ilustrasi petani di Indonesia (unsplash.com/Polina Kuzovkova)
Manfaat pembangunan irigasi juga diharapkan dapat dirasakan generasi muda di Desa Bontonyeleng. Petani muda setempat, Madasari, mengatakan sektor pertanian di wilayahnya masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Menurut dia, keterbatasan infrastruktur pertanian selama ini menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat, termasuk generasi muda yang ingin mengembangkan usaha pertanian di desa. Kehadiran jaringan irigasi diharapkan dapat membuka peluang ekonomi sekaligus mendorong petani muda tetap mengembangkan pertanian di daerahnya.
"Kondisi pertanian di Bontonyeleng masih cukup memprihatinkan, tetapi dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi ini bisa menggerakkan petani muda agar tidak keluar dari desa dan bisa membangun potensi pertanian yang ada di desa," kata Madasari.
Ia berharap ketersediaan irigasi dapat mendukung petani penerus memperoleh penghidupan yang layak dari sektor pertanian. Madasari juga menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Sulsel dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman atas pembangunan tersebut.
"Saya berharap dengan adanya irigasi ini bisa memenuhi kebutuhan petani agar petani penerus mendapatkan kehidupan yang layak," ujarnya.
Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran Rp780 miliar untuk merehabilitasi sejumlah jaringan irigasi yang melayani sekitar 54.000 hektare sawah. Daerah irigasi tersebut tersebar di Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan program pemulihan jaringan irigasi dilakukan karena mayoritas infrastruktur eksisting mengalami penurunan fungsi hingga tersisa sekitar 50 persen. Kerusakan bendung dan penyumbatan aliran membuat pasokan air tidak selalu mencapai persawahan di wilayah hilir dan tersier.
Penormalan jaringan irigasi tersebut ditargetkan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian. Ketersediaan air memungkinkan petani meningkatkan frekuensi masa tanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.
"Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen," kata Andi Sudirman beberapa waktu lalu.