Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[WANSUS] Magis I La Galigo di Mata Penulis Luwu Alvin Sulfatri
Potret Alvin Setiawan (Alvin Shul Vatrick), penulis asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. (Dok. Alvin Setiawan)

Makassar, IDN Times - Bertepatan dengan puncak Festival Budaya Serengenna Luwu, 23 Januari lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu menyerahkan buku Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo kepada Abdul Hayat Gani, Sekretatis Provinsi Sulawesi Selatan. Turur hadir dalam seremoni tersebut adalah sang penulis yakni Alvin Sulfatri.

Lebih dikenal dengan nama pena Alvin Shul Vatrick, pria kelahiran Desa Keppe, 18 Oktober 1977, tersebut sejatinya sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Puisi-puisinya kerap menghiasi kolom sastra sejumlah surat kabar lokal dan nasional. Nama Alvin juga dikenal sebagai tokoh literasi di Tana Luwu dan sekitarnya.

Namun, ia mencoba hal baru kala menggarap saduran puitikal epos I La Galigo. Untuk pertama kalinya, Alvin kembali ke tradisi lisan turun temurun leluhur Bugis. Tak ayal, karya kesembilannya itu ibarat "kado sekaligus surat cinta" atas warisan para tetua, sekaligus jadi bukti baktinya dalam upaya pelestarian budaya.

Dirilis oleh Penerbit Aden Jaya pada September 2021, buku setebal 940 halaman itu disambut hangat oleh pegiat sastra dan budayawan. Terlebih apa yang Alvin lakukan adalah bagian dari upaya menjaga ruh I La Galigo tetap menyala.

Di sela kesibukannya, Alvin meluangkan sejenak waktunya untuk berbicara dengan IDN Times pada Kamis kemarin (3/2/2022). Lewat sambungan telepon, pria 44 tahun itu bercerita banyak hal. Mulai dari proses kreatif, segala hambatan, hingga opini tentang I La Galigo dan budaya. Berikut wawancara lengkapnya.

Berapa lama sih proses penggarapan buku ini?

Sampul buku "Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo" yang disusun Alvin Shul Vatrick. (Dok. Istimewa)

Untuk totalan waktu yang dibutuhkan untuk menulis ulang jilid pertama hingga jilid dua belas itu memakan waktu empat bulan. Namun pernah sempat saya istirahat dari jilid tiga hingga keempat cukup lama, ada sekitar enam bulan tidak menulis. Pokoknya menulisnya tiap malam.

Sumber naskah yang dipilih berasal dari mana?

Tangkapan layar naskah digital I La Galigo NBG-Boeg 188 yang disusun Arung Kencana Colliq Pujie dan B.F. Matthes yang dimiliki oleh Universitas Leiden, Belanda. (Leiden University Libraries - Digital Collections)

Sumber referensinya sendiri itu naskah I La Galigo (NBG-Boeg 188) di Leiden University, Belanda. Naskahnya bisa diakses secara daring. Di samping itu, sebelumnya saya mempelajari transliterasi dari almarhum Drs. Muhammad Salim dan beberapa sumber lain. Termasuk banyak berdiskusi dengan orang-orang yang menurut saya mumpuni jadi narasumber tempat saya bertanya saat menggarap naskah tersebut.

Mana lebih duluan dilakukan? Menulis naskahnya atau riset lontaraq?

Transliterasi naskah I La Galigo NBG 188 yang jadi salah satu sumber buku "Romansa Purba di Stanza I La Galigo". (Dok. Alvin Setiawan)

Prosesnya bersamaan. Ketika sedang menulis kemudian tersandung dengan bahasa To Ware', yang kini disebut sebagai bahasa Bugis Kuno, ada yang saya tidak paham apa artinya, saya kembali mencari orang yang saya anggap mampu dan bisa memberi pencerahan apa arti kata tersebut. Sebagai salah satu contoh, ada anggota Dewan Adat Duabelas dan Sembilan Kedatuan Luwu, La Oddang Opu To Sessungriu, Andi Nila Ferawati Opu Daengna Batari, ada Dr. Syamsul Hilal Ramsyah. Ada beberapa teman-teman pemerhati budaya juga yang jadi teman diskusi saya. Referensi utamanya tetap naskah transliterasi naskah I La Galigo oleh mendiang Muhammad Salim, yang disusun Retna Kencana Colliq Pujie dan diberikan pada B.F. Matthes, dan kini disimpan di Leiden dengan nomor NBG 188.

Hambatan yang dihadapi cuma dari segi bahasa, ya?

Salah satu potongan naskah epos I La Galigo yang dipamerkan di Museum I La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Lebih tepatnya, bahasa dan pranata. Pranata itu adalah wari', yang merupakan aturan (menyusun setiap larik, red.). Itu yang saya perhatikan, sebab saya menulis sambil mempelajarinya. Sebagai contoh, setiap tokoh punya beberapa nama. Sawerigading juga dikenal sebagai La Madukelleng, To Appnyompa, Lawe' dan sebagainya. Menurut saya ini mungkin luput dari beberapa penulis sebelumnya, sehingga saya tertarik untuk memperhatikan itu.

Karena ada hal yang luput dari penulis-penulis sebelumnya dalam buku ini, apa ada perbedaan mencolok dengan hasil olahan naskah I La Galigo yang lain?

Bupati Luwu Basmin Mattayang (kiri) saat menyerahkan buku prosa puitis "Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo" pada Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani, 23 Januari 2022. (Dok. Humas Pemprov Sulsel)

Saya tak bisa berkesimpulan hal itu. Karena kenapa? Saya belum tuntas membaca karya-karya mereka, hanya beberapa. Yang jelas beberapa pembaca mengaku lebih mudah memahami karena struktur bahasa yang sederhana. Karena itu yang saya perhatikan, bagaimana naskah ini dipahami oleh orang-orang umum, dari anak-anak sampai dewasa. Agar orang-orang yang belum pernah mendengar I La Galigo bisa memahami. Dan itu tadi, pranata dan kesastrawiannya tetap terjaga. Karena ada beberapa bagian, karena namanya juga saduran bebas, terutama bagian percakapan yang saya ubah jadi versi saya, tanpa mengubah substansi makna.

Bisa cerita tentang karier kepenulisan Alvin secara singkat?

Beberapa sampul buku karya penulis asal Luwu, Alvin Setiawan. (Dok. Istimewa)

Saduran stanza I La Galigo ini adalah karya saya yang kesembilan. Kalau aktif menulis di sekitar 2016, menulis dalam artian yang dibukukan. Tapi sebelumnya saya sudah rutin menulis di media cetak, apalagi waktu itu media online masih jarang. Memang saat masih sekolah, saya sering mewakili sekolah di lomba menulis puisi dan prosa. Kalau aktifnya 2016, karena waktu itu saya ditunjuk sebagai koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia untuk wilayah Sulawesi. Kami punya kegiatan setiap tahun. Dan pada tahun 2017, saya diajak kolaborasi dengan salah satu pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Pusat judulnya "Senandung Tinta Jingga" (FAM Publishing). Kemudian di tahun yang sama ada juga buku puisi "Sepisau Rindu." Lalu di tahun 2018 ada "Gending Sunyi" (FAM Publishing), "Wasiat Sunyi" dan "Risalah Sunyi" (kedua buku dirilis oleh Penerbit Rose Book). Yang tiga tadi bukan trilogi karena kebetulan saya suka diksi "sunyi" (tertawa).

Tahun 2019 saya menulis kumpulan puisi "Setapak Menuju Nun" (Penerbit Aden Jaya) yang terpilih sebagai pemenang kategori Buku Terpuji dalam penghargaan yang diadakan Yayasan Hari Puisi Indonesia 2019. Dan dapat lagi nominasi pada 2020 untuk buku "Belantara Penghambaan." Terus menulis "Surat dari Si Gila" dan ada novel "Purnama di Langit Borneo." Kemudian "Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo."

Kalau melihat tema di karya-karya sebelumnya, ini baru pertama kali fokus ke budaya?

