Comscore Tracker

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi Mehata

Seniman dengan instalasi seni unik di Makassar Biennale 2019

Makassar, IDN Times - Dalam Makassar Biennale 2019 kemarin, instalasi seni rupa berjudul "Moon Echo: Realm Where the Voice Separated from the Body" justru menyajikan hal unik. Dibuat oleh seniman kontemporer asal Jepang, Hiroshi Mehata, karya tersebut menonjolkan salah satu hal terpenting dari peradaban: suara.

Karya pria kelahiran Mie, Jepang, 23 November 1982 itu terbagi menjadi tiga. Pertama, ada belasan QR Code yang jika di-scan akan mengantar kita ke salah satu dari rekaman suara kehidupan Sulsel di laman karya milik Hiroshi. Mulai dari suara kebisingan salah satu sudut kota Makassar, pesawat lepas landas, mesin perahu yang beradu dengan laut hingga gemericik sungai penuh ketenangan.

Kedua, adalah mesin Moon Echo yang berfungsi menunda dan mengubah suara yang kita keluarkan. Ketiga, sebuah mangkok penuh earphone yang telah tercerabut dari kabelnya. Hiroshi seolah hendak berbicara secara lugas bahwa komunikasi audio dan suara adalah pengalaman alami manusia.

Lantas seperti apa proses kreatif Hiroshi sendiri hingga pandangannya perihal suara? Seniman yang pernah menggelar pameran tunggal di Jerez, Spanyol, pada 2016 silam bersedia menjawab sejumlah pertanyaan yang disodorkan IDN Times melalui surat elektronik. Berikut ini wawancaranya.

1. Bercengkerama dengan suara sendiri dan mendengar peradaban lebih dalam adalah hal yang menarik. Gagasan apa yang coba Anda antar ke kuping pengunjung Makassar Biennale melalui "Moon Echo" ini?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Dalam beberapa tahun terakhir, dengan penyebaran email, WhatsApp dan lain-lain, proporsi komunikasi visual makin meningkat. Namun, terkadang sulit untuk memahami maksud teks sehingga persoalan atau hambatan-hambatan komunikasi juga makin meningkat.

Salah satu penyebabnya yaitu kurangnya pengalaman dalam komunikasi suara yang baik. Selain "konteks", untuk memahami satu kalimat komunikasi visual perlu kesan tambahan yaitu dengan membayangkan "bunyi kata-kata" tersebut saat membaca kalimat di samping. Jika kita tidak dapat membayangkan "intonasi" kata-kata tersebut, kita akan mengalami kesulitan berkomunikasi dalam kalimat visual.

Karena itu, saya pikir memungkinkan untuk mengupayakan komunikasi yang lancar dengan cara mendengarkan kata-kata kita sendiri dengan jeda dan mencoba menangkap kata-kata kita sendiri dari sudut pandang orang lain dengan menyadari "intonasi suara".

Selain itu, saya membayangkan bahwa akan menjadi penting di masa depan untuk memiliki "adab/tata krama bersuara" dalam menjalani kehidupan di perkotaan. Ini juga yang saya rasakan saat tinggal di Tokyo.

Di tempat di mana banyak orang berkumpul, sangat penting untuk menyadari seberapa banyak suara yang kita dengar mempengaruhi orang. Karena "suara" mengandung dua "emosi" yang berbeda. Emosi atau kesan yang dimaksudkan seseorang ketika dia mengeluarkan suara tersebut dengan kesan yang diterima oleh si pendengar atau orang lain belum tentu sama.

Pada dasarnya, komunikasi verbal juga rentan miskomunikasi. Sehingga komunikasi yang berhasil adalah bagaimana mengungkapkan berbagai emosi/kesan pada satu sama lain tanpa perbedaan antara si pembicara dan pendengar.

