Sebelum memaparkan kondisi atau potret hutan yang ada di Sulsel saat ini, saya kira penting menginformasikan soal tren bencana yang ada di Sulsel. Kami coba mengulik data dari BNPB, ternyata Sulsel itu dalam rentan 10 tahun terakhir itu bisa dikategorikan sebagai kawasan atau wilayah yang rawan bencana. Karena data dari tahun 2014 sampai tahun 2024, terjadi tiga kali lipat lonjakan angka kejadian bencana. Jadi, dari 2014 itu, datanya hanya 54 angka kejadian bencana, kemudian di tahun 2024 itu angkanya menjadi 165.
Nah, ini kan timbul pertanyaan, ada apa dengan Sulsel karena masuk sebagai salah satu wilayah atau daerah yang rawan bencana. Nah, dari situlah kami kemudian mulai mengkaji ulang atau mengkaji kembali tren deforestasi, ternyata memang kami temukan beberapa fakta atau data soal kenaikan atau laju deforestasi. Ini kami mengitung secara total sebenarnya, dari tahun 2001 sampai 2024, artinya 24 tahun atau 25 tahun, itu Sulsel sudah kehilangan hutan atau tutupan hutannya, itu seluas 90.342 hektare.
Bagaimana luasnya itu? Itu setara dengan 119.425 lapangan sepak bola. Nah, itu jadi baru bisa dibayangkan luasnya kan. Itu kondisi hutan yang kemudian hilang di Sulsel. Praktis saat ini hutannya itu hanya tersisa sekitar 1.315.488 hektare.
Nah, luasan hutan tersisa ini atau tutupan hutan yang tersisa ini, itu kan biasanya di crosscheck lagi angka minimal ambang batas tutupan hutan di satu daerah. Sebelum ada Omnibus Law Cipta Kerja itu kan angkanya minimal 30 persen. Nah, 1.315.488 hektare tadi itu kemudian dibandingkan dengan luas daerah Provinsi Sulsel, itu ternyata tutupan hutan kita sudah berada di bawah angka 30 persen. Angkanya 28,74 persen.
Makanya karena ambang batas sudah seperti itu, makanya tren bencananya juga naik karena tren deforestasi atau kehilangan tutupan hutan itu juga masif dari beberapa tahun belakang.
Faktor dominan dari hasil kajian kami itu sebenarnya memiliki tingkat yang beragam. Cuma yang kami dapati yang paling dominan itu adalah kehilangan tutupan hutan akibat aktivitas ekstraktif seperti pertambangan dan juga ekspansi perkebunan skala besar seperti sawit. Dua faktor inilah yang kemudian menyumbang pengaruh pengurangan laju tutupan hutan di Sulawesi Selatan. Selain misalnya faktor pembangunan infrastruktur itu juga ada, atau misalnya perkebunan-perkebunan yang kemudian merambah di sekitar hutan itu juga ada. Cuma yang paling sedulikan karena dia sifatnya ekspansif itu adalah pertambangan dan perkebunan skala besar seperti misalnya sawit dan lain-lain.