Ilustrasi. Kabut asap yang menyelimuti kota. (IDN Times/Rangga Erfizal)
Asriani menjelaskan arah angin dapat berubah sehingga sumber partikulat yang masuk ke Sulsel juga berpotensi berbeda. Ketika angin kembali dominan dari timur, konsentrasi PM2,5 dapat menurun dan kualitas udara berpotensi membaik.
"Bisa saja terjadi. Kalau dilihat dari arah anginnya tadi sekitar dari barat daya hingga barat laut, arah anginnya. Tapi arah angin kan berubah-ubah ya. Jadi kadang dia timuran, kalau timuran dia mungkin kembali bersih lagi, agak turun indikatornya, PM2,5-nya," katanya.
Sebaliknya, ketika angin kembali berubah dari arah barat, partikel asap dari Kalimantan berpotensi terbawa menuju Sulawesi Selatan. Asriani menyebut sumber asap juga dapat berasal dari wilayah lain apabila arah angin bergerak dari timur.
"Kalau arah timuran bisa saja asap karhutlanya dari Papua Maluku, sedangkan kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan dari barat kemungkinan yang Kalimantan masuk, karena kan lebih dekat," ujarnya.
Asriani mengatakan kondisi kualitas udara tersebut masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Hal itu karena titik panas atau hotspot di Kalimantan masih terpantau cukup tinggi.
"Kalau ini masih dipantau terus ya, mungkin beberapa hari ke depan masih sama, karena kalau dilihat ini masih merah-merah sekali ya, masih kuat sekali ini titik hotspotnya di Kalimantan belum mereda. Jadi masih ada kemungkinan terjadi beberapa hari kemudian," katanya.