Comscore Tracker

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 

Banjir bandang paling parah terjadi di Masamba, Juli silam

Makassar, IDN Times - Bencana banjir masih menjadi momok bagi seluruh warga Sulawesi Selatan (Sulsel). Pengalaman buruk di awal tahun 2019 sedikit banyak membuka mata tentang pentingnya daerah resapan air, menjaga drainase dan menjaga ekosistem di hulu sungai.

Pada awal tahun 2020, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel telah memetakan daerah-daerah yang dianggap berisiko terdampak bencana di musim cuaca ekstrem. Ada 24 kabupaten/kota yang masuk kategori zona merah, termasuk Makassar. 

"Tidak bisa kita pastikan bahwa ini (daerah) tidak jadi perhatian semua harus jadi perhatian. Yang kita fokuskan sekarang adalah, cara mengantisipasinya, meminimalisir agar tidak ada korban," kata Kepala BPBD Sulsel kala itu, Syamsibar kepada IDN Times pada Sabtu 4 Januari.

1. Awal tahun 2020 dibuka dengan bencana banjir yang melanda enam kabupaten/kota

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 Banjir di Kelurahan Palanro, Kecamtan Mallusetasi, Barru, Minggu (12/1). IDN Times/Istimewa

Tahun 2020 dibuka dengan banjir yang terjadi di enam kabupaten/kota, yaitu Maros, Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang dan Soppeng, pada Minggu 12 Januari. Banjir merendam puluhan rumah, sawah hingga jalan raya. Ketinggiannya variatif, mulai dari sebatas mata kaki hingga dada orang dewasa.

Di Dusun Bulu Dua, Desa Balusu, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, banjir dilaporkan membuat 121 kepala keluarga terisolasi. Akibat terlambat mengungsi, mereka terpaksa berdiam di rumah yang sebagian besar bermodel panggung. Banjir turut memutus akses keluar dari desa.

Tercatat ada dua korban jiwa di banjir Januari. Pertama adalah Sinar, warga Sumpang Ala, Kecamatan Mariorawa, Kabupaten Soppeng. Lalu ada MR, bocah lima tahun di Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru.

"MR meninggal saat banjir menerjang di belakang Kantor Kecamatan Balusu," kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Barru AKP Sainuddin, saat dikonfirmasi.

2. Bencana banjir di Bantaeng dan Soppeng pada Juni 2020 merusak tujuh rumah dan menelan korban jiwa satu orang

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 Bencana banjir di Kabupaten Bantaeng, Sulsel. IDN Times/Basarnas Makassar

Pada Sabtu 4 April, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Alhasil, tinggi muka air Sungai Rantepao dan Sungai Palau sempat naik menjadi 3,48 meter. Longsor juga terjadi di sejumlah titik salah satunya di Kamali Pentalluan, Makale, dan menutup sejumlah ruas jalan.

Selain itu, longsor juga terjadi di Lembang Randanbatu, Kecamatan Makale Selatan. Longsor ini menelan korban jiwa 3 orang warga. Ketiganya diketahui merupakan satu keluarga.

Jumat 12 Juni, banjir terjadi di tujuh kelurahan di Kecamatan Bantaeng dan Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut bahwa banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Calendu. Penampungan Cekdam Balang Sikuyu ikut jebol karena debit air yang tinggi.

Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia. Menurut informasi dari Badan SAR Nasional (Basarnas) Makassar, korban merupakan pemuda 19 tahun, warga Kampung Beru, Kecamatan Bissappu.

Selain di Kabupaten Bantaeng, bencana banjir dan tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Jeneponto. Dilaporkan bahwa longsor terjadi di Jembatan Belong Paloe dan Kampung Tokka, Desa Rumbia, Kecamatan Rumbia. Empat rumah dikabarkan tertimbun longsor, satu hanyut, dua rusak parah.

Banjir di Jeneponto terjadi masing-masing di Kecamatan Rumbia, Turatea, Tarowang, Binamu dan Tamalatea. Adapun wilayah terdampak parah yakni Rumbia, Jombe, Sepanang, Munthe, Tino, Lebang Manai, Balang dan Pallantikang.

Baca Juga: Basarnas Hentikan Operasi Tanggap Bencana di Bantaeng dan Jeneponto  

3. Bencana banjir bandang di Masamba, Luwu Utara, pada Juli 2020 membuat lebih dari 14 ribu penduduk mengungsi dan menelan korban jiwa puluhan orang

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 Warga memerhatikan rumah yang tertimbun lumpur akibat terjangan banjir bandang di Kecamatan Masammba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2020). (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) pada Senin 13 Juli agaknya jadi yang paling parah. Luapan Sungai Masamba, Sungai Rongkang dan Sungai Radda akibat hujan deras membuat ibu kota Lutra, Masamba, dan sekitarnya diterjang banjir disertai material lumpur dengan ketinggian mencapai lebih dari dua meter.

Dalam data Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 4.930 keluarga terkena dampak banjir. Mereka tersebar di 6 kecamatan yakni Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat. 