Penulis asal Luwu, Alvin Setiawan (Alvin Shul Vatrick), di tengah kesibukan menggarap naskah salah satu karyanya. (Dok. Alvin Setiawan)

Betul. Sebenarnya bukan diniatkan ke budaya. Awalnya saya melihat di Luwu ini literasi masih minim. Minat baca begitu minim, apalagi minat menulis. Jadi saya mulai mengajak teman-teman pegiat literasi lokal berpikir apa yang kira-kira bisa dilakukan. Agar orang-orang tertarik membaca dan belajar. Kami mencari apa hal yang menarik di bahas hari ini, dan menurut saya adalah I La Galigo. Kami kemudian mengadakan diskusi di sana-sini, membicarakan lontaraq tersebut. Memang butuh waktu yang ekstra, siang malam, dan harus banyak bertanya serta mencari referensi. Sebab meski sudah ditransliterasikan, masih banyak kata yang memiliki pemaknaan berbeda. Karena dalam aksara lontaraq itu, jika cara baca beda maka maknanya beda. Bukan seperti huriuf Latin yang memiliki huruf mati. Masih banyak contoh yang bahan pertimbangan, sih.

Berbicara dari sudut pandang penulis, apa studi I La Galigo ini sudah memadai?

Transliterasi naskah I La Galigo NBG 188 yang jadi salah satu sumber buku "Romansa Purba di Stanza I La Galigo". (Dok. Alvin Setiawan)

Kalau menurut saya sih, tidak akan pernah ada habisnya. Karena sering, ketika keluar daerah, saya mendapat cerita-cerita yang masih terkait dengan I La Galigo dan Sawerigading. Dan (latar) masanya itu sangat jauh. Artinya bukan protes atau kritik, saya justru malah senang karena justru itu jadi legitimasi untuk terus mengangkat cerita ini. Tidak perlu baper (tertawa), bahwa itu bukan (bagian dari I La Galigo). Tidak usahlah. Menurut saya itu adalah pengembangan. Ini adalah budaya, dan yang membesarkan budaya adalah narasi.

Karena tradisi I La Galigo ini lekat dengan tradisi cerita lisan orang Sulsel, apa ada harapan bahwa buku ini bisa menjadi referensi yang juga dikenal generasi muda?

(Ilustrasi) Dok. Djarum Foundation

Kalau untuk hal ini, sudah ada beberapa teman dari Jawa yang tertarik belajar. Ke depannya ada wacana untuk mengemasnya dalam bentuk yang lain. Apakah itu cerita bergambar agar anak kecil bisa ikut menikmati ceritanya, apakah itu mungkin dibuat dalam bentuk novel, atau semacam film, atau animasi. Sudah banyak tawaran ke saya. Dan salah satunya dari salah satu kawan di Surakarta, anak seni rupa. Ia sudah datang dan mendapat bukunya. Ia minta izin mengambil beberapa bagian untuk dibuatkan menjadi cerita bergambar.

Terakhir, apa harapan untuk karya terbarunya?

Penulis Alvin Setiawan (Alvin Shul Vatrick, kanan) saat menyerahkan buku "Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo" garapannya kepada Sekretaris Pemprov Sulsel yakni Abdul Hayat Gani (kiri) dalam acara puncak Pekan Budaya Sengerenna Luwu, 23 Januari 2022. (Dok. Huswani Chemestry)

Kalau harapan, saya tak ingin muluk-muluk. Biarkan buku itu yang menentukan nasibnya sendiri. Kalau di Luwu sendiri, kita sudah kerja sama dengan Dinas Pendidikab dan Kebudayaan untuk mengedarkan buku di perpustakaan sekolah-sekolah, atas instruksi bapak Bupati Luwu. Sudah diedarkan ke publik, tapi saya masih membatasi. Beberapa penerbit mayor sudah meminta naskah untuk didistribusikan secara nasional. Tapi saya belum mau. Karena misi saya adalah masyarakat Luwu yang harus mendapatkannya lebih dulu.

Editorial Team