Hilal Tak Terlihat di Makassar, Awal Puasa Tunggu Hasil Sidang Isbat

Makassar, IDN Times - Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan (Kemenag Sulsel) segera melaporkan hasil rukyatul atau pemantauan hilal Ramadan di Kota Makassar. Hasil pemantauan tim BBMKG untuk menentikan awal puasa 2022, hilal belum mencapai titik ideal di atas dua derajat.
"Hasil dari sini kita serahkan ke Kemenag pusat untuk kemudian dilanjutkan di dalam sidang isbat," kata Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kemenag Sulsel, Muhammad Tonang saat ditemui di sela pemantauan, Jumat (1/4/2022).
1. Hilal belum ada pada posisi ketinggian ideal

Proses pemantauan hilal digelar di puncak gedung GTC Makassar, Jalan Metro Tanjung Bunga, Jumat sore. Namun karena kondisi hujan dengan intensitas rendah ditambah awan gelap, membuat hilal belum begitu terlihat.
Menurut Tonang, hilal belum terlihat dalam artian belum mencapai titik yang telah disepakati bersama dengan sejumlah negara Islam lainnya di Asia Tenggara. Seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Tonang bilang, hilal tetap terlihat meskipun kondisi cuaca kurang begitu mendukung. Namun, hilal belum mencapai titik tertingginya yang menjadi penanda transisi Ramadan. "Posisi hilal dinaikkan jadi dua sampai tiga derajat. Itulah yang kita gunakan," jelasnya.
2. Daerah lain di Sulsel juga akan melaporkan hasil pantauan hilal

Tonang mengungkapkan, pemantauan hilal tak hanya berlangsung di Makassar. Namun daerah lain juga ikut memantau. Semua hasil pemantauan akan diserahkan ke Kemenag. "Seratusan lebih kan ada titik pemantauan, termasuk kita," ucapnya.
Tonang menyatakan, pihaknya sementara menunggu hasil sidang isbat oleh Kemenag pusat. Hasil sidang nantinya akan menjadi rujukan untuk melaksanakan puasa. "Jadi setelah sidang isbat nanti kita tinggal menunggu bagaimana hasilnya," imbuh Tonang.
3. Cuaca buruk pengaruhi pengamatan hilal

BBMKG Wilayah IV Makassar sebelumnya menyatakan, dari hasil pemantauan, hilal untuk menentukan awal puasa Ramadan 2022, belum terlihat berada di posisi tertinggi. "Potensi hilal kecil untuk teramati," kata Sub Koordinator Pengumpulan dan Penyebaran Data BBMKG Jamroni di sela pemantauan. Ketinggian hilal hanya 1,45 derajat.
"Berati kalau kita amati dari turun sampai tenggelam itu makan waktu 9 menit, golden time istilahnya. Ditambah juga kan faktornya awan yang gelap. Cuaca paling mempengaruhi," jelas Jamroni.



















