Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Viral Polisi Kendari Diduga Bentak-Tertawakan Korban Kekerasan Seksual

Kota Makassar
3 min read
Viral Polisi Kendari Diduga Bentak-Tertawakan Korban Kekerasan Seksual
ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Video yang melibatkan dua anggota Polresta Kendari viral dan memicu kritik di media sosial.

  • Kapolresta Kendari menyatakan video tersebut merupakan penggiringan opini yang tidak sesuai fakta di lapangan.

  • SU mengatakan polisi menenangkannya dan pertemuan dengan mantan suami berlangsung karena permintaan maaf.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Kasatreskrim Polresta Kendari Kompol Welliwanto Malau dan Kanit Buser 77 Ipda M Ichsan Aqsyar Rahman, menjadi sorotan setelah videonya viral karena diduga meminta korban pemerkosaan dan perampokan berinisial SU (44), agar tidak menangis saat dipertemukan dengan pelaku berinisial IQ (44) yang merupakan mantan suaminya sendiri.

Sementara Ipda Ichsan terdengar tertawa dan menyebut suasana pertemuan itu seperti adegan program televisi Termehek-mehek. Aksi keduanya kemudian viral di plat form media sosial (medsos) dan menadapat kritikan dari netizen karena dinilai nirempati kepada korban.

  1. 1. Polisi sebut ada penggiringan opini

    ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)
    ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)

    SU sebelumnya diduga mengalami tindakan pemerkosaan dan perampokan yanng dilakukan mantan suaminya IQ, saat sedang tertidur di rumahnya di Kecamatan Wua-wua, Kota Kendari, pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 02.30 Wita.

    Kapolresta Kendari, Kombes Pol Safi'i Nafsikin mengatakan, video viral yang diduga memperlihat dua anggotanya memarahi dan menertawakan korban merupakan pengggiringan opini dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

    "Alhamdulillah sudah kami klarifikasi (bahwa video yang viral adalah penggiringan opini)," kata Safi'i Nafsikin kepada IDN Times, Selasa (22/9/2026).

  2. 2. Mantan suaminya ingin meminta maaf secara langsung

    Tangkapan layar video korban kekerasan seksual saat melapor di Kantor Polresta Kendari. Dok. Istimewa
    Tangkapan layar video korban kekerasan seksual saat melapor di Kantor Polresta Kendari. Dok. Istimewa

    Sementara itu, SU juga menyayangkan adanya narasi di media sosial yang menurutnya menggiring opini terkait penanganan kasus yang dialaminya. Dia mengaku kaget setelah melihat sejumlah unggahan di media sosial yang berisi komentar dan narasi yang menyudutkan kepolisian, terutama setelah dirinya bertemu dengan mantan suaminya di kantor polisi.

    Ia menjelaskan, kedatangannya ke Polresta Kendari dilakukan setelah mendapat informasi bahwa mantan suaminya telah ditangkap. Ia datang untuk memastikan barang-barang miliknya yang sebelumnya dilaporkan hilang.

    "Setelah saya cek perhiasan yang telah diambil mantan suami saya semuanya ada, cocok, sudah didapat sama polisi," ujarnya.

    SU mengatakan, pertemuannya dengan pelaku di kantor polisi sama sekali tidak ada masalah. Semua terjadi karena mantan suaminya ingin meminta maaf secara langsung. Dalam pertemuan itu, pelaku juga meminta agar laporannya dicabut dengan mempertimbangkan kondisi anak-anak mereka.

    "Mantan suami saya minta cabut laporan alasan anak-anak, tapi saya biarkan dia jalani hukuman, siapa tahu bisa berubah. Karena persoalan anak, nanti saya yang urus, itu yang kami bahas dan saya sampaikan ke mantan suami saya,” ujarnya.

  3. 3. Pelaku meminta laporan dicabut mempertimbangkan kondisi anaknya

    ilustrasi anak dalam kamar (pexels.com/Artem Podrez)
    ilustrasi anak dalam kamar (pexels.com/Artem Podrez)

    Ia juga membantah dirinya yang menangis ketika berada di kantor polisi. Ia menegaskan, air matanya bukan karena mendapat bentakan dari polisi. SU mengaku menangis karena mendengar ucapan mantan suaminya yang masih peduli kepada anak-anak.

    Serta tidak menyangka jika kejadian ini akan menimpa dirinya. Di tengah suasana itu, SU mengatakan, polisi yang mendampinginya justru berusaha menenangkan dirinya agar tidak menangis dan tetap kuat.

    “Jadi, saya menangis itu bukan karena dibentak polisi. Sekali lagi saya tegaskan, bukan karena dibentak polisi. Salah itu, saya sedih saja apalagi bahas masalah anak-anak. Saya justru ditenangkan sama polisi, jangan disalah artikan," ungkapnya.

    Ia menuturkan penangkapan yang dilakukan polisi membuatnya kini merasa lebih tenang dan dapat kembali menjalani aktivitas bersama anak-anaknya. SU berharap masyarakat tidak menyebarkan informasi yang keliru atau membangun narasi yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga meminta kasus yang dialaminya tidak digunakan oleh sekelompok orang untuk menyerang institusi kepolisian.

    “Saya tidak ada masalah dengan polisi. Tolong jangan menggiring opini melalui kasus yang saya alami, apalagi tanpa konfirmasi langsung ke saya. Intinya, polisi yang membantu saya dan saya sangat mengapresiasi kinerja cepat mereka. Sekali lagi, saya mohon stop sampai di sini menggiring opini dan menyebarkan video-video itu,” pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More