Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengingat Kiprah Ronald Fagundez, si Kucing Lincah di Lapangan Tengah
Eks pemain PSM Makassar yang kini menjadi staf pelatih, Ronald Fagundez, bersama trofi Liga 1 2022-23. (Instagram.com/psm_makassar)

Makassar, IDN Times - Salah satu staf pelatih PSM Makassar, Ronald Fagundez, berulang tahun pada Jumat kemarin (12/5/2023). Di usia 44 tahun, ia bisa tersenyum lebar sebab mendapat medali juara perdana dalam karier sepak bolanya yakni Liga 1 2022-23. Kian istimewa sebab medali tersebut ia peroleh bersama klub pertama yang ia perkuat saat memulai perantauan di Indonesia.

Namun, Ronald tak cuma identik dengan Juku Eja saja. Ia sempat membela tiga klub Indonesia lainnya sebelum pensiun pada tahun 2014. Berikut ini IDN Times mengajak pembaca mengingat sepak terjang playmaker kidal yang dikenal punya umpan-umpan maut tersebut.

1. Langsung nyetel bersama PSM Makassar di musim pertamanya

Ronald Fagundez saat diperkenalkan sebagai staf pelatih baru PSM Makassar di Stadion Kalegowa Pallangga, Kamis 13 Oktober 2022. (Dok. Ofisial PSM Makassar/Agung Dewantara)

Lahir di Montevideo, ibu kota Uruguay, pada 12 Mei 1979, pemilik nama lengkap Ronald Daian Fagundez Olivera tersebut memang sudah menaruh minat pada sepak bola sejak kecil. Klub kasta teratas (Primera División), Huracán Buceo, jadi tempatnya memulai karier profesionalnya pada 1999. Sayang, selama lima musim, tim tersebut selalu berkutat di papan bawah. Huracán bahkan terdegradasi di musim 2001.

Semusim berlaga di Segunda División, Ronald memutuskan merantau ke Indonesia pada awal tahun 2003. Ia datang bersama sang kompatriot, Cristian Gonzales, striker yang sebelumnya memperkuat Deportivo Maldonado. PSM jadi klub Indonesia pertama dalam CV-nya.

Bersama Juku Eja, ia turut andil mengantar klub tersebut finis sebagai runner-up Ligina dua musim beruntun yakni 2003 dan 2004. Liga Champions Asia edisi 2004 dan 2005 juga turut dicicipinya. Oleh mendiang Miroslav Janu, sosok yang identik dengan nomor punggung 28 itu didapuk sebagai sosok sentral di lapangan tengah.

2. Pensiun di PSIS Semarang pada tahun 2014 dengan kasus tragis

Ronald Fagundez (kanan) saat memperkuat PSIS Semarang di ajang Divisi Utama musim 2014. (Instagram.com/ronalddaianfagundezolivera)

Jelang Ligina 2007, Ronald berpisah dengan PSM, klub yang dibela selama empat musim. Ia digaet oleh Persik Kediri, tim yang juga diperkuat Cristian Gonzales. Berseragam ungu hingga pertengahan 2009, dengan prestasi terbaiknya yakni peringkat empat Liga Super Indonesia (LSI) musim 2008-09.

Jelang LSI 2009-10, pemilik julukan El Gato (Si Kucing) itu menerima pinangan Persisam Samarinda (kini menjadi Bali United FC). Lagi-lagi, ia harus gigit jari. Ini lantaran capaian maksimalnya selama membela Persisam hingga akhir tahun 2012 adalah peringkat enam di LSI 2010-11. Klub asal Kota Tepian itu memang lebih banyak berkutat di papan tengah.

Masuk 2013, ia digaet di PSIS Semarang yang saat itu berada di Divisi Utama (kini Liga 2). Sayang, kariernya berakhir tragis di Laskar Mahesa Jenar sebab dianggap terlibat dalam "sepak bola gajah" di babak 8 besar Divisi Utama 2014. Ronald dihukum tak boleh bermain selama lima tahun dan denda Rp250 juta. Meski "diputihkan" pada 2017, tekadnya sudah bulat untuk gantung sepatu di usia 35 tahun usai kena sanksi.

3. Trofi Liga 1 2022-23 jadi piala pertama yang ia angkat sepanjang karier sepak bolanya

Staf pelatih PSM Makassar yakni Ahmad Amiruddin (kiri), Paulo Duarte (tengah) dan Ronald Fagundez (kanan) berpose dengan trofi Liga 1 2022-23. (Instagram.com/psm_makassar)

Lepas dari status pesepak bola profesional, Ronald kemudian menetap di Makassar bersama istri dan anak-anaknya sembari membuka usaha roti. Selain itu, ia masih aktif bermain di level tarkam bersama klub di dalam dan luar Makassar.

Pada Oktober 2022, ia kembali direkrut oleh PSM sebagai salah satu staf kepelatihan pimpinan Bernardo Tavares. Meski tak pernah berada di bench pemain, tugasnya tetap penting yakni menjaga kebugaran para pemain yang tidak dibawa ke pertandingan.

Ronald langsung mendapat medali juara dan ikut memegang trofi kasta tertinggi sepak bola Indonesia di tahun pertamanya meniti karier sebagai pelatih. Masa bakti pemilik postur 1,82 meter tersebut sebaga staf pelatih Pasukan Ramang juga diperpanjang hingga Mei 2024.

Editorial Team