Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Simulasi SPMB Makassar 2026, Warga Masih Bingung Mekanisme Login NISN
Ilustrasi SPMB. ANTARA FOTO/Galih Pradipta
  • Warga Makassar masih bingung login SPMB 2026 berbasis NISN di aplikasi LONTARA+, sehingga masa simulasi diperpanjang hingga 21 Mei 2026 untuk penyempurnaan sistem.
  • Pemerintah menemukan beberapa NISN tidak terbaca karena data siswa belum tersinkronisasi dengan Dapodik, dan sekolah diminta memperbarui laporan ke Kemendikdasmen.
  • Pemkot Makassar memperkuat sistem SPMB dengan pemisahan server per jenjang pendidikan serta uji ketahanan berulang guna menjaga stabilitas saat lonjakan akses pendaftaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Sebagian masyarakat di Makassar masih mengalami kebingungan saat mengakses sistem Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Salah satu kendala yang banyak ditemui terkait mekanisme login menggunakan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN).

Persoalan ini muncul selama masa simulasi pendaftaran yang tengah berlangsung. Sejumlah orang tua dan calon peserta didik belum memahami alur masuk ke sistem berbasis digital yang terintegrasi dengan aplikasi LONTARA+.

Akibat kendala