Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rilis resmi berita statistik BPS Sulsel, Senin (2/2/2026). (Dok. YouTube Provinsi Sulawesi Selatan)
Rilis resmi berita statistik BPS Sulsel, Senin (2/2/2026). (Dok. YouTube Provinsi Sulawesi Selatan)

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Januari 2026 mencapai 4,11 persen. Tekanan kenaikan harga tersebut terjadi merata di seluruh wilayah pemantauan dan mencerminkan dinamika harga yang masih cukup kuat di awal tahun.

"Pada bulan Januari 2026 secara year on year terjadi inflasi sebesar 4,11%," kata Plt. Kabag Umum BPS Provinsi Sulawesi Selatan Khaerul Agus dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).

Secara umum, inflasi dipicu oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Meski demikian, sejumlah kelompok pengeluaran juga tercatat mengalami deflasi dan ikut menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.

1. Inflasi terjadi di seluruh wilayah

ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

BPS Sulsel melaporkan inflasi y-on-y Sulawesi Selatan pada Januari 2026 sebesar 4,11 persen. Inflasi ini sejalan dengan kenaikan harga secara umum di berbagai kelompok pengeluaran, yang mencerminkan meningkatnya biaya hidup masyarakat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,47 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) hingga Januari 2026 juga tercatat 0,47 persen, mengingat Januari merupakan bulan pertama pada tahun berjalan.

Dari sisi kewilayahan, inflasi y-on-y terjadi di seluruh delapan kabupaten/kota yang menjadi daerah pemantauan IHK di Sulawesi Selatan. Kabupaten Sidenreng Rappang mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,63 persen, sedangkan Kota Makassar mengalami inflasi terendah, yakni 3,82 persen.

2. Perumahan, perawatan pribadi, dan pangan penyumbang utama inflasi

Ilustrasi perumahan (pu.go.id)

Inflasi y-on-y Januari 2026 terjadi karena adanya kenaikan harga di mayoritas kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi cukup tinggi, mencapai 11,67 persen, dan menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi tahunan di Sulawesi Selatan.

Kenaikan harga di kelompok ini terutama dipicu oleh lonjakan tarif listrik, serta peningkatan biaya sewa dan kontrak rumah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pengeluaran rutin rumah tangga, sehingga memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.

Selain perumahan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi secara tahunan, yakni 16,07 persen. Kelompok ini memberikan andil besar terhadap inflasi, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan serta sejumlah produk perawatan pribadi.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan Inflasi y-on-y pada Januari 2026, antara lain: tarif listrik sebesar 1,46 persen, emas perhiasan sebesar 1,19 persen, beras sebesar 0,24 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,13 persen, ikan layang/ ikan benggol sebesar 0,12 persen, ikan cakalang/ ikan sisik sebesar 0,11 persen, sigaret kretek mesin (skm) sebesar 0,1 persen, telur ayam ras sebesar 0,1 persen, ikan teri sebesar 0,05 persen, sewa rumah sebesar 0,05 persen dan udang basah sebesar 0,05 persen.

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tetap menjadi penekan inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,59 persen, dengan kontribusi besar berasal dari komoditas beras, berbagai jenis ikan, telur ayam ras, serta produk rokok.

Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil cukup besar terhadap inflasi m-to-m. Kenaikan harga ikan segar dan beberapa komoditas pangan hortikultura menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada Januari 2026.

3. Deflasi di sejumlah kelompok menahan laju kenaikan harga

Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

Di tengah tekanan inflasi, BPS Sulsel mencatat beberapa kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,30 persen, seiring turunnya harga sejumlah komoditas sandang.

Deflasi juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,34 persen. Penurunan harga produk pembersih dan perlengkapan rumah tangga menjadi faktor utama yang menahan inflasi di kelompok ini.

Selain itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,39 persen. Penurunan harga telepon seluler dan laptop menjadi salah satu faktor yang menekan kelompok ini, meskipun jasa keuangan justru mengalami inflasi.

BPS Sulsel juga mencatat sejumlah komoditas memberikan kontribusi besar terhadap inflasi Januari 2026, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, serta berbagai komoditas ikan. Sementara itu, penurunan harga di beberapa kelompok pengeluaran membantu menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi di awal tahun.

Editorial Team