Peringatan: Artikel ini memuat kisah yang dapat mengganggu kenyamanan sebagian pembaca
Makassar, IDN Times - Setiap ketukan pintu membuat tubuh AW (22) menegang. Panggilan dari nomor tak dikenal kerap memicu rasa cemas yang datang tanpa aba-aba.
Kekerasan seksual yang dialaminya memang telah berlalu, tetapi dampaknya belum. Trauma itu berlapis. Berasal dari relasi kuasa di tempat kerja, ancaman yang membungkam, hingga stigma yang menyertainya setelah kisahnya menyebar di ruang digital.
AW adalah pekerja perempuan di sektor informal. Jam kerja panjang, upah minim, dan ketergantungan ekonomi membuat posisinya rapuh sejak awal. Dalam situasi seperti itu, diam kerap terasa sebagai pilihan paling aman. Hingga suatu dini hari, dari ruang yang tak memberinya perlindungan, AW mengirim pesan singkat kepada ayahnya.
“Pak, jemput saya. Saya tidak tahan.”
Pesan tersebut menjadi penanda bahwa sesuatu yang lebih serius sedang terjadi. Peristiwa yang bermula dari relasi kerja sehari-hari, lalu berubah menjadi kekerasan di ruang privat yang tertutup dari pengawasan siapa pun.
Peristiwa itu bermula saat AW dipanggil oleh majikannya pada sore hari, dengan alasan pekerjaan yang dianggap bermasalah.
AW bekerja pada usaha nasi kuning portable, yang berjualan di mobil, milik pasangan suami istri di kawasan Jalan Hertasning Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Jam kerjanya panjang, dari pukul 19.00 hingga sekitar pukul 11.00 WITA keesokan hari, dengan upah Rp60 ribu per hari.
Sore itu, AW dipanggil oleh majikan perempuan dengan alasan kesalahan input pekerjaan. Dia mengira panggilan itu hanya sebentar. Motor tetangga kemudian dipinjamnya untuk datang ke lokasi jualan. Namun setibanya di sana, korban justru dibawa ke rumah majikan di daerah Barombong.
"Di sanalah baru dia diinterogasi dan disuruh mengaku berselingkuh sama suami majikannya," tutur pendamping korban dari Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP), Alita Karen, saat ditemui IDN Times, Senin (2/2/2026).
Tuduhan tersebut berawal dari informasi sepihak yang disampaikan rekan sesama penjual nasi kuning. Tanpa proses klarifikasi, korban dipukul, dijambak, dan tidak diizinkan pulang. Dalam kondisi tertekan, korban sempat menelepon dan mengirim pesan Whatsapp kepada keluarga pada dini hari. Pesan itu diterima keluarga sekitar pukul 03.00 WITA.
"Subuh itu jam tiga, ada beberapa kali panggilan tidak terjawab ke bapaknya. Terakhir dia bilang gini, Pak jemput saya di Barombong. Tidak tahan ka (saya tidak tahan), saya disiksa sama majikanku," kata Alita menirukan isi pesan AW.
