Comscore Tracker

Nurdin Abdullah Imbau Masyarakat Sulsel Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem

Nurdin sebut DAS Jeneberang kritis

Makassar, IDN Times - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah meminta seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kerawanan bencana yang kemungkinan bakal muncul seiring dengan masuknya puncak musim hujan.

Pada puncak musim hujan, kata Nurdin, potensi banjir karena sungai meluap bisa terjadi sewaktu-waktu. Sebab, menurutnya, Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Jeneberang di Kabupaten Gowa saat ini telah dinyatakan berstatus kritis karena pendangkalan lantaran masifnya alih fungsi lahan di kawasan tersebut.

"Hulu kita ini bermasalah. Jadi saya ingin sampaikan, kenapa kita harus siap siaga karena ini menghadapi curah hujan yang ekstrem. Kalau curah hujan normal, Bili-bili ini mampu menahan air kita," kata Nurdin usai memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana di Tribun Lapangan Karebosi Makassar, Rabu (8/1).

Sebagai informasi, Sungai Jeneberang merupakan sungai utama di DAS Jeneberang yang terletak di lereng barat Gunung Lompobattang. Aliran sungai ini dikendalikan oleh Bendungan Bili-bili yang mampu menyediakan air baku sebesar 3300 liter/detik dengan luas areal irigasi 24.585 Ha.

1. Pembangunan Bendungan Jenelata dianggap akan memberi solusi banjir

Nurdin Abdullah Imbau Masyarakat Sulsel Siaga Hadapi Cuaca EkstremApel Kesiapsiagaan Bencana di Lapangan Karebosi Makassar, Rabu (8/1). IDN Times/Asrhawi Muin

Nurdin menjelaskan, Makassar memiliki potensi bencana alam, seperti banjir yang terjadi saat musim hujan. Seperti diketahui, banjir di Gowa awal Januari 2019 lalu merendam ribuan rumah akibat meluapnya Sungai Jeneberang karena hujan yang terus mengguyur. Karena hal ini, pintu air Bendungan Bili-bili pun terpaksa dibuka yang kemudian berdampak ke beberapa daerah lainnya.

Untuk mencegah banjir kembali terulang di wilayah Gowa, Makassar, Maros,  Takalar, dan Jeneponto seperti tahun lalu, maka pemerintah, jelas Nurdin, segera membangun bendungan baru, yakni Jenelata. Bendungan ini nantinya dianggap mampu mereduksi banjir ke Gowa dan Makassar saat curah hujan tinggi.

"Makanya Jenelata ini akan kita bangun cepat. Butuh anggaran cukup besar itu senilai Rp 1,7 triliun. Kalau Jenelata selesai baru kita punya rasa aman bagi kita yang berada di kota. Oleh karena itu sambil kita mempersiapkan pertolongan ketika terjadi sesuatu, juga kita kawal dengan doa semoga curah hujan normal," ujar Nurdin.

2. Selain Jeneberang, masih ada sejumlah daerah yang rawan banjir

Nurdin Abdullah Imbau Masyarakat Sulsel Siaga Hadapi Cuaca EkstremBasarnas Makassar

Lebih lanjut Nurdin menyebutkan, sejumlah DAS juga bernasib sama dengan DAS Jeneberang, seperti DAS Walanae di Kabupaten Bone dan DAS Saddang Kabupaten Enrekang yang juga mengalami pendangkalan akibat perambahan hutan yang berlebihan. 

Untuk itu, kata Nurdin, semua daerah perlu waspada banjir selama musim hujan. Dia pun meminta agar masing-masing Pemda bersama-sama dengan Pemprov untuk bersiapsiaga jikalau banjir kembali terjadi.

"Ketika terjadi apa-apa, semuanya menjadi mudah kalau kita semua mengambil peran. Hari ini kita hadir siapa mengerjakan apa. Ketika terjadi sesuatu, meski kita tidak minta-minta ya, semua bisa bergerak termasuk yang membidangi logistik," kata Nurdin.

Baca Juga: Hujan Melanda Beberapa Hari, Kota Makassar Siaga Banjir

3. Pemerintah akan fokus pada konservasi lahan

Nurdin Abdullah Imbau Masyarakat Sulsel Siaga Hadapi Cuaca EkstremApel Kesiapsiagaan Bencana di Lapangan Karebosi Makassar, Rabu (8/1). IDN Times/Asrhawi Muin

Nurdin juga menekankan soal pentingnya prinsip mitigasi bencana sebagai langkah awal mengurangi risiko bencana. Hal ini sangat penting salah satunya untuk mengevakuasi ketika terjadi bencana.

Meski begitu, hal terpenting saat ini adalah mengedepankan program konservasi lahan. Menurut Nurdin, konservasi lahan adalah sesuatu yang tidak bisa lagi ditawar jika melihat masifnya alih fungsi lahan. 

"Konservasi mengembalikan fungsi hutan yang rusak. Karena kita rasakan ketika masuk musim kemarau kita kekurangan air, ketika musim hujan kita kelebihan air. Jadi tidak seimbang. Makanya keseimbangan alam perlu dikembalikan," katanya.

Baca Juga: Hujan Berjam-jam, Tinggi Muka Air Bendungan Bili-bili di Bawah Normal

Topic:

  • Asrhawi Muin
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya