6 Cara Jadi Pendengar yang Empati, Bikin Orang Lain Merasa Dihargai!

Kadang, kita terlalu fokus mikirin jawaban apa yang harus dikasih, sampai lupa bahwa orang lain cuma butuh didengar. Padahal, jadi pendengar yang baik itu bukan soal kasih solusi, tapi soal hadir sepenuhnya buat orang lain. Karena terkadang, yang orang butuhkan bukanlah jalan keluar, melainkan telinga untuk mendengar.
Kalau kamu pengin jadi sosok yang bikin orang merasa aman buat cerita, coba deh latih enam cara berikut supaya bisa jadi pendengar yang lebih empati. Dengan belajar menjadi pendengar, kita akan bisa memahami orang lain dengan lebih baik. Selamat mencoba!
1. Hadir sepenuhnya, jangan sepenuh hati

Kalau ada teman curhat, jangan biarkan perhatianmu terpecah ke hal lain. Taruh dulu ponselmu dan alihkan fokusmu pada orang yang sedang bicara. Dengan begitu, mereka merasa benar-benar dihargai karena kamu memberikan waktumu secara penuh.
Hadir sepenuhnya bukan cuma dalam bentuk fisik, tapi juga emosional. Artinya, kamu mendengarkan dengan kesadaran penuh tanpa mikirin jawaban yang mau dikasih. Cara ini bikin temanmu merasa aman, karena tahu kamu benar-benar ada buat mereka.
2. Dengarkan tanpa menghakimi

Seringkali kita refleks bilang, “Ah, gitu doang?” atau “Menurut aku bisa aja sih.” Padahal, komentar seperti ini bikin orang merasa disepelekan. Mendengarkan tanpa menghakimi berarti membuka ruang supaya orang lain bebas cerita tanpa takut di-judge.
Kamu nggak perlu selalu setuju dengan cerita mereka, tapi cukup terima dulu perasaan yang sedang mereka bagikan padamu. Hindari juga komentar yang meremehkan atau membandingkan dengan pengalamanmu sendiri. Ingat, mereka butuh pendengar, bukan penghakiman.
3. Gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan empati

Bahasa tubuh itu powerful banget dalam komunikasi. Tatapan mata, anggukan kecil, atau bahkan ekspresi wajah yang selaras bisa bikin orang lain merasa lebih tenang. Semua itu menandakan bahwa kamu benar-benar mendengarkan dengan hati.
Kalau tubuhmu condong sedikit ke depan atau mengangguk saat mereka bicara, itu tanda nonverbal yang bikin lawan bicara merasa diperhatikan. Jadi, jangan cuma diam kaku, tapi gunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan empati yang tulus. Belajarlah untuk memahami apa yang mereka sampaikan dan meresponsnya dengan benar.
4. Validasi perasaan mereka

Nggak semua orang butuh solusi, kadang mereka cuma butuh perasaannya diakui. Dengan bilang, “Aku ngerti kalau kamu ngerasa masalah ini berat buatmu,” kamu sudah membantu mereka merasa lebih lega. Validasi bukan berarti kamu setuju, tapi kamu menghargai perasaan mereka.
Saat kamu memvalidasi, orang yang bercerita merasa emosinya valid dan bukan sesuatu yang berlebihan. Respons ini bisa menguatkan hubungan, karena mereka tahu kamu nggak meremehkan apa yang sedang mereka alami. Karena pada akhirnya, setiap orang nggak mau mengalami kesendirian yang menyakitkan dan pertanyaan-pertanyaan terhadap perasaanya sendiri.
5. Tahan diri buat nggak langsung ngasih saran

Memberikan saran mungkin terlihat seperti membantu. Padahal, belum tentu itu yang mereka minta. Terkadang, saran yang kita berikan juga belum tentu cocok untuk masalah yang dihadapi. Jadi, usahakan untuk nggak terburu-buru memberikan saran ketika kamu sedang mendengarkan cerita orang lain.
Belajarlah untuk mendengarkan tanpa ada interupsi. Jadi, coba tahan diri dan biarkan mereka menuntaskan ceritanya dulu. Kalau kamu ragu, tanyakan dengan lembut, “Kamu mau aku kasih saran atau cukup didengerin aja?” Dengan begitu, lawan bicaramu bisa merasa lebih dihargai. Sikap ini juga memberi ruang buat mereka memilih, sehingga komunikasi yang kamu bangun jadi lebih sehat.
6. Jangan takut memberi ruang hening

Kadang, saat orang berhenti bicara, kita buru-buru mengisi keheningan dengan obrolan lain. Padahal, ruang hening justru bisa memberi kesempatan bagi mereka buat mengatur emosi atau melanjutkan cerita dengan lebih dalam. Keheningan juga bisa terasa menenangkan. Dengan membiarkan momen hening itu hadir, kamu menunjukkan bahwa kamu sabar menunggu. Ini yang membuat lawan bicara merasa nggak dikejar waktu, dan mereka bisa bercerita dengan ritme yang lebih nyaman.
Belajar menjadi pendengar yang empati adalah perkara berlatih. Terkadang, hal ini bisa terasa sulit, tapi kamu bisa melakukannya selama melatih enam cara di atas. Intinya, kamu hanya perlu hadir, menghargai perasaan orang lain, dan nggak terburu-buru memberikan respons. Kalau kamu bisa menerapkan ini, percaya deh, orang-orang akan merasa lebih nyaman dan dekat sama kamu.
Sumber referensi:
https://www.self.com/story/how-to-be-a-good-listener
https://www.healthline.com/health/empathic-listening
https://www.verywellmind.com/how-to-try-empathic-listening-8357721
https://www.changingfaces.org.uk/story/becoming-more-empathetic-listener/