Dugaan Salah Tangkap Rusak Biji Zakar Warga, Ini Kata Polda Sulsel 

Polda menegaskan, Salman bukan korban salah tangkap

Makassar, IDN Times - Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan akhirnya buka suara menyikapi dugaan salah tangkap terhadap seorang pria bernama Salman. Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo menegaskan, Salman adalah tersangka kasus begal.

“Beraksi bersama dua orang rekannya di Jalan Sungai Saddang Makassar yaitu Sandi dengan Coger. Ketiganya dilaporkan oleh Surya (Korban) pada bulan Juli yang lalu,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu (30/11).

Diberitakan sebelumnya, Salman yang juga warga Jalan Veteran Utara, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar itu diduga menjadi korban kekerasan oleh aparat yang menangkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai tukang sapu di Pasar Kalimbu, dekat rumahnya mengaku disiksa. Akibatnya biji zakarnya hancur akibat setruman listrik.

Baca Juga: Diduga Korban Salah Tangkap, Biji Zakar Warga Makassar Rusak Disetrum

1. Polda mengklaim, penangkapan Salman sudah sesuai dengan prosedur

Dugaan Salah Tangkap Rusak Biji Zakar Warga, Ini Kata Polda Sulsel Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Ibrahim Tompo / Istimewa

Ibrahim juga mengklaim bahwa penangkapan Salman sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Penangkapan itu disertai dengan rujukan laporan polisi (LP) dari korban pascakejadian saat itu.

“Penangkapan para pelaku berdasarkan laporan korban bernama Surya, warga Jalan Sungai Saddang Baru dengan nomor LP : 265 / X / 2019 / RESTABES MKSR / SEK RAPPOCINI tanggal 27 Juli 2019,” kata mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Utara ini.

Modus operandinya, kata Ibrahim, Salman bersama dua orang rekannya menunggu korbannya di Jalan Sungai Saddang. Setelah itu pura-pura meminta tolong kehabisan bensin. “Saat akan membantu, Salman bersama temannya mengeluarkan busur dan meminta handphone korban,” terangnya.

2. Polisi membantah menyetrum Salman

Dugaan Salah Tangkap Rusak Biji Zakar Warga, Ini Kata Polda Sulsel Ibu kandung Salman, Asma / Sahrul Ramadan

Kabid Humas juga menampik kabar bahwa Salman disetrum hingga alat kelamin yang bersangkutan rusak. Kata Ibrahim, berdasarkan hasil dari pendalaman yang telah dilakukan pihaknya, ditemukan fakta bahwa tidak ada perlakuan setrum oleh polisi di Polsek Rappocini.

“Tetapi kejadian yang sebenarnya adalah perawatan yang dilakukan oleh Polri terhadap Salman atas penyakit yang telah lama dideritanya berupa bengkak dan bernanah pada area kemaluan sesuai keterangan dokter. Jadi bukan karena luka baru,” jelas Ibrahim.

3. Berbeda keterangan Salman dan Polisi

Dugaan Salah Tangkap Rusak Biji Zakar Warga, Ini Kata Polda Sulsel Salman, terbaring di rumahnya di Jalan Veteran Utara, Bontoala, Makassar / Sahrul Ramadan

Salman sebelumnya mengungkapkan, bahwa dia dijemput oleh sejumlah orang berpakaian sipil di kawasan rumahnya pada 13 Oktober 2019, sekitar pukul 23.00 WITA, lalu. Seingatnya, ada sekitar enam orang. Mereka mengendarai empat motor dan satu unit mobil.

Setelah dijemput dia dinaikkan ke atas mobil dengan keadaan mata tertutup. Salman bahkan mengaku diancam untuk mengakui semua perbuatannya terkait tudingan pencurian dan pembegalan. Dari situlah, penyiksaan hingga penyetruman di zakarnya terjadi.

Berbeda dengan Salman, Ibrahim menerangkan kronologi versi polisi. 

Pada 17 Oktober 2019, kata dia, Salman menjalani penahanan di Mako Polsek Rappocini. “Tanggal 21 Oktober 2019 ditangguhkan karena pelaku mengeluh sakit dan korban pun sepakat untuk berdamai dan mencabut laporannya,” urai Ibrahim.

Selanjutnya, pada Kamis 24 Oktober 2019 sekitar pukul 20.30 Wita, Salman disebutkan masuk di IGD Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan pemeriksaan dengan keluhan demam. “Usai diperiksa Salman diizinkan pulangkan,” lanjutnya.

Memasuki Rabu 30 Oktober 2019 sekitar pukul 17.21 WITA, Salman kembali masuk di IGD. Dari hasil pemeriksaan dan diagnosa, ada bisul di bagian ujung pantat (fistel perianal) dan dirawat. “Selanjutnya pada 1 November, Salman dioperasi dan dirawat di Ruang Kasuari (RS Bhayangkara),” ungkapnya.

Pada Kamis 14 November, lanjut Ibrahim, Salman akhirnya diizinkan keluar dari RS Bhayangkara.

4. LBH Makassar soroti kinerja kepolisian yang dianggap melangga HAM

Dugaan Salah Tangkap Rusak Biji Zakar Warga, Ini Kata Polda Sulsel LBH Makassar / Sahrul Ramadan

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menyoroti prosedur penanganan perkara tindak pidana yang diduga dilakukan oknum institusi kepolisian. “Apa yang terjadi ini adalah jelas-jelas tindak pidana yang bernuansa pelanggaran hak asasi manusia (HAM),” kata Direktur LBH Makassar Haswandi Andy Mas, saat ditemui di kantornya, Jumat (29/11) kemarin.

Haswandi mengungkapkan, tindakan pelanggaran yang diduga dilakukan oleh oknum anggota kepolisian dapat mengarah ke tindakan pidana. Aturan itu, katanya, diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Di dalamnya di atur tentang tiga poin pelanggaran. Poin pertama, menyoal pelanggaran administrasi, perdata dan pidana. “Mekanisme yang dimaksud yang masuk dalam kategori penganiayaan berat, yang mengakibatkan seseorang cacat seumur hidup,” tegas Haswandi.

Baca Juga: Korban Setrum Buah Zakar Diduga Salah Tangkap, LBH Kecam Kepolisian

Topik:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya