Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Irigasi Dibangun, Petani Bulukumba Berharap Bisa Tanam Padi 3 Kali Setahun
Proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Dok. Humas Pemprov Sulsel)
  • Rehabilitasi irigasi 2,5 kilometer di Bontonyeleng dan Palang Barae telah mencapai 1,1 kilometer, ditargetkan mengairi sekitar 1.200 hektare sawah serta membuka lahan baru.
  • Petani berharap akses air hingga hilir meningkatkan pola tanam padi dari dua menjadi tiga kali setahun, sekaligus mendorong produksi dan pendapatan.
  • Pemprov Sulsel menganggarkan Rp780 miliar untuk rehabilitasi irigasi di sejumlah daerah, guna memulihkan fungsi jaringan dan meningkatkan produktivitas pertanian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mulai menunjukkan progres. Jaringan irigasi sepanjang 2,5 kilometer yang merupakan bagian dari Paket 1 Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan 2025–2027 itu telah dikerjakan sekitar 1,1 kilometer.

Pembangunan tersebut ditargetkan mampu mengairi lahan persawahan seluas sekitar 1.200 hektare. Petani berharap ketersediaan air yang lebih baik dapat meningkatkan produksi sekaligus menambah frekuensi tanam padi dalam setahun.

1. Irigasi ditargetkan aliri 1.200 hektare sawah

Ilustrasi pengairan sawah. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Baso Mauragawali, mengatakan jaringan irigasi tersebut tidak hanya membantu mengairi lahan pertanian yang selama ini telah digarap. Infrastruktur itu juga berpotensi membuka lahan baru setelah pembangunannya rampung.

"Selain bisa mengaliri lahan saat ini, juga bisa mengaliri lahan baru apabila pekerjaan ini sudah selesai," kata Andi Baso, Senin (27/9/2026).

Menurut dia, peningkatan ketersediaan air irigasi berpotensi meningkatkan produksi pertanian masyarakat. Manfaat pembangunan tersebut juga dirasakan oleh dua desa yang menjadi wilayah layanan jaringan irigasi, yakni Bontonyeleng dan Palang Barae.

"Dampak dari ini ada peningkatan produksi jika ini selesai. Bukan hanya berhenti di sini karena memang luasan persawahan kami ini sangat luas. Ada dua desa yang berdampak, Desa Bontonyeleng dan Palang Barae," ujarnya.

2. Petani berharap bisa tanam padi tiga kali

Seorang petani tengah menebar benih padi di areal persawahan Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada Senin (8/6/2026). (IDN Times/Aan Pranata)

Petani Desa Bontonyeleng, Jamaluddin, mengatakan kondisi petani sebelumnya cukup sulit karena jaringan irigasi belum mampu menjangkau lahan yang berada di bagian hilir. Kondisi tersebut membuat petani belum bisa memaksimalkan lahan persawahan yang tersedia.

"Kondisi kami sebelum ada irigasi ini, keadaan petani memang sangat memprihatinkan karena akses irigasi tidak bisa sampai ke hilir," kata Jamaluddin.

Dengan pembangunan jaringan irigasi, ia berharap frekuensi tanam padi dapat meningkat. Saat ini, petani umumnya hanya dapat menggarap sawah dua kali dalam setahun.

"Dengan adanya irigasi ini, dari potensi garap sawah dua kali mudah-mudahan bisa sampai tiga kali nanti, khususnya tanam padi," ujarnya.

Jamaluddin menilai peningkatan frekuensi tanam juga dapat berdampak terhadap pendapatan petani. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah dan Pemprov Sulsel atas pembangunan jaringan irigasi tersebut.

3. Diharapkan dorong petani muda bertahan di desa

ilustrasi petani di Indonesia (unsplash.com/Polina Kuzovkova)

Manfaat pembangunan irigasi juga diharapkan dapat dirasakan generasi muda di Desa Bontonyeleng. Petani muda setempat, Madasari, mengatakan sektor pertanian di wilayahnya masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Menurut dia, keterbatasan infrastruktur pertanian selama ini menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat, termasuk generasi muda yang ingin mengembangkan usaha pertanian di desa. Kehadiran jaringan irigasi diharapkan dapat membuka peluang ekonomi sekaligus mendorong petani muda tetap mengembangkan pertanian di daerahnya.

"Kondisi pertanian di Bontonyeleng masih cukup memprihatinkan, tetapi dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi ini bisa menggerakkan petani muda agar tidak keluar dari desa dan bisa membangun potensi pertanian yang ada di desa," kata Madasari.

Ia berharap ketersediaan irigasi dapat mendukung petani penerus memperoleh penghidupan yang layak dari sektor pertanian. Madasari juga menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Sulsel dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman atas pembangunan tersebut.

"Saya berharap dengan adanya irigasi ini bisa memenuhi kebutuhan petani agar petani penerus mendapatkan kehidupan yang layak," ujarnya.

Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran Rp780 miliar untuk merehabilitasi sejumlah jaringan irigasi yang melayani sekitar 54.000 hektare sawah. Daerah irigasi tersebut tersebar di Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan program pemulihan jaringan irigasi dilakukan karena mayoritas infrastruktur eksisting mengalami penurunan fungsi hingga tersisa sekitar 50 persen. Kerusakan bendung dan penyumbatan aliran membuat pasokan air tidak selalu mencapai persawahan di wilayah hilir dan tersier.

Penormalan jaringan irigasi tersebut ditargetkan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian. Ketersediaan air memungkinkan petani meningkatkan frekuensi masa tanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.

"Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen," kata Andi Sudirman beberapa waktu lalu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article