Ilustrasi perumahan (pu.go.id)
Inflasi y-on-y Januari 2026 terjadi karena adanya kenaikan harga di mayoritas kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi cukup tinggi, mencapai 11,67 persen, dan menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi tahunan di Sulawesi Selatan.
Kenaikan harga di kelompok ini terutama dipicu oleh lonjakan tarif listrik, serta peningkatan biaya sewa dan kontrak rumah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pengeluaran rutin rumah tangga, sehingga memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.
Selain perumahan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi secara tahunan, yakni 16,07 persen. Kelompok ini memberikan andil besar terhadap inflasi, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan serta sejumlah produk perawatan pribadi.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan Inflasi y-on-y pada Januari 2026, antara lain: tarif listrik sebesar 1,46 persen, emas perhiasan sebesar 1,19 persen, beras sebesar 0,24 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,13 persen, ikan layang/ ikan benggol sebesar 0,12 persen, ikan cakalang/ ikan sisik sebesar 0,11 persen, sigaret kretek mesin (skm) sebesar 0,1 persen, telur ayam ras sebesar 0,1 persen, ikan teri sebesar 0,05 persen, sewa rumah sebesar 0,05 persen dan udang basah sebesar 0,05 persen.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tetap menjadi penekan inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,59 persen, dengan kontribusi besar berasal dari komoditas beras, berbagai jenis ikan, telur ayam ras, serta produk rokok.
Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil cukup besar terhadap inflasi m-to-m. Kenaikan harga ikan segar dan beberapa komoditas pangan hortikultura menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada Januari 2026.