Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kualitas Udara Makassar Mulai Membaik, BMKG Ungkap Sumber Polusi
Kondisi langit di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang tampak berkabut pada Senin (5/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Makassar, IDN Times - Kualitas udara di Makassar dan sekitarnya mulai membaik setelah sempat berada pada kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat konsentrasi partikulat PM2,5 kini telah turun ke kategori sedang.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulsel, Rizky Yudha, mengatakan perbaikan kualitas udara mulai terpantau sejak Minggu (4/10/2026) siang hingga Senin (5/10/2026).

"Sejak tanggal 30 hingga tanggal 4 lalu, kategorinya berada di level tidak sehat dengan konsentrasi PM2,5 di atas 55,5 mikrogram per meter kubik," kata Rizky, Selasa (6/10/2026). 

1. Kualitas udara Makassar berangsur pulih

Ilustrasi udara di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Rizky mengatakan konsentrasi PM2,5 yang sebelumnya berada di atas ambang kategori tidak sehat kini mulai melandai. Sejak Minggu siang hingga Senin, konsentrasi partikulat tersebut berada pada rentang 15 hingga 55,5 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori sedang.

"Mulai kemarin siang sampai hari ini, indeksnya turun dalam kategori sedang, atau berkisar antara 15 sampai 55,5 mikrogram per meter kubik," jelasnya.

Secara visual, kondisi langit yang sempat terlihat kelabu di wilayah Makassar juga mulai berkurang. Di sisi lain, tidak tercium lagi aroma asap seperti beberapa hari sebelumnya. 

2. BMKG sebut karhutla lokal jadi sumber utama

Ilustrasi karhutla (Dok: istimewa)

Di balik perbaikan tersebut, BMKG mengungkap analisis mengenai sumber partikulat yang sempat membuat kualitas udara Makassar dan sekitarnya memburuk. Rizky mengatakan sumber utama polusi yang terpantau berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

"Berdasarkan laporan BPBD, ada sekitar 20 hektar wilayah pegunungan di Kabupaten Pangkep yang terbakar, serta sekitar 6 hektar di Kabupaten Bantaeng," kata Rizky.

Asap dan material partikulat dari kebakaran tersebut kemudian terbawa pergerakan angin dan bertahan di atmosfer. Kondisi itu membuat partikel hasil pembakaran terakumulasi di udara hingga memengaruhi kualitas udara di kawasan perkotaan.

3. Asap dari luar Sulsel tetap berkontribusi

Ilustrasi Karhutla (Doc. BNPB)

Meski karhutla lokal disebut sebagai sumber utama, asap dari wilayah lain seperti Kalimantan juga turut memberikan kontribusi. Namun, kontribusi tersebut dinilai lebih kecil dibandingkan sumber asap dari wilayah Sulsel sendiri.

Rizky mengatakan partikel dari luar Sulawesi Selatan tetap dapat terbawa oleh pergerakan angin dan ikut memengaruhi kondisi udara. Namun, kontribusinya dinilai lebih kecil dibandingkan sumber dari wilayah Sulsel sendiri.

"Jadi sumber utamanya kami analisis sih dari yang di wilayah Sulawesi sendiri seperti itu. Meskipun yang di wilayah lainnya itu juga memberikan kontribusi meskipun kecil," katanya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article