Kapal klotok (Dok. IDN Times/Yandi
Di ujung timur Pulau Jawa, wilayah Madura yang memiliki sekitar 120 'anak' pulau membuat penyeberangan menjadi kebutuhan pokok warga di sana. Sayangnya, kondisi transportasi antar pulau sangat miris. Mereka harus menyabung nyawa tiap hari karena hanya mengandalkan kapal nelayan dengan jaminan keamanan rendah.
Kondisi itu setidaknya dituturkan oleh adalah Mathur Husyairi. Ia adalah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur yang kerap menggelar reses atau serap aspirasi ke pulau-pulau kecil di Madura.
Mathur mengatakan, dalam satu tahun biasanya ia tiga kali datang ke pulau-pulau di Kabupaten Sumenep. Mulai dari Pulau Kangean, Sabunten hingga yang paling jauh yakni pulau Masalembu.
Untuk sampai ke pulau-pulau tersebut biasanya Mathur menggunakan transportasi laut berupa kapal ekspress hingga kapal Feri. Kapal tersebut berangkat menuju pelabuhan Kalianget menuju ke pulau-pulau yang Mathur tuju.
"Perjalanan dari Kalianget menuju Kangean biasanya 3 sampai 4 jam, kalau ke Masalembu bisa sampai 14 jam," ujar Mathur, Sabtu (11/6/2022).
Walau begitu, perjalanan masyarakat Madura menuju ke pulau-pulau tersebut tentu tidak seluruhnya menyenangkan. Ada banyak risiko yang harus diterjang, seperti cuaca ekstrem hingga gelombang laut yang tinggi.
Seperti kejadian kecelakaan kapal laut yang belakangan terjadi di sekitar Jawa Timur. Setidaknya, dalam satu bulan terakhir ada dua kecelakaan kapal laut di Jawa Timur.
Pertama, hilang kontaknya kapal Zidane ekspress yang terjadi di perairan sekitar Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Hilang kontaknya kapal tersebut diakibatkan karwna mesin mati serta didukung tingginya gelombang laut.
Kedua, kecelakaan antara KMP Trisila Bakti 2 dan KMP Gerbang Samudera 2 di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (13/5/2022) lalu. Tabrakan kedua kapal tersebut diduga karena arus perairan di selat Bali. Akibatnya kapal mengalami kebocoran. Jika transportasi laut tak kunjung dibenahi, kecelakaan-kecelakaan seperti ini hanya menunggu giliran.
Keterbatasan angkutan perairan juga bisa ditemukan di Banten. Kita bisa melihat perahu yang terbuat dari kayu menjadi satu-satunya alat transportasi penyeberangan ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) di Kabupaten Pandeglang, Banten. Moda transportasi yang mirip dengan perahu nelayan itu dikenal warga setempat sebagai kapal klotok.
Dari Pelabuhan Sumur, kamu perlu menggunakan alat transportasi ini sekitar tiga jam untuk sampai ke tempat yang merupakan habitat Badak bercula satu tersebut atau pulau-pulau di sekitarnya.
Salah satu pulau di sekitar TNUK adalah Pulau Peucang. Meski menaiki perahu kayu, perjalanan kamu ke dermaga Pulau Peucang disebut aman.
"(Kapal-kapal) sudah memenuhi standar sudah aman," kata Iyus, salah satu kapten kapal kepada IDN Times, Minggu (12/6/2022).
Kendati demikian, setiap hendak melakukan perjalanan para kru kapal terlebih dahulu memastikan cuaca di semenanjung Ujung Kulon yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia itu, baik. Hal itu menjadi patokan pelayaran para kapal-kapal pengangkut wisatawan.
"Kita juga intinya punya patokan kalau cuaca buruk, gak bisa memaksakan juga. Kalau saat ini musim lagi kacau cuaca tidak menentu. Makanya perlu perhitungan matang," katanya.
Pemahaman kondisi laut saat melakukan pelayaran memang sangat dibutuhkan oleh para pelaut. Kondisi laut yang cenderung berubah juga memengaruhi alur pelayaran yang harus ditempuh.
Salah satu wisatawan, Ita, menyebut pengalaman naik kapal klotok membuatnya deg-degan. Ita bersama satu rombongan, naik kapal klotok ke Pulau Peucang pada Agustus 2020.
"Ada satu titik di tengah perjalanan itu, di mana gelombangnya tinggi sehingga terasa sekali guncangannya," kata warga Bogor ini. Beberapa peserta dalam rombongan, kata dia, sampai mabuk laut.
"Saat itu, kepikiran sih, ini kapal kayu aman gak ya melewati gelombang sekuat ini?" kata dia. Ada beberapa teman dalam rombongan itu kemudian menanyakan ke kapten kapal mengenai keamanan moda transportasi itu.
Kapten kapal, kata Ita, lantas menyebut, semua aman. Gelombang tinggi memang biasa terjadi di titik tersebut karena ada pertemuan arus.
"Pulang pergi ke Peucang itu, pakai kapal klotok. Aman sih," tambah Ita, lagi. Informasi yang dia terima, moda transportasi laut menuju Peucang dan Sumur memang hanya kapal klotok itu sehingga dia dan rombongan tak ada pilihan lain.
Wisatawan lainnya, Ima mengatakan, gelombang besar di perjalanan Sumur-Peucang itu terasa karena rombongan menggunakan kapal kecil. Ima lantas membandingkan pengalamannya naik kapal besar dengan kapal klotok. "Kapal kecil lebih berasa banget ombaknya," kata dia.
Karena naik kapal kecil, Ima tak menampik rasa was-was ketika naik kapal klotok. Dia sempat memikirkan risiko human error hingga kemungkinan kapal kecil itu tenggelam setelah dihantam gelombang besar. "Lebih banyak risikonya sih," kata dia.