Di sekolah, kita belajar cara menggunakan "kata-kata", tetapi kita tidak pernah belajar cara menggunakan "intonasi" sehingga kita tahu bagaimana mengomunikasikan kata-kata itu. Jadi, saya pikir akan bagus jika institusi pendidikan akan mulai mempertimbangkan untuk memberikan "pendidikan suara" melalui pengalaman karya seni ini.

Sangat berarti bagi saya apabila ada beberapa orang di antara pengunjung dan staf magang yang berspesialisasi dalam komunikasi di universitas dan menjelaskan serta mendapat umpan balik yang baik tentang metode karya ini dari mereka.

Juga, saya sangat senang bahwa banyak anak-anak sepertinya menikmati hasil pekerjaan saya. Pendidikan adalah faktor penting dalam membangun negara. Saya akan sangat senang jika saya bisa memberi mereka kesempatan bagi yang tertarik pada suara dan komunikasi dan mengajarkannya melalui karya seni.

2. Berapa lama dan di mana saja Anda merekam suara-suara tersebut? Apakah ada alasan tersendiri di balik pemilihan tempat yang bertolak belakang antara ketenangan alam dan hiruk-pikuk perkotaan?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Saya tertarik pada bagaimana kita semua dapat mengenali kesan dari berbagai tempat (di seluruh kota). Jadi saya pergi ke beberapa daerah yang menarik di sekitar Makassar di minggu pertama saya tinggal. Misalnya pelabuhan, jalan, pasar, hutan, air terjun, dan lain-lain.

Saya ingin menangkap kesan melalui berbagai tempat-tempat yang telah saya datangi. Karena saya beranggapan bahwa mungkin ada kesan utuh/menyeluruh tentang Makassar yang dirasakan oleh orang-orang.

Sebagai hasilnya, saya memiliki penemuan yang menarik bahwa saya dapat menemukan nada yang selaras, bahkan ketika saya mencampur berbagai soundscape, bentang bebunyian, dari lokasi yang berbeda di Makassar pada saat yang bersamaan.

Saya berharap bahwa musik atau bebunyian khas kota dapat dibuat di tempat lain di dunia, ketika saya melakukan proses yang sama di kota lain kelak di masa depan.

Baca Juga: Makassar Biennale 2019: Migrasi, Sungai dan Kuliner dalam Kesenian

3. Saya merasakan pengalaman unik saat mencoba mesin pemisah sekaligus penunda suara (Moon Echo). Apakah mesin tersebut Anda rakit sendiri? Jika dirakit sendiri, bagaimana proses penciptaannya?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Alat tersebut merupakan alat yang telah saya kumpulkan dan kombinasikan. Namun, mesin penundaan itu sendiri yaitu mic, mixer, masing-masing perangkatnya dapat dijumpai di toko.

Saya menggunakan gitar listrik dalam kegiatan musik saya, jadi peralatan ini sudah saya miliki untuk bermain dan untuk merekam musik. Hingga saya menemukan kombinasi ini secara kebetulan selama percobaan musik berulang-ulang.

Sebenarnya, saya berharap untuk menjadikan "Moon Echo" sebagai sebuah aplikasi smartphone agar mudah digunakan, misalnya di sekolah sebagai salah satu pendidikan suara. Saya sendiri masih mencari seseorang untuk diajak bekerjasama untuk hal ini.

4. Mengapa Anda merasa perlu membawa komunikasi audio ke pameran seni rupa? Apakah latar belakang sebagai musisi eksperimental banyak memberi ide saat melakukan eksplorasi tema untuk Makassar Biennale 2019?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Saya pikir hal ini menunjukkan adanya interpretasi luas dari konsep "seni" bagi orang-orang modern. Bahkan ketika kita melihat lukisan, kita harus berinteraksi dengan ingatan dan "suara" di hati kita.

Saya pikir seni adalah sesuatu yang Anda rasakan dengan pancaindra Anda, bukan hanya dengan mata Anda. Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya, pengalaman akan ruang itu sendiri di mana karya seni dipasang telah menjadi lebih penting di samping karya seni itu sendiri.

