Makassar, IDN Times - Praktik pelaporan media massa di Indonesia masih kurang pada isu kesehatan. Kalaupun ada, cenderung menitikberatkan pada isu kesehatan yang bersifat sensasional, seperti kasus kelumpuhan atau kematian, sementara fungsi edukasi rutin kepada masyarakat dinilai masih kurang.
Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku, Henky Widjaja dalam kegiatan workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar, Sabtu (29/11/2025).
Dia menyoroti bahwa media cenderung memberi perhatian besar hanya pada isu kesehatan yang memiliki nilai berita tinggi. Hal ini biasanya terkait dengan kasus yang tragis atau kontroversial.
"Sayangnya, untuk isu kesehatan, media lebih tertarik pada hal-hal yang ‘seksi.’ Ya, ketika ada kasus, apakah itu kelumpuhan atau kematian, baru (diberitakan secara besar-besaran). Tapi fungsi edukasinya juga jadi kurang," kata Henky.
Fokus yang terlalu kuat pada kasus-kasus akut dan dramatis ini, menurutnya, mengakibatkan fungsi edukasi media menjadi terpinggirkan. Padahal, edukasi publik dianggap krusial, terutama setelah era desentralisasi di mana alokasi dana pemerintah untuk komunikasi dan advokasi kesehatan cenderung diminimalkan.
