5 Alasan Kenapa Sikap Selfless Berlebihan Itu Justru Menyebalkan

Tokoh villain sering digambarkan sebagai sosok egois yang keras kepala mempertahankan keinginannya. Sebaliknya, karakter yang dicintai biasanya adalah sosok selfless yang rela mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Dari layar kaca, semua itu tampak heroik dan bikin penonton terharu. Tapi kalau kamu bayangin terjadi di dunia nyata, rasanya gak selalu semanis itu.
Sikap terlalu terlalu mementingkan orang lain bisa menghadirkan banyak konsekuensi yang gak kamu sangka. Alih-alih mempererat hubungan, yang muncul justru situasi canggung, rasa tertekan, bahkan persoalan baru yang lebih sulit diatasi. Dengan kata lain, selfless lebih sering terasa merepotkan dibanding menenangkan. Seperti lima alasan lain berikut ini.
1. Bikin pilihan jadi ribet

Orang selfless sering kalu bilang, “Terserah kamu aja” atau “Aku ikut aja”. Awalnya mungkin terlihat fleksibel, tapi kalau terus-terusan, keputusan kecil pun jadi bikin capek. Mau makan di mana, nonton apa, atau pilih jadwal ketemu, semuanya jatuh ke tangan kamu. Keputusan yang harusnya sederhana jadi terasa berat. Karena kamu harus memikirkan keinginan sendiri plus kenyamanan mereka yang gak pernah mengucapkan keinginannya.
2. Susah diajak diskusi seimbang

Diskusi perlu dilakukan secara dua arah. Sementara, orang selfless cenderung menyingkirkan pendapatnya sendiri dan membuat obrolan jadi timpang. Kamu sudah bicara panjang lebar, mereka hanya mengangguk atau menegaskan persetujuan. Bukan berarti mereka gak peduli, cuma gak terbiasa untuk mengungkapkan pandangan pribadi. Akibatnya, pembicaraan pun jadi cepat buntu. Topik yang sebenarnya bisa digali lebih dalam berhenti di permukaan. Interaksi terasa lebih mirip seperti kewajiban daripada pertukaran ide yang menyenangkan.
3. Ngasih “bantuan” yang gak diminta

Sikap selfless membuat seseorang ingin menolong bahkan ketika gak ada yang meminta. Misalnya, mereka ngerjain bagian kerjaan kita tanpa bilang dulu, atau ikut campur ngurus masalah pribadi yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri. Niatnya mungkin baik, tapi rasanya justru bikin kesal. Bedanya tipis antara membantu dan ikut campur. Sikap “terlalu peduli” ini bikin orang lain jadi merasa tidak dipercaya. Seolah-olah kamu nggak cukup mampu untuk mengurus hidupmu sendiri, padahal sebenarnya kamu hanya butuh ruang untuk mencoba.
4. Jadi gak tau cara minta tolong

Salah satu hal paling menyebalkan dari orang yang selfless adalah mereka jarang minta bantuan. Mereka lebih suka menanggung semua masalah sendiri, seolah-olah kuat menahan beban. Semua disembunyikan sampai pada akhirnya orang sekitar baru tahu ketika mereka sakit, kelelahan, atau tiba-tiba menghilang dari lingkaran. Mereka memang gak merepotkan, tapi memberi beban mental untuk orang yang benar-benar peduli. Kamu mungkin merasa mereka gak adil karena mengambil alih keputusanmu terkait apakah kamu mau membantu atau tidak.
5. Sulit dibuang senang

Mau bikin orang selfless senang itu ibarat main tebak-tebakan tanpa jawaban. Mereka jarang mengungkapkan apa yang benar-benar mereka sukai. Kalau dikasih hadiah, dibilang “aku suka kok.” Kalau diajak ke tempat tertentu, mereka jawab “aku oke aja.” Akhirnya, kita nggak pernah tahu apakah mereka sungguh bahagia atau cuma basa-basi. Lama-lama, usaha untuk membuat mereka senang jadi terasa sia-sia. Bukannya bahagia karena berhasil menyenangkan orang, kamu malah bingung sendiri.
Selfless yang kebablasan bukan lagi kebaikan, tapi bentuk lain dari ketidakjujuran pada diri sendiri. Dan hubungan apa pun gak akan pernah sehat kalau salah satu pihak memilih diam, pura-pura kuat, atau selalu mengalah. Kalau kata penyanyi Tulus, “Jangan cintai aku apa adanya~”.