Saya berpikir bahwa media apa pun dapat dipasang di ruang jika itu adalah salah satu aspek seni untuk menggunakan pancaindra kita untuk berinteraksi dengan memori kita.

Jadi saya pikir ini akan menjadi cara yang sangat efektif bagi pengunjung untuk menggunakan suara mereka sendiri untuk menciptakan sebuah karya yang memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi sebagai bagian dari hasil karya.  Ini karena semua orang dapat menggunakan bebunyian dan suaranya sendiri dengan segera walaupun kita tidak memiliki alat khusus.

Kemudian, saya pikir saya akan dapat "menangkap" dunia melalui suara dari perspektif yang lebih luas dari biasanya dengan pengalaman saya sebagai musisi eksperimental. Jadi, saya berpikir bahwa jika saya bisa menyajikan cara yang baik untuk membagikan perspektif saya, saya bisa memberikan orang ide baru.

Juga, pada dasarnya, tidak banyak seniman yang membuat karya seni yang menggunakan suara dibandingkan dengan lukisan dan patung. Saya pikir juga akan berarti bagi acara ini secara keseluruhan untuk meningkatkan jumlah variasi karya dalam menafsirkan tema Biennale melalui pendekatan yang berbeda dari seniman lain.

Baca Juga: Seniman Makassar Biennale 2019 Suguhkan Topik Migrasi dan Sungai

5. Menurut Anda, seberapa penting peran suara dan segala bentuk komunikasinya dalam membangun peradaban? Padahal jika berbicara perihal interaksi, saat ini ada ribuan bahasa berbeda diucapkan pada detik ini. Bahasa seolah menjadi pembatas tak kasat mata antar individu di seluruh benua.

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Tidak ada apa pun di dunia ini (masyarakat) yang tidak melibatkan orang lain, jadi komunikasi dalam arti luas selalu diperlukan di dunia ini. Hampir semua teknologi yang Anda lihat dalam hidup Anda selalu diciptakan untuk kepentingan komunikasi seseorang.

Dalam sejarah, banyak kata-kata atau ucapan kuat yang mengubah dunia berulang kali. Kata "power” juga berpengaruh langsung ke hati manusia.

Tapi yang pasti, bagi saya juga, terkadang bahasa membuat saya merasa seperti penghalang yang tak terlihat karena kemampuan bahasa saya.

Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah dikembangkan, dan diperkirakan perangkat lunak terjemahan otomatis akan menghilangkan hambatan bahasa di masa depan.

Namun, bahkan jika hambatan bahasa dapat ditutup secara teknis, itu tidak cukup untuk komunikasi yang mendalam jika kita tidak dapat membayangkan emosi yang tepat dari intonasi melalui pengalaman komunikasi suara dan pendidikan.

Saya ingin menyampaikan pentingnya intonasi suara daripada kata-kata itu sendiri dalam komunikasi suara.

Bahasa membentuk garis besar, tetapi emosi ditransfer melalui intonasi termasuk waktu dan volume. Teknologi dapat mengomunikasikan pikiran tetapi tidak dapat menyampaikan emosi.

Namun, ini hanya situasi saat ini. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena perkembangan teknologi di masa depan.

Namun, mengapa musik bisa terkesan ketika kita tidak mengerti bahasanya? Misalnya, saya tidak tahu arti dari lirik lagu-lagu The Beatles atau The Beach Boys sebelum belajar bahasa Inggris, tetapi saya masih bisa merasakan indahnya musik melalui nada melodi dan kata-kata.

Dengan kata lain, saya berpikir bahwa meningkatkan keterampilan komunikasi suara akan terus menjadi penting di masa depan, karena belajar bagaimana mengetahui intonasi sangat meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan, atau menerima emosi.

