Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri
ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/Markus Winkler)

Beberapa tahun lalu, bepergian ke luar negeri identik dengan rasa bebas. Cukup memesan tiket, menyiapkan paspor, lalu berangkat. Namun memasuki 2026, banyak traveler Indonesia mulai merasakan hal yang sama: liburan ke luar negeri terasa semakin ribet, bahkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di bandara.

Keribetan ini bukan hanya soal biaya yang meningkat, tetapi juga aturan yang semakin detail. Negara tujuan kini lebih berhati-hati menerima wisatawan, maskapai menerapkan persyaratan lebih ketat, dan proses administrasi yang dulu bersifat opsional kini berubah menjadi kewajiban. Semua aturan tersebut sah secara hukum, tetapi sering kali terasa melelahkan secara mental bagi pelancong.

Yang membingungkan, sebagian aturan ini tidak selalu diumumkan secara luas. Traveler kerap baru menyadari adanya persyaratan tambahan ketika waktu keberangkatan sudah semakin dekat. Akibatnya, persiapan menjadi terburu-buru dan pengeluaran pun ikut membengkak.

Lalu, apa saja hal yang membuat traveling ke luar negeri pada 2026 terasa jauh lebih ribet dibanding sebelumnya? Berikut lima perubahan yang paling sering dirasakan traveler Indonesia.

1. Persyaratan masuk negara yang makin detail dan spesifik

ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/Magic K )

Masuk ke negara lain di 2026 tidak lagi cukup hanya dengan paspor dan tiket pulang-pergi. Banyak negara kini menuntut persyaratan tambahan yang sangat spesifik, mulai dari bukti asuransi dengan nilai tertentu, alamat penginapan lengkap, hingga itinerary harian yang masuk akal. Masalahnya, detail ini sering berubah dan berbeda tiap negara.

Traveler yang terbiasa dengan persiapan minimal jadi harus ekstra teliti membaca aturan terbaru. Salah satu dokumen saja tidak sesuai, risikonya bisa ditolak masuk atau diminta klarifikasi panjang di imigrasi. Buat traveler santai, kondisi ini terasa menguras energi. Liburan yang seharusnya menyenangkan justru dimulai dengan stres sejak di bandara.

2. Registrasi digital pra-keberangkatan yang tidak bisa dilewatkan

ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/AirTeo )

Di 2026, banyak negara mewajibkan registrasi digital sebelum keberangkatan, meski statusnya bebas visa. Prosesnya memang online dan cepat, tapi tidak bisa dianggap sepele. Salah isi data, salah pilih tanggal, atau terlambat daftar bisa berujung masalah serius.

Beberapa traveler baru sadar pentingnya registrasi ini saat check-in maskapai, ketika sistem menolak boarding karena data belum terverifikasi. Di titik ini, panik sering tak terhindarkan, apalagi jika pendaftaran ulang membutuhkan waktu dan biaya tambahan. Keribetan ini membuat traveling terasa seperti mengurus administrasi, bukan sekadar liburan. Semua harus dicek berulang, tidak bisa lagi mengandalkan spontanitas.

3. Pemeriksaan imigrasi yang lebih ketat dan personal

ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/Mingyang LIU)

Wawancara singkat di imigrasi kini terasa lebih intens. Petugas sering menanyakan detail tujuan, durasi tinggal, hingga rencana aktivitas selama di negara tujuan. Jawaban yang terlalu umum atau ragu-ragu bisa memicu pertanyaan lanjutan.

Buat traveler yang tidak terbiasa, momen ini terasa menegangkan. Padahal niatnya hanya liburan. Sayangnya, banyak negara kini lebih waspada terhadap penyalahgunaan izin tinggal, sehingga pendekatan imigrasi menjadi lebih personal dan mendalam. Tanpa persiapan mental dan dokumen yang rapi, pengalaman ini bisa meninggalkan kesan tidak nyaman di awal perjalanan.

4. Aturan maskapai yang semakin ketat dan minim toleransi

ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/Jake Ryan)

Keribetan traveling tidak hanya datang dari negara tujuan, tapi juga dari maskapai. Aturan bagasi makin ketat, kebijakan reschedule lebih mahal, dan toleransi terhadap kesalahan penumpang makin minim.

Hal-hal kecil seperti salah nama satu huruf, kelebihan bagasi tipis, atau telat check-in beberapa menit bisa berujung biaya tambahan besar. Maskapai cenderung berpegang penuh pada sistem tanpa banyak negosiasi. Buat traveler Indonesia yang terbiasa fleksibel, perubahan ini terasa menyulitkan. Semua harus serba presisi, dari nama di tiket sampai berat koper.

5. Biaya tambahan kecil yang menumpuk diam-diam

ilustrasi melakukan perjalanan ke luar negeri (pexels.com/Gustavo Fring)

Di 2026, traveling jarang gagal karena satu biaya besar. Justru yang bikin ribet adalah biaya kecil yang menumpuk. Mulai dari pajak turis, biaya registrasi digital, asuransi wajib, sampai deposit hotel yang nilainya tidak sedikit. Karena nominalnya terlihat kecil, banyak traveler tidak memasukkannya ke perencanaan awal.

Saat dihitung ulang, total pengeluaran bisa jauh dari estimasi. Rasa “kok mahal, ya?” sering muncul di akhir perjalanan, bukan di awal. Keribetan ini membuat traveler harus lebih cermat dan realistis dalam menyusun budget. Traveling bukan lagi soal murah atau mahal, tapi soal seberapa siap kita menghadapi detail.

Traveling ke luar negeri di 2026 memang belum tentu lebih sulit, tapi jelas lebih rumit. Aturan yang detail, sistem digital, pemeriksaan ketat, dan biaya tersembunyi membuat liburan menuntut persiapan ekstra. Spontanitas masih mungkin, tapi risikonya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu. Bagi traveler Indonesia, kunci agar tetap waras saat liburan adalah informasi dan kesiapan. Semakin paham aturan, semakin kecil peluang liburan berubah jadi pengalaman ribet yang tidak perlu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team