabiskan sisa-sisa hari tua? Ia kemudian bertemu dengan Gubernur Sulawesi yakni Pierre Jean Baptiste de Perez untuk mengutarakan hal tersebut. Secara logika, rencana tersebut jelas tidak akan berbahaya untuk pemerintah kolonial sebab gerak-gerik Diponegoro dalam Fort Rotterdam tetap bisa diawasi. Terlebih ia bisa bertemu dengan ibunda yang ia cintai setiap hari.
2. Penggunaan kapal uap di Hindia-Belanda membuat waktu perjalanan laut berkurang secara drastis

Rencana Diponegoro adalah sang ibu bisa menumpang kapal uap dari Semarang dengan waktu pelayaran hanya 5 hari. Pada dekade 1840-an, pemerintah Hindia-Belanda memang sudah menggunakan kapal uap yang merupakan teknologi baru hasil revolusi industri secara luas untuk keperluan komersial. Awalnya hanya untuk pengangkutan hasil bumi Nusantara untuk dikirim ke Eropa, lalu berkembang menjadi sistem transportasi publik yang bisa digunakan oleh semua orang. Pelayarannya dari Jawa ke Tondano yang menyiksanya bisa dibilang susah dilupakan oleh Diponegoro.
Diponegoro menjabarkan secara rinci rencana tersebut dalam surat balasannya kepada sang ibunda. Sang Pangeran juga menulis bahwa terhitung sejak mengirim surat itu, ia dan anak-anaknya selalu memandang ke pelabuhan lewat jendela lotengnya, berharap yang turun dari kapal uap adalah ibu sekaligus nenek dari putra-putrinya. Pesan implisitnya, menurut Peter Carey, adalah "datanglah segera." Tapi, bahkan jika rencana tersebut tak bisa dilaksanakan, Diponegoro menulis hal tersebut "tidak menjadi apa, karena kita berdua adalah teman." Tapi, ini adalah suara hati dari seorang eksil dengan rindu yang tak mampu lagi dibendung.
3. Sayangnya rencana Diponegoro untuk hidup bersama ibunda tidak terkabul

Namun, saat itu usia Mangkorowati sudah masuk 80 tahun dan menderita penyakit edema atau penumpukan cairan. Ia saat itu sudah menderita gangguan pendengaran dan nyaris buta. Untuk aktivitasnya, Mangkorowati sangat bergantung pada cucu perempuannya yang saat itu masih lajang yakni Raden Ajeng Muntheng. Alhasil, bisa disimpulkan bahwa sang ibu Diponegoro tersebut tidak mampu lagi untuk melaksanakan perjalanan jauh, terlebih lintas pulau meski hanya memakan waktu kurang dari sepekan.
Permintaan dari Diponegoro juga mendapat perhatian lebih dari Residen Yogyakarta yakni Baron A.H.W. de Kock (memerintah 1848-1851). Ia menemui Mangkorowati dan memberinya waktu selama dua hari untuk mempertimbangkan hal tersebut. Sebagai gantinya, sebuah surat dikirim kepada Diponegoro. Isinya adalah harapan dan rasa rindu agar dirinya dan sang anak yang sedang diasingkan di Makassar senantiasa diberi kesehatan dan kewarasan hingga akhirnya kembali bertemu di akhirat.
Rencana tersebut hanyalah rencana. Raden Ayu Mangkorowati meninggal dunia pada 7 Oktober 1852. Pangeran Diponegoro lalu wafat pada 8 Januari 1855 dan dikebumikan di Makassar.


















