Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemerintah Pastikan Belum Ada Kasus Influenza A Masuk Sulsel
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Dinkes Sulsel memastikan belum menemukan kasus Influenza A di wilayahnya, sambil terus memantau perkembangan melalui surveilans sesuai arahan Kementerian Kesehatan.
  • Peningkatan aktivitas influenza nasional pada Agustus–September 2026 masih dalam rentang kewaspadaan dan pola musiman; fasilitas kesehatan Sulsel disiapkan untuk deteksi hingga penanganan pasien.
  • Influenza disebabkan virus, bukan langsung cuaca panas atau El Nino; warga diminta menjaga kondisi tubuh dan tidak membeli maupun memakai Oseltamivir tanpa pemeriksaan dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Dinkes Sulsel) memastikan belum menemukan kasus Influenza A di wilayah Sulsel. Meski aktivitas influenza secara nasional mengalami peningkatan, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak panik.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Evi Mustikawati Arifin mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan influenza melalui surveilans. Pemantauan tersebut mengacu pada arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Belum ada ditemukan kasus Influenza A di wilayah Sulsel," kata Evi, Senin (5/10/2026).

1. Aktivitas influenza meningkat tapi masih dalam rentang kewaspadaan

ilustrasi flu (IDN Times/Arief Rahmat)

Evi mengatakan peningkatan aktivitas influenza secara nasional memang menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Kemenkes mencatat peningkatan aktivitas influenza pada Agustus hingga September 2026. Menurut Evi, kondisi tersebut masih sesuai dengan pola musiman yang terjadi di Indonesia maupun sejumlah negara ASEAN.

"Secara nasional, Kemenkes menyampaikan bahwa memang terjadi peningkatan aktivitas influenza, tetapi saat ini masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan," katanya. 

Dinkes Sulsel tetap memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Fasilitas kesehatan disiapkan untuk deteksi, pemeriksaan, pemantauan, dan penanganan pasien sesuai kondisi klinis.

2. Cuaca panas dan El Nino bukan penyebab langsung

Cuaca panas terasa di Makassar dalam beberapa hari terakhir seiring masa peralihan menuju musim kemarau, Jumat (17/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Di tengah kondisi cuaca panas dan fenomena El Nino, Evi menegaskan influenza tidak disebabkan secara langsung oleh suhu udara yang tinggi.

Menurutnya, influenza disebabkan oleh virus. Sementara kondisi cuaca ekstrem dapat memengaruhi kondisi tubuh secara tidak langsung, seperti menyebabkan kelelahan, kurang tidur, dan dehidrasi.

"Ini masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terjadi di Indonesia dan juga di beberapa negara ASEAN. Namun kondisi cuaca yang ekstrim memang dapat mempengaruhi kondisi tubuh," jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, cukup tidur, serta mengurangi aktivitas fisik berat saat cuaca terik.

"Jangan menunggu sampai haus, menjaga pola makan bergizi, cukup tidur, dan mengurangi aktivitas fisik yang berat pada saat terik matahari," katanya. 

3. Oseltamivir tidak untuk dikonsumsi massal

ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Kemenkes telah mempercepat distribusi obat antivirus Oseltamivir ke fasilitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi peningkatan aktivitas influenza. Namun, Evi mengingatkan masyarakat agar tidak membeli atau mengonsumsi obat tersebut secara mandiri.

"Yang penting adalah kami sampaikan kepada masyarakat, Oseltamivir itu bukan obat yang dikonsumsi secara massal dan tidak boleh digunakan sendiri tanpa pemeriksaan dokter," katanya.

Menurutnya, Oseltamivir diberikan berdasarkan indikasi medis, terutama bagi pasien dengan kondisi berat dan kelompok berisiko tinggi. Karena itu, masyarakat tidak perlu panic buying atau menimbun obat antivirus tersebut.

"Yang kita lakukan seharusnya adalah memastikan ketersediaan obat di fasilitas kesehatan berdasarkan kebutuhan dan tentunya memperkuat kesiapan pelayanan," kata Evi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article