Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Klenteng Thian Hou Kiong, Ternate
Seorang anak keturunan Tionghoa memanjatkan doa saat bersembahyang pada Tahun Baru Imlek 2577 di Klenteng Thian Hou Kiong, Ternate, Maluku Utara, Selasa (17/2/2026). (ANTARA FOTO/ Andri Saputra)

Makassar, IDN Times - Perayaan Imlek 2026 bagi Gen Z di Makassar tetap menjadi momen sakral yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Kendati gaya hidup semakin modern, ritual penghormatan kepada leluhur tetap terjaga dengan penuh khidmat di tengah keluarga.

Ferry, 28 tahun, menceritakan bahwa ritual dimulai sehari sebelum Imlek sebagai bentuk syukur atas perlindungan di tahun sebelumnya. Sembahyang ini dilakukan untuk memohon berkah, agar langkah di tahun baru senantiasa mendapat kelancaran.

1. Hari Raya Imlek identik dengan kebiasaan makan-makan keluarga

Ilustrasi makanan Indonesia. (Unsplash.com/Haryo Setiadi)

"Kami melakukan sembahyang untuk leluhur, mengucapkan terima kasih atas 'penjagaannya' di tahun kemarin dan memohon berkah untuk tahun yang baru ini," ujar Ferry saat diwawancarai IDN Times pada Selasa (17/2/2026) malam.

Inti perayaan disebut berasal dari dapur. Ferry mengatakan bahwa sang ibu punya kebiasaan menyiapkan berbagai hidangan khas seperti capcay, sup, hingga ayam goreng. Semua makanan tersebut ditata rapi di atas meja makan lengkap dengan lilin, dupa, dan gelas-gelas kecil berisi teh serta arak.

"Semuanya diletakkan di meja makan, ada lilin dan tempat simpan dupa. Mama masak apa aja lah, ada kue juga beserta buah," tambah pemuda yang berprofesi sebagai wiraswastawan tersebut.

2. Menjadi momen untuk bertemu keluarga, termasuk berbagi angpao

Ilustrasi angpao. (Unsplash.com/Bach Nguyen)

Sementara itu, Jovi (26 tahun) menyebut Imlek bagi keluarganya sebagai momen mempererat tali silaturahmi yang terkadang harus melintasi batas kota. Baginya, berkumpul bersama sanak saudara adalah inti dari perayaan setahun sekali ini.

"Tradisi dengan keluarga itu beragam. Kadang saya dan keluarga rayakan Imlek di Makassar, kadang di luar kota juga karena ada keluarga lain di sana," jelas lelaki yang berprofesi sebagai karyawan swasta tersebut kepada IDN Times.

Aktivitas utama yang dinanti adalah tradisi bagi-bagi angpao kepada anggota keluarga yang lebih muda. Lebih jauh, omen makan bersama turut menjadi ruang untuk berbagi cerita dan mempererat hubungan antar generasi.

"Kegiatannya seperti biasa ya. Bagi-bagi angpao dari orang yang telah menikah, kumpul keluarga, dan makan bersama," ungkap Jovi.

3. Banyak harapan baik dipanjatkan di Tahun Kuda Api

Warga keturunan Tionghoa bersembahyang di Kelenteng Xian Ma, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (17/2/2026). ANTARA FOTO/Hasrul Said/bar

Lantas bagaimana harapan mereka di Tahun Kuda Api? Ferry berharap mampu menjaga ketenangan batin di tengah dinamika hidup. Selain keteguhan hati, doa untuk kesejahteraan fisik dan finansial juga menjadi poin utama dalam harapannya.

"Semoga kita bisa lebih mengontrol hawa nafsu dan emosi, lebih bijak dalam bersikap, lebih sabar dan tabah pada semua cobaan yang diberikan. Semoga juga semuanya diberikan kelancaran, entah itu rezeki ataupun kesehatan. Segala pekerjaan dimudahkan dan dijauhkan dari hal buruk," harap Ferry.

Sementara itu, Jovi menggantungkan harapan agar segala persoalan yang dihadapi menemukan jalan keluar. Ia optimis bahwa tahun 2026 akan menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, terutama untuk orang-orang di sekelilingnya.

"Semoga segala masalah cepat terselesaikan. Untuk keluarga dan teman-teman, semakin lebih baik lagi dari tahun kemarin jika memang masih banyak yang kurang. Semoga apa yang diinginkan semua tercapai, wish all the best lah untuk semua," pungkas Jovi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team