Sementara itu, BPBD Sulsel mencatat korban terdampak bencana mencapai 3.627 kepala keluarga atau 14.483 jiwa. Mereka mengungsi di tiga kecamatan yang jadi lokasi terdampak paling parah, yakni Sabbang, Baebunta, dan Masamba.

Sejumlah infrastruktur pun rusak akibat bencana banjir bandang. Seperti jalan penghubung antar kecamatan hingga jalur Trans Sulawesi. Rusaknya saluran milik PDAM membuat pengungsi kesulitan memperoleh air bersih untuk memasak dan keperluan sanitasi.

Korban jiwa akibat bencana banjir bandang Masamba mencapai 38 orang. Namun hingga operasi pencarian berakhir pada Sabtu 25 Juli, masih ada 9 korban hilang belum ditemukan.

Baca Juga: WALHI Duga Polda Sulsel Diintervensi Soal Penyelidikan Banjir Masamba

4. Banjir Makassar baru-baru ini memaksa lebih dari 3 ribu warga mengungsi

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 Sejumlah pengendara menerobos banjir di Jalan Paccerakkang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (18/12/2020). ANTARA FOTO/Arnas Padda

Bencana banjir terbaru menimpa Kota Makassar. Hujan lebat sejak Jumat malam, 18 Desember, menyebabkan sejumlah titik di dalam kota digenangi air. Wilayah terdampak adalah daerah yang selama ini jadi langganan banjir yakni Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, dan Antang.

BPBD Sulsel mencatat ada 3.143 orang menjadi korban terdampak bencana banjir Kota Makassar. Kepala BPBD Sulsel Ni'mal Lahamang mengatakan, seluruh korban telah diungsikan di sejumlah lokasi di tiga kecamatan berbeda.

Di Kecamatan Biringkanaya, titik banjir terjadi di Kompleks Kodam III, Kelurahan Katimbang dan Paccerakkang. Di dua lokasi itu korban berjumlah 1.264 jiwa. Jumlah pengungsi mencapai 448 jiwa, dengan titik pengungsi Masjid Grand Rahmani dan perumahan Grand Mutiara Paccerakkang.

Kemudian, di Kecamatan Tamalanrea, tepatnya di Perumahan BTP Blok AF, Kelurahan Katimbang. Korban di sana berjumlah 400 Kepala Keluarga (KK). "Sementara perumahan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat masih didata," ujar Ni'mal.

Titik lokasi banjir lainnya, lanjut Ni'mal, berada di Perumnas Antang, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala. BPBD mencatat, jumlah korban di daerah itu sebanyak 494 KK dengan total 1879 jiwa.

Baca Juga: WALHI Sulsel Sebut Tiga Faktor Penyebab Banjir di Makassar

5. Degradasi fungsi sungai, pembalakan liar dan buruknya drainase jadi penyebab seluruh bencana banjir di Sulsel selama tahun 2020

[KALEIDOSKOP] Bencana Banjir Jadi Momok di Sulsel Sepanjang 2020 ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Penyebab seluruh bencana banjir di Sulawesi Selatan selama tahun 2020 disebut berasal dari kerusakan lingkungan. Organisasi independen Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Selatan menyebut ada dua faktor utama penyebab banjir bandang Masamba.

"Yang pertama itu karena faktor pembalakan hutan berskala besar, seperti illegal logging. Kemudian pembukaan lahan yang diperuntukan perkebunan kelapa sawit yang menggerus kondisi wilayah hutan di sana," ungkap Direktur Eksekutif WALHI Sulsel Muhammad Al Amin kepada IDN Times, Rabu 22 Juli.

Menurut analisis WALHI selama dua tahun terakhir, daerah Lutra memang berpotensi mengalami longsor dan banjir bandang. Kerawanan bencana bisa diantisipasi jika kondisi alam terjaga. Namun selain membawa material air bercampur lumpur, potongan kayu pun terseret. Menurut Amin, ini adalah hasil pembabatan hutan di kawasan hulu.

Sedangkan untuk musibah banjir di Makassar baru-baru ini, Amin menyebut ini adalah dampak dari degradasi sungai akibat masifnya aktivitas yang merusak bagian hulu. Mulai dari penebangan liar, hingga aktivitas pertambangan. Eksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, kata Amin, berimbas pada menurunnya daya dukung sungai.

"Kondisi anak sungai dua daerah itu (Jeneberang, Kabupaten Gowa dan sungai di Kabupaten Maros) mengalami degradasi. Penurunan. Aliran-aliran sungai itu juga mengalami pendangkalan. Karena hulunya rusak," jelas Amin pada Rabu, 23 Desember.

Alhasil terjadi banjir kiriman yang melanda kawasan pemukiman warga yang berbatasan langsung dengan daerah lainnya. Sedangkan banjir genangan yang terjadi di kompleks perumahan elite terjadi akibat buruknya sistem penataan dan pengelolaan drainase.

Baca Juga: Korban Banjir di Makassar Mengungsi Bersama Bayi Usia 2 Minggu 

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya