Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengingat Lagi Tur PSV Eindhoven ke Manado pada Januari 1996

Kota Makassar
3 min read
Mengingat Lagi Tur PSV Eindhoven ke Manado pada Januari 1996
Suasana Stadion Klabat di Manado, Sulawesi Utara, yang menjadi markas klub Persma 1960. (instagram.com/persma1960)
  • PSV Eindhoven bertandang ke Manado pada Januari 1996 dengan skuad bertabur bintang, termasuk Luc Nilis, Phillip Cocu, Boudewijn Zenden, dan Ronaldo Nazario.
  • Tur PSV menghadapi hujan deras, penundaan laga, serta Dick Advocaat yang pulang lebih awal akibat batu ginjal; pertandingan akhirnya digelar 10 Januari.
  • Sebanyak 32.000 penonton memadati Stadion Klabat saat PSV menang 6-0 atas Persma Manado; Ronaldo tampil sebagai pengganti pada babak kedua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Januari 1996 menjadi momen mengesankan bagi pencinta sepak bola Sulawesi Utara. Stadion Klabat di Manado kedatangan raksasa asal Belanda, PSV Eindhoven, yang saat itu dibesut Dick Advocaat. Pada tur pertengahan musim ini, PSV memboyong deretan bintang Eropa, termasuk Luc Nilis, Wim Jonk, Boudewijn Zenden, Phillip Cocu, hingga sang fenomena muda asal Brasil, Ronaldo Nazario.

Bagi Persma Manado (kini Persma 1960), laga uji coba pada minggu kedua Januari 1996 tersebut menjadi laga bersejarah sekaligus hiburan berkelas untuk penduduk Manado. Partai ini juga seolah menjadi pelipur lara lantaran Persma waktu itu menghuni papan tengah klasemen Wilayah Timur Liga Indonesia (Ligina) 1995/1996.

  1. 1. Latihan para pemain PSV Eindhoven berlangsung di bawah guyuran hujan deras

    ilustrasi olahraga sepak bola
    ilustrasi olahraga sepak bola (pexels.com/Oliver Wagenblatt)

    Perjalanan PSV ke Sulawesi sebenarnya sempat diwarnai kekhawatiran. Sebelum rombongan bertolak dari Jawa Timur usai menumbangkan Mitra Surabaya dengan skor 6-2 (6 Januari 1996), Sulawesi Tengah sempat diguncang gempa bumi berkuatan 7,9 M tepat pada 1 Januari 1996. Manajer PSV saat itu, Frank Arnesen, bahkan harus mengonfirmasi kepada media-media di Belanda bahwa keadaan Manado baik-baik saja lantaran jauh dari pusat gempa.

    Tak hanya ancaman bencana, faktor cuaca juga menjadi ujian berat. Hujan deras mengguyur Manado tanpa henti selama beberapa hari menjelang laga melawan Persma. Latihan tim pun harus tetap berjalan di bawah guyuran hujan dan kondisi lapangan yang berat. Sebagai catatan, Januari memang menjadi puncak musim hujan di Indonesia.

  2. 2. Antusiasme penduduk Manado menyaksikan laga Persma versus PSV tidak surut

    Suasana Stadion Klabat di Manado, Sulawesi Utara.
    Suasana Stadion Klabat di Manado, Sulawesi Utara, yang menjadi markas klub Persma 1960. (instagram.com/persma1960)

    Kondisi cuaca tropis dan padatnya jadwal berdampak pada kesehatan sang pelatih, Dick Advocaat. Ia mendadak menderita sakit perut parah akibat batu ginjal hingga harus dipulangkan lebih awal ke Belanda untuk menjalani perawatan. Advocaat mengaku terpaksa harus terbang selama puluhan jam lantaran kurang yakin dengan kondisi fasilitas rumah sakit di Manado saat itu.

    Masalah cuaca dan persiapan lapangan juga membuat jadwal pertandingan melawan Persma yang semula direncanakan Selasa (9/1/1996) harus diundur sehari menjadi Rabu (10/1/1996). Meski sempat tertunda, antusiasme penduduk Manado sama sekali tidak surut untuk menyaksikan tim papan atas Eredivisie Belanda tersebut berlaga. Pada hari pertandingan, hujan justru mendadak reda dan matahari bersinar terik.

    Stadion Klabat dipenuhi 32.000 penonton alias melebihi kapasitas. Banyak warga yang nekat memanjat perbukitan dan atap rumah di sekitar stadion demi menyaksikan aksi para bintang Eropa milik PSV. Arnesen, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Belanda saat kembali dari Indonesia, menyebutnya ibarat sebuah "pesta besar."

  3. 3. PSV menang telak dengan skor 6-0, dan Ronaldo dimainkan pada babak kedua

    Persma Manado sendiri saat itu diperkuat kombinasi legiun asing dan pilar lokal. Sebut saja Rodrigo Araya, Juan Rubio, Francis Wewengkang, Jan Kaunang, Maxi Warokka, hingga Edi Musrizal. Namun, mereka harus mengakui perbedaan kelas tamu asal Belanda lantaran dibekuk enam gol tanpa balas.

    Momen menarik terjadi ketika bintang muda PSV berusia 19 tahun, Ronaldo Nazario, masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Meski tak lama merumput karena masalah cedera lutut, yang kemudian membuatnya absen panjang empat tahun kemudian, kehadiran Ronaldo menjadi hiburan tersendiri bagi publik Manado.

    Sekembalinya dari tur Indonesia, PSV finis sebagai runner-up Eredivisie 1995/1996 dan menjuarai KNVB Cup 1995/1996. Persma sendiri mengakhiri Ligina 1995/1996 di peringkat 11 Wilayah Timur, tetapi kemudian mereka bisa melaju ke Babak 12 Besar Ligina 1996/1997.

    Rincian Pertandingan Persma Manado vs PSV Eindhoven (10 Januari 1996):

    Skor: 0–6 (0–4)

    Pencetak Gol: Rene Eijkelkamp (8', 23'), Luc Nilis (12'), Wim Jonk (41'), Ernest Faber (60', 63')

    Lokasi: Stadion Klabat, Manado

    Penonton: 32.000 orang

    IDN Times berterima kasih kepada Helene van der Linden selaku PSV FANdesk, dan arsiparis PSV Museum, atas informasi mendetail yang diberikan sebagai bahan untuk artikel ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More