Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi tanaman tembelekan.
Ilustrasi tanaman tembelekan. (Vengolis, Lantana camara 2997, CC BY-SA 4.0)

Makassar, IDN Times - Penduduk Sulawesi Selatan sejak lama dikenal memiliki hubungan yang erat dengan alam, termasuk dalam hal pengobatan tradisional. Di pedesaan, tanaman yang sering dianggap sebagai rumput liar atau gulma ternyata adalah "apotek hidup" yang penuh manfaat.

Di daerah perkotaan, tanaman obat tersebut juga biasa ditemui tumbuh di tepi jalan atau bahkan lahan kosong. Nah, berikut adalah 6 tanaman obat yang lazim digunakan penduduk Sulsel untuk pertolongan pertama berbagai penyakit, seperti dihimpun dari artikel ilmiah "Keragaman Jenis Tumbuhan Obat Indigenous di Sulawesi Selatan" yang diterbitkan Jurnal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JAKKI) pada 2017 lalu.

1. Bandotan (Ageratum conyzoides L.)

llustrasi tanaman bandotan. (Dinesh Valke from Thane, India, Ageratum conyzoides L.? (51642372429), CC BY-SA 2.0)

Di banyak daerah Sulsel, bandotan sering ditemukan tumbuh liar di pekarangan. Tanaman ini dikenal ampuh untuk mengobati luka sayat atau luka luar. Penduduk biasanya menumbuk daunnya hingga halus, lalu menempelkannya pada luka untuk menghentikan pendarahan. Selain itu, rebusan daunnya juga dipercaya bisa menurunkan demam, asam lambung hingga peradangan.

Senyawa bioaktif dalam bandotan memberinya sifat farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Sehingga tanaman ini sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk penyembuhan luka hingga mengatasi jerawat di wajah.

2. Kirinyuh (Eupatorium odoratum L.)

Ilustrasi tanaman kirinyuh. (Krish Dulal, Eupatorium odoratum, CC BY-SA 3.0)

Kirinyuh adalah primadona untuk urusan luka luar yang lebih serius. Masyarakat sering menggunakannya sebagai obat darurat saat terluka, terutama oleh petani saat beraktivitas di sawah. Cukup dengan meremas daunnya sampai keluar sarinya, lalu dioleskan pada bagian luka untuk mencegah infeksi.

Berdasarkan temuan yang dipublikasikan Traditional Medicine Journal pada 2010, daun kirinyu memang senyawa antibakterial dengan jumlah signifikan. Mulai dari flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, steroid, terpenoid, dan fenol.

3. Insulin (Tithonia diversifolia (Hemsl.) A. Gray.)

Ilustrasi tanaman insulin. (Dinesh Valke from Thane, India, Tithonia diversifolia (5193571351), CC BY-SA 2.0)

Meski memiliki bunga kuning yang cantik mirip bunga matahari, tanaman insulin punya manfaat medis yang besar. Sesuai namanya, penduduk lokal sering memanfaatkan rebusan daunnya untuk membantu menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Kendati rasanya sangat pahit, tapi khasiatnya sudah diakui secara turun-temurun.

Selain mengontrol gula darah, daun insulin juga dipercaya ampuh menjaga kesehatan jantung. Lebih jauh, senyawa bioakifnya juga disebut ampuh melancarkan pencernaan (prebiotik) dan mempercepat penyembuhan luka.

4. Hiptis (Hyptis capitata Mart. & Gal.)

Ilustrasi tanaman hyptis. (© 2010 Jee & Rani Nature Photography (License: CC BY-SA 4.0), Hyptis capitata at Kadavoor, CC BY-SA 4.0)

Tanaman dengan bentuk bunga bulat seperti bola kecil ini sering ditemukan di pinggir jalan setapak menuju hutan atau kebun. Tapi, khasiatnya tidak main-main. Hiptis biasanya digunakan masyarakat untuk mengobati sakit perut atau masalah pencernaan. Selain itu, akar atau daunnya yang direbus sering dipakai sebagai jamu pemulihan pasca melahirkan bagi ibu-ibu di pedesaan.

Hasil penelitian yang dipublikasikan jurnal Biota pada Oktober 2020 menyebut bahwa senyawa senyawa bioaktif dalam hiptis juga berfungsung untuk beberapa penyakit. Antara lain menurunkan gula darah, mengatasi diare, demam, dan nyeri.

5. Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.)

Ilustrasi tanaman patikan kebo. (Krish Dulal, Euphorbia hirta NP, CC BY-SA 3.0)

Jangan remehkan tanaman mungil yang tumbuh di sela-sela semen atau trotoar pinggir jalan ini. Patikan kebo dikenal luas sebagai obat gangguan pernapasan, seperti asma atau batuk berdahak. Masyarakat percaya bahwa getah atau rebusan tanaman ini mampu melegakan saluran napas dan mengencerkan lendir.

Dilansir oleh situs resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2 Juli 2025, peneliti dan dosen IPB yakni Dr. Dimas Andrianto menjelaskan bahwa patikan kebo mengandung berbagai senyawa aktif. Mulai dari flavonoid, fenolik, tanin, terpenoid, saponin, steroid, dan antrakuinon. Senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antifungi, dan antiseptik.

6. Tembelekan (Lantana camara L.)

Ilustrasi tanaman tembelekan. (PumpkinSky, Lantana camara NBG LR, CC BY-SA 4.0)

Dikenal karena bunganya yang warna-warni dan baunya yang khas, tembelekan ternyata memiliki manfaat kesehatan pada bagian daun dan akarnya. Penduduk Sulsel sering memanfaatkannya sebagai obat gatal-gatal pada kulit (luka dan bisul) atau penyakit rematik.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Toxicol Res (Camb) edisi Januari 2021 menjelaskan bahwa daun tembelekan juga biasa digunakan untuk mengatasi demam, batuk, influenza, sakit perut, malaria, dan lain-lain. Tapi, penggunaannya harus hati-hati karena tanaman ini memiliki kandungan senyawa yang cukup keras jika dosisnya tidak tepat.

Itu dia 6 tanaman obat yang biasa digunakan oleh masyarakat Sulsel. Mana tanaman yang paling sering kamu temui di depan rumah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team