Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inflasi Sulsel 3,75 Persen, Harga Cabai hingga Emas Jadi Pemicu

Kota Makassar
3 min read
Inflasi Sulsel 3,75 Persen, Harga Cabai hingga Emas Jadi Pemicu
Ilustrasi pedagang cabai di pasar tradisional. (IDN Times/Muhaimin)
  • Inflasi Sulawesi Selatan pada September 2026 mencapai 3,75 persen secara tahunan, dengan IHK naik menjadi 112,80; inflasi bulanan 0,70 persen dan tahun berjalan 3,22 persen.
  • Emas perhiasan dan cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi, sementara kelompok makanan, minuman, tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan harga signifikan.
  • Seluruh delapan wilayah cakupan IHK Sulsel mengalami inflasi tahunan; Makassar tertinggi 4,07 persen, sedangkan Palopo terendah 2,27 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Inflasi Sulawesi Selatan pada September 2026 mencapai 3,75 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y). Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

BPS, dalam berita resmi statistik, yang dilansir, Kamis (1/10/2026), mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulsel naik dari 108,72 pada September 2025 menjadi 112,80 pada September 2026. Secara bulanan, inflasi pada September 2026 mencapai 0,70 persen, sedangkan inflasi sepanjang Januari-September 2026 atau year to date (y-to-d) sebesar 3,22 persen.

  1. 1. Emas dan cabai rawit paling besar menyumbang inflasi

    ilustrasi inflasi
    ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

    Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Sulsel. Emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,56 persen, disusul cabai rawit 0,34 persen, daging ayam ras 0,18 persen, bensin 0,15 persen, dan minyak goreng 0,12 persen.

    Selain itu, nasi dengan lauk dan ikan layang atau ikan benggol masing-masing memberikan andil 0,12 persen dan 0,11 persen. Sigaret kretek mesin, sewa rumah, pelumas atau oli mesin, serta telepon seluler juga masuk dalam komoditas yang memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan.

    Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 5,16 persen dan menjadi salah satu sumber terbesar inflasi Sulsel. Kelompok tersebut memberikan andil 1,60 persen terhadap inflasi umum, dengan cabai rawit, daging ayam ras, minyak goreng, dan sejumlah komoditas ikan menjadi penyumbang utama.

  2. 2. Inflasi perawatan pribadi capai 8,74 persen

    seorang wanita menggunakan skincare
    ilustrasi seorang wanita menggunakan skincare (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Selain kebutuhan makanan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan harga paling tinggi secara tahunan, yakni 8,74 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,71 persen terhadap inflasi umum Sulsel.

    BPS mencatat kenaikan tersebut terutama berasal dari subkelompok perawatan pribadi lainnya yang mencapai 17,79 persen dan jasa lainnya sebesar 9,42 persen. Emas perhiasan menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar dari kelompok ini, yakni 0,56 persen terhadap inflasi tahunan Sulsel.

    Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 3,74 persen dan memberikan andil 0,47 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi dari kelompok ini adalah bensin sebesar 0,15 persen, pelumas atau oli mesin 0,08 persen, sepeda motor 0,05 persen, pemeliharaan atau servis 0,04 persen, dan angkutan udara 0,04 persen.

  3. 3. Makassar catat inflasi tertinggi di Sulsel

    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana
    Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

    Dari delapan wilayah yang menjadi cakupan penghitungan IHK Sulsel, seluruhnya mengalami inflasi tahunan pada September 2026. Kota Makassar mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 4,07 persen dengan IHK 113,18.

    Sementara itu, inflasi tahunan terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 2,27 persen dengan IHK 110,98. Wilayah lain yang tercatat dalam penghitungan BPS yakni Bulukumba 2,76 persen, Watampone 3,34 persen, Wajo 3,66 persen, Sidenreng Rappang 3,38 persen, Luwu Timur 2,95 persen, dan Parepare 3,78 persen.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More