Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Hadapi Kemarau di Makassar: Hemat Air hingga Cegah ISPA
Ilustrasi musim kemarau. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pemerintah Kota Makassar menyiapkan rencana kontingensi dan masterplan penanganan kekeringan untuk menghadapi musim kemarau 2026 agar warga tetap tenang dan siap siaga.
  • Warga diimbau menghemat air, waspada kebakaran akibat suhu tinggi, serta menjaga kesehatan dengan memakai masker dan memperbanyak konsumsi air putih.
  • BPBD Makassar menyediakan tandon air dan layanan pelaporan darurat melalui aplikasi Lontara atau call center 112 untuk mempercepat penanganan krisis air bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Makassar sekarang musim kemarau, jadi udara panas dan air jadi sedikit. Pak Fadli dari BPBD bilang orang harus hemat air buat mandi dan masak. Harus hati-hati juga biar tidak ada api yang bikin kebakaran. Orang diminta pakai masker supaya tidak sakit ISPA. Pemerintah sudah siap kasih tandon air kalau orang butuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Memasuki musim kemarau 2026, warga di Makassar diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Potensi kekeringan mulai terasa, terutama di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengimbau masyarakat tetap tenang. Pemerintah kota telah menyiapkan rencana kontingensi dan masterplan penanganan kekeringan.

"Kami harapkan kepada masyarakat untuk tidak usah terlalu panik. Karena kejadian kekeringan ini sudah ada pengalaman tahun 2023," kata Fadli, Jumat (1/5/2026).

Berikut sejumlah langkah yang bisa diterapkan warga untuk menghadapi musim kemarau.

1. Hemat penggunaan air sejak dini

Ilustrasi air bersih. (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Krisis air bersih menjadi dampak utama saat kemarau. Warga diminta mulai mengatur penggunaan air agar tidak terjadi kekurangan.

Gunakan air seperlunya untuk kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, dan memasak. Jika memungkinkan, maka simpan cadangan air di rumah untuk kondisi darurat.

"Untuk krisis air, kami kepada masyarakat untuk bagaimana supaya dia bisa hemat air," kata Fadli.

2. Waspada risiko kebakaran

Ilustrasi kebakaran. (IDN Times/Aditya Pratama)

Cuaca panas dan kering membuat risiko kebakaran meningkat. Api lebih mudah menyebar, terutama di lingkungan dengan banyak material mudah terbakar.

Pastikan kompor dalam kondisi aman setelah digunakan. Matikan aliran listrik saat meninggalkan rumah, dan hindari aktivitas yang berpotensi memicu api.

"Masyarakat harus tetap waspada karena suhu udara yang meningkat sehingga perpindahan api lebih cepat," kata Fadli.

3. Jaga kesehatan cegah ISPA

Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

Udara kering saat kemarau dapat memicu gangguan kesehatan. Kondisi ini terutama meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan seperti ISPA.

Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di area berdebu. Perbanyak konsumsi air putih dan jaga kebersihan lingkungan.

"Jangan sampai ada penularan yang cepat terhadap penyakit pernapasan ini. Dan kita harapkan juga untuk tetap di tempat tertutup, memakai masker," kata Fadli.

4. Manfaatkan bantuan dan fasilitas pemerintah

Mobil operasional PDAM Makassar mengangkut air bersih untuk didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan/Istimewa

BPBD Makassar menyiapkan hingga 1.000 tandon air untuk membantu distribusi di wilayah terdampak. Saat ini, sekitar 100 unit sudah mulai disalurkan.

Warga dapat memanfaatkan bantuan ini melalui koordinasi dengan pemerintah setempat atau melapor jika mengalami krisis air. Warga juga bisa memanfaatkan tangki air yang disiapkan PDAM.

"Untuk kekeringan atau krisis air ya kita siapkan semua peralatan. Pengangkutan airnya tetap PDAM. Tandon juga kita sudah siapkan," kata Fadli.

5. Segera lapor jika terjadi kondisi darurat

Logo aplikasi LONTARA+ milik Pemerintah Kota Makassar. (PlayStore)

Jika mengalami kesulitan air bersih atau kondisi darurat lainnya, maka warga diminta segera melapor ke BPBD. Laporan juga dapat disampaikan melalui aplikasi Lontara atau layanan call center 112.

Laporan tersebut akan ditindaklanjuti oleh instansi terkait. Penanganan diharapkan bisa lebih cepat dan terkoordinasi.

"Di aplikasi Lontara itu akan diturunkan stakeholder yang menangani segala macam laporan itu atau keluhan-keluhan itu," kata Fadli.

Editorial Team