Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Malawing, Legenda Sepak Bola Makassar yang Mahsyur di Surabaya
Ucapan duka cita PSM Makassar atas meninggalkan salah satu legenda mereka yakni Malawing pada 29 Juli 2024. (Instagram.com/psm_makassar)

Makassar, IDN Times - Tak banyak generasi sekarang yang tahu tentang sepak terjang Malawing, pemain PSM Makassar dekade 1970-an. Tapi, berita kepergiannya ke pangkuan sang khalik pada 29 Juli 2024 lalu di usia 68 tahun menjadi kabar duka bagi para suporter dan sesama pemain veteran.

Akhir hidup Malawing terasa mengiris hati, lantaran ia hanya menghabiskan hari dengan terbaring di atas tempat tidur akibat sakit misterius. Sangat bertolak belakang apa yang diingat para rekannya di lapangan hijau dulu: bek kanan tangguh tak kenal kompromi.

Namanya memang dikenal oleh pencinta bal-balan lawas di Makassar dan Surabaya. Ini lantaran kariernya selama satu dekade lebih hanya dihabiskan dua kota tersebut. Berikut IDN Times menyajikan profil eks Timnas Indonesia tersebut, seperti dihimpun dari berbagai sumber.

1. Ikut andil dalam keberhasilan menjuarai Piala Presiden Soeharto 1974

Malawing (jongkok, paling kanan) bersama para pemain PSM Makassar bertemu dengan Presiden Soeharto usai menjadi juara Piala Presiden 1974. (Repro. Majalah PSSI Sepakbola Edisi No. 1 Januari 1975)

Malawing lahir di Makassar pada 16 September 1956. Minatnya pada sepak bola sudah terlihat sejak remaja. Ia selalu memainkan olahraga tersebut di Lapangan Karebosi setelah selesai berjualan koran. Saat itu, Karebosi juga jadi tempat latihan para pemain PSM Makassar yang pada akhir 1960-an memulai proses regenerasi.

Tak sangka, bakat Malawing dicium oleh tim pelatih. Ia kemudian diajak bergabung ke salah satu klub yang dibawahi oleh PSM Ujung Pandang, yakni Persis (Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi). Ini ibarat trial untuk melihat sejauh mana kebolehannya mengolah bola.

Malawing kemudian dipromosikan ke tim utama oleh pelatih kepala PSM saat itu, Ilyas Haddade, pada 1974 atau saat usianya masih 18 tahun. Satu trofi langsung diraihnya yakni gelar Piala Presiden Soeharto 1974 yang mempertemukan empat besar Perserikatan 1973. Ia berseragam merah marun selama tiga tahun, atau hingga 1977.

2. Menyabet dua gelar Galatama selama memperkuat NIAC Mitra Surabaya

Malawing (jongkok, paling kiri) bersama para pemain NIAC Mitra jelang salah satu pertandingan Galatama musim 1982/1983. (Dok. Istimewa)

Setelah lima tahun berseragam PSM, Malawing memutuskan hengkang ke luar Makassar. Ia menerima tawaran dari klub asal Surabaya, NIAC Mitra, pada 1978. Saat itu, tim yang dimiliki pengusaha Agustinus Wenas tersebut sedang bersiap mengikuti musim pertama kompetisi semiprofesional pertama di Indonesia yakni Galatama pada 1979/1980.

Saat itu, NIAC Mitra juga dihuni sejumlah pemain asal Sulawesi Selatan lainnya yakni Dullah Rahim dan Yusuf Malle. Malawing ikut andil dalam keberhasilan NIAC Mitra menjadi juara Galatama 1980-1982 dan 1982/1983 alias dua kali beruntun. Ia bahkan sempat merasakan trofi kejuaraan Aga Khan Gold Cup 1979 yang berlangsung di Bangladesh.

Malawing memperkuat NIAC Mitra hingga tahun 1983. Di pengujung kariernya, ia memilih kembali ke Makassar untuk memperkuat PSM hingga pensiun. Satu trofi dipersembahkan, yakni gelar Piala Jusuf 1984, di mana mereka menekuk Makassar Utama dengan skor 1-0.

3. Kembali ke PSM untuk menghabiskan tahun-tahun terakhir kariernya

Malawing (jongkok, paling kanan) berpose bersama para pemain PSM Makassar jelang final Piala Jusuf 1984 melawan Makassar Utama pada 8 Mei 1984 di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging Makassar. (Dok. Istimewa)

Setelah gantung sepatu, bek yang sempat menjadi langganan Timnas di akhir dekade 1970-an tersebut kembali ke PSM pada era 1990-an. Tentu saja bukan sebagai pemain, melainkan kitman atau pengurus perlengkapan tim. Di masa itu, Malawing sempat menyaksikan Juku Eja menjadi jawara Liga Indonesia musim 1999/2000. Tugas tersebut diembannya hingga tahun 2009.

Setelah jasanya tak lagi dipakai oleh PSM, Malawing menjadi salah satu pengurus Lapangan Karebosi. Saat itu, area terbuka hijau tersebut memang sering digunakan untuk berlatih oleh sejumlah tim sepak bola. Tapi, sakit yang dideritanya sejak 2020 membuat Malawing harus berhenti total dari semua aktivitas.

Kini, sosok yang meninggalkan satu istri dan lima putra tersebut sudah berpulang. Terima kasih atas segala sumbangsih untuk sepak bola Indonesia!

Editorial Team