Makassar, IDN Times - Pembangunan gedung Sekolah Garuda di Sulawesi Selatan (Sulsel) segera dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek). Dua calon lokasi sekolah telah dipersiapkan di Kabupaten Maros.
Wamendiktisaintek, Stella Christie, pada Jumat (27/2/2026) meninjau langsung dua calon lokasi pembangunan Sekolah Garuda yang terletak di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dari aspek teknis, legalitas, serta potensi pengembangan kawasan pendidikan terpadu berbasis sains dan teknologi.
"Ini adalah calon lokasi Sekolah Garuda. Kita menemukan lokasi yang sangat cantik dengan pemandangan luar biasa. Namun, yang lebih penting, di sini terdapat aktivitas riset yang sangat menarik, seperti inseminasi sapi untuk meningkatkan produksi susu segar dan kualitas genetik ternak di Indonesia," kata Wamendiktisaintek melalui keterangannya dikutip ANTARA, Minggu (1/3/2026).
Stella menyebut SMA Unggul Garuda direncanakan memerlukan lahan sekitar dua hektare dengan kontur relatif rata, meskipun tidak harus berada dalam satu hamparan utuh.
Area terbangun utama meliputi bangunan akademik dan lapangan olahraga diperkirakan seluas 1–1,5 hektare dan harus berada di lahan datar guna menjamin keamanan dan efisiensi konstruksi.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Stella juga meninjau fasilitas riset peternakan yang berpotensi menjadi mitra kolaborasi pendidikan dan penelitian. Di kawasan ini telah tersedia laboratorium produksi semen beku (sperma sapi dan kerbau) dengan proses yang telah memenuhi standar SNI.
Fasilitas ini telah menjalin nota kesepahaman dengan Universitas Hasanuddin dalam penguatan riset dan pengembangan teknologi reproduksi ternak.
Distribusi semen beku dilakukan ke berbagai kabupaten/kota melalui petugas lapangan, mendukung program peningkatan populasi dan mutu ternak.
"Tadi ada riset yang sangat menarik, riset inseminasi sapi. Untuk bisa meningkatkan produksi dari susu segar dan juga kualitas sapi di Indonesia. Luar biasa menarik tadi risetnya," ujarnya.
Teknologi Inseminasi Buatan (IB) menjadi salah satu fokus penguatan riset. Satu pejantan unggul dapat menghasilkan hingga 10.000 straw per tahun.
Dari satu kali ejakulasi (±5 cc), dapat diproses untuk inseminasi 200–300 betina, dengan setiap straw berisi ±25 juta sel spermatozoa (0,25 cc).
Tingkat keberhasilan kebuntingan saat ini mencapai sekitar 75 persen. Metode IB dinilai jauh lebih efektif dibandingkan kawin alam dalam pemanfaatan pejantan unggul.
Melalui sinergi pembangunan SMA Unggul Garuda dan penguatan fasilitas riset terapan di daerah, pemerintah menegaskan komitmen menghadirkan pendidikan unggul yang terintegrasi dengan kebutuhan strategis nasional.
