Salah satu massa dari Aliansi Keramat saat orasi di depan Hotel Claro Makassar yang merupakan lokasi Rakernas PSI di Makassar, Sulsel, Kamis (29/1/2026) IDN Times / Darsil Yahya.
Fahrul mengatakan, aksi unjuk rasa yang mereka lakukan bukan untuk menggangu Rakernas PSI, tapi untuk menyampaikan permasalahan yang ada di Indonesia, seperti kasus dugaan korupsi yang diduga melibatkan rezim Jokowi dan tidak becusnya Raja Juli Antoni sebagai Menteri Kehutanan.
"Mantan Kemenag Yaqut pernah ber-statement bahwa adanya dugaan keterlibatan Joko Widodo terkait kuota haji, kedua terkait hasil sidang Ahok soal dugaan kasus korupsi impor minyak, Ahok menyatakan bahwa Joko Widodo dan BUMN perlu diperiksa. Sehingga Aliansi Keramat menduga kuat mantan presiden ini diduga terlibat korupsi impor minyak," kata Fahrul saat ditemui di sela-sela aksi unjuk rasa.
Selain itu, mereka juga menyoroti kebijakan-kebijakan saat Jokowi menjabat presiden selama 10 tahun. Menurutnya, banyak kebijakan Jokowi yang tidak pro terhadap rakyat, seperti Omnibus Law atau Cipta Kerja.
"Sehingga kami dengan tegas akan menolak kedatangan Jokowi karena berbagai kebijakan yang hadir hari ini yang dibuat oleh Jokowi, dosanya ditanggung oleh rakyat," tegasnya.
Sedangkan untuk kasus kerusakan hutan di Indonesia, Fahrul menyebut bahwa Raja Juli Antoni dianggap tidak mampu menjaga hutan, salah satu contohnya bencana di Sumatra diduga terjadi akibat adanya kerusakan hutan.
"Permasalahan yang terjadi di Sumatra tidak terlepas dari rusaknya hutan akibat adanya pembalakan liar dan bentuk tanggung jawab dari Menteri Kehutanan," tuturnya.