6. Bagaimana Anda menghubungkan suara dengan "Migrasi – Sungai - Kuliner", tiga subtema Makassar Biennale 2019?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Semua aktivitas manusia termasuk suara adalah sama. Entah itu pertanian, industri atau jasa. Bahkan ketika kita bekerja pada bidang komputer, kita menggunakan suara ketukan tombol. Dalam "Migrasi - Sungai - Kuliner" ini, tidak ada aktivitas tanpa suara.
Ini hal yang sangat alami sehingga semua orang tidak menyadarinya.

Ide asli Moon Echo dimulai dengan pencarian cara di mana orang dapat memahami seberapa banyak suara yang terlibat dalam aktivitas manusia.

Kuliner yang dihasilkan sebagai hasil dari migrasi makanan ke banyak tempat adalah salah satu hasil akhir dari siklus sirkulasi Bumi. Saya membayangkan suara itu ketika kita memakan kulinernya, juga termasuk dalam siklus tersebut.

Saya membayangkan bahwa getaran udara yang disebabkan oleh suara-suara Anda atau pengaruh suara kepada orang-orang, juga bermigrasi ke atmosfer, akan diedarkan dalam bentuk berbeda di suatu tempat di Bumi. Akhirnya, secara tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan kita.

Makanan yang Anda makan tumbuh dari lingkungan itu. Dengan kata lain, Dapat dikatakan bahwa dunia Anda juga dibentuk oleh kata-kata dan suara yang Anda buat.

7. Ada pengalaman baru yang Anda dapat saat melakukan residensi seni di Makassar? Apakah itu tentang orang-orang, suasana dan makanannya?

[WANSUS] Suara, Bahasa, dan Klakson Makassar Menurut Kuping Hiroshi MehataMakassar Biennale/Artefact.id

Saya telah bertemu banyak orang selama kunjungan saya ini. Terutama saya bisa berkomunikasi banyak dengan staf dan pengunjung di Makassar Biennale. Apa yang saya sangat rasakan melalui interaksi dengan mereka adalah bahwa generasi muda memiliki hasrat yang serius dan kuat bagi masa depan Indonesia.

Ada banyak komunitas sosial dan budaya di sini yang melampaui generasi, bukan hanya melibatkan siswa saja. Saya yakin akan perkembangan Indonesia di masa depan dengan menyaksikan komunitas-komunitas yang berbeda itu menyelesaikan proyek-proyek besar dengan berkolaborasi.

Saya merasa perlu untuk memperkenalkan struktur komunitas semacam ini di Jepang. Pastinya untuk membantu masa depan Jepang di mana komunitas lintas generasi relatif kurang.

Saya juga sedikit terkejut bahwa suara klakson mobil dan motor berfungsi sebagai alat komunikasi. Karena di Jepang, dalam beberapa kasus, ada kemungkinan bahkan hanya satu suara klakson menjadi pemicu timbulnya insiden kekerasan.

Hal ini adalah contoh yang baik bahwa saya belajar perbedaan antara cara menangkap perubahan suara dengan perbedaan budaya.

Ada banyak makanan yang belum pernah saya lihat. Semuanya lezat, dan manis atau pedas. Saya juga mengerti mengapa makanan rasa pedas lebih disukai di iklim panas. Ini karena cuaca panas yang kita rasakan berkurang ketika kita makan makanan pedas.

Ketika saya mengetahuinya, saya merasakan hubungan yang kuat antara makanan dan iklim. Saya juga merasa bahwa semua orang (di sini) sangat menyukai musik.

Jike tertarik mendengar karya-karya Hiroshi Mehata, termasuk riuh-rendah suasana berbagai tempat Sulsel dalam rekaman suara, silakan berkunjung ke laman https://mehatahiroshi.wixsite.com/noum-amatara-2016.

Baca Juga: Makassar Biennale 2019: Mengajak Masyarakat Berdamai dengan Sungai

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya