Ilustrasi kecelakaan. (IDN Times/Aditya Pratama)
Motor menabrak pembatas jalan. Tumbukan pertama. Tapi itu bukan akhirnya. Kendaraan itu terseret lebih jauh—hampir sepuluh meter—sebelum ketiga pemuda itu terjatuh dari motornya dengan keras.
Lalu mereka menabrak sebuah pohon.
Dampak yang keras. Kepala mereka yang masih penuh dengan mimpi dan harapan terbentur dengan brutal. Luka serius menggaris di kulit mereka, terutama di bagian kepala, tempat di mana kehidupan benar-benar tergantung pada setiap detik pertolongan.
Warga sekitar mendengar suara kecelakaan itu. Beberapa di antara mereka segera bergerak, mengumpulkan berani untuk mendekat dan melihat apa yang terjadi. Mereka menemukan tiga pemuda yang tidak bergerak, tubuh mereka terpancar dalam kegelapan.
Evakuasi dimulai dengan cepat. Mereka membawa ketiga pemuda itu ke Puskesmas Pattallassang, harapan masih bersemi di setiap langkah. Mungkin ada yang bisa diselamatkan. Mungkin pagi akan membawa kabar yang berbeda.
Tetapi puskesmas bukanlah tempat ajaib. Dokter dan perawat melakukan yang terbaik mereka, namun luka-luka itu terlalu parah. Kepala yang terbentur, tubuh yang rusak parah—semua terjadi terlalu cepat, dan gerakannya terlalu keras untuk ditawar.
Satu per satu, napas mereka berhenti. Aldo meninggal. Alam meninggal. Ikki meninggal. Tiga jiwa muda yang hilang dalam hitungan jam.