BRT di Makassar. IDN Times / Aan Pranata
Pengamat Transportasi Universitas Muslim Indonesia, Lambang Basri, menilai pengelolaan Teman Bus harus berdasarkan pada sustainable management dan kolektivitas management jika pemerintah tak ingin moda transportasi tersebut bernasib sama dengan BRT.
"Manajemen itu harus mampu memberikan sesuatu layanan yang bersinergi. Yang kemarin (BRT) ini kan tidak sinergi," kata Lambang.
Lambang menilai harus ada kendaraan pengumpan atau feeder jika Teman Bus mau berjalan lancar. Maksudnya, angkutan kota Makassar yaitu pete-pete dan angkutan lainnya bisa lewat di jalur yang sama.
"Semua fasilitas angkutan umum lewat di situ. Artinya masyarakat sepenuhnya memilih secara bebas," katanya.
Jika tujuan Teman Bus untuk mengajak masyarakat pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum, maka pemerintah harus menjamin bahwa masyarakat bisa benar-benar mengaksesnya.
"Karena bus (BRT) ini datangnya 10 menit, 20 menit kadang-kadang tidak jelas, makanya masyarakat tidak percaya lagi. Kalau harapannya terpenuhi, secara pelan-pelan orang juga akan beralih dari angkutan pribadi ke angkutan umum," katanya.