Comscore Tracker

Ngobrolin Bucin dan Lika-liku Kehidupan Asmara dalam Tea Party Makassar

Cinta memang ngga ada habis-habisnya untuk dibahas, ya?

Makassar, IDN Times - Berbicara perihal hubungan asmara memang tidak ada habisnya. Bahkan belakangan, topik perihal toxic relationship hingga fenomena budak cinta alias 'bucin' menghiasi linimasa media sosial. Cerita-cerita hubungan asmara  cenderung tidak sehat hingga rela melakukan apa saja demi pasangan selalu viral. Apakah ini pertanda bahwa seiring zaman, sulit menemukan jalan asmara yang lancar dan apa adanya?

Bertempat di Confie Coworking Space pada Minggu (15/9) sore, temu wicara wanita bertajuk Tea Party For Women kembali diadakan. Dalam acara yang masuk sesi keempat ini, tema yang diangkat adalah fenomena 'bucin' dalam berpasangan. Dua narasumber dihadirkan yakni dosen psikologi Universitas Negeri Makassar, Faradillah Firdaus, S.Psi., dan Feby Kurniya yang sehari-hari berprofesi sebagai penyiar radio. Nurul Hidayati, co-founder Meet&Talk Movement, hadir sebagai moderator.

1. Acara diskusi ini dipandu oleh (dari kiri ke kanan) Nurul Hidayati, Feby Kurniya dan Faradillah Firdaus

Ngobrolin Bucin dan Lika-liku Kehidupan Asmara dalam Tea Party MakassarIDN Times/Achmad Hidayat Alsair

Selama 90 menit, kedua panelis turut mengajak peserta yang hadir untuk saling bertukar pengalaman perihal pengalaman asmara. Sementara itu fenomena bucin berujung posesif juga dikupas dari sudut pandang ilmu psikologi, membuat para peserta lebih memahami masalah secara mendalam.

Duduk sebagai narasumber, Feby membagi cerita pribadi perihal hubungan dengan mantan kekasih. "Makin ke sini hubungannya makin ngga sehat. Ada juga kekerasan fisik, tapi ke dirinya sendiri bukan ke aku. Awalnya aku dibentak, tapi lama-lama dia menganiaya diri sendiri. Kalau misalnya pas pacaran sudah seperti ini, gimana nanti kalau menikah?", tuturnya.

Ya, rasa kekhawatiran tersebut memang beralasan. Sifat yang sebenarnya dari lelaki sang calon pasangan hidup memang sudah terlihat sejak masih dalam proses pacaran. Dari kacamata psikologi, kebutuhan akan perhatian atau afeksi acapkali membuat seseorang nekat melakukan hal-hal apa saja.

Baca Juga: 5 Alasan Kalau Bucin & Terlalu Cinta dalam Hubungan Itu Gak Baik

2. Tak hanya perihal "bucin" dan hubungan tak sehat, sejumlah topik yang acapkali iringi hubungan turut dibahas

Ngobrolin Bucin dan Lika-liku Kehidupan Asmara dalam Tea Party MakassarIDN Times/Achmad Hidayat Alsair

Namun laki-laki juga menarik karena memiliki dua wajah yang berbeda: penuh jebakan dan tipu daya atau penurut sekaligus setia. Kak Ila, sapaan akrab dosen psikologi Kampus Phinisi, justru memberi catatan kaki bahwa kaum Adam lebih baik tak boleh diatur. Sekali lagi, ini adalah bentuk dari rasa percaya.

"Bebaskan saja mereka menjalani aktivitas, jangan dikekang. Percaya deh, tak ada hal-hal buruk jika sudah percaya satu sama lain. Kalau sering curiga, seperti dituduh ketemu mantan saat acara reuni, laki-laki bisa langsung melakukannya (karena merasa tak dipercaya). Kalau mereka nanti main serong, pasanganmu tetap akan kembali ke kamu karena rasa bersalah mengkhianati kepercayaan yang diberikan," paparnya.

Lebih jauh, ia pun menyoroti peran teman dalam dinamika hubungan. Acapkali sahabat mengaburkan penilaian perihal pasangan. Di beberapa kasus bahkan bias dalam menyikapi masalah tanpa mendengar argumen dari pihak lain. "Kita pun harus tahu siapa yang bisa diajak curhat, ada ketakutan akan privasi atau judgement."

Baca Juga: 5 Tips Move On buat Milennials Agar Tidak Bucin, Dijamin Berkah

3. Acara ditutup dengan sesi minum teh, sekaligus memberi peserta ruang untuk berbicara tanpa sekat

Ngobrolin Bucin dan Lika-liku Kehidupan Asmara dalam Tea Party MakassarIDN Times/Achmad Hidayat Alsair

Selain itu, sejumlah peserta juga turut bercerita perihal pengalaman pribadinya. Ada yang rela menunggu sang pasangan hingga jauh malam, diminta melakukan hal-hal yang sebenarnya tak diinginkan, hingga ketakutan lelaki melangkah ke jenjang hubungan serius. Ada semacam ketakutan mengucap kata putus lantaran afeksi.

Di akhir diskusi, kesimpulan singkat diambil. Ada keberanian harus diambil untuk mengakhiri rangkai toxic relationship sebelum terlambat. "Mencintai cukup dengan sepenuh hati, jangan sepenuh jiwa. Supaya nanti kalau sakit hanya sakit hati gak sampai sakit jiwa," seloroh sang moderator saat mengakhiri diskusi yang dibalut canda tawa meski sarat pengalaman getir.

Seperti namanya, para peserta dan panelis diajak lebih terbuka satu sama lain melalui sesi minum teh. Beberapa peserta yang mungkin malu-malu berbicara sebelumnya bisa blak-blakan mengeluarkan isi hati lantaran ketiadaan sekat.

Nah, apakah kamu tipe pengekang atau bucin yang rela berbuat apa saja untuk pasangan? Ingat, yang terpenting adalah rasa saling percaya.

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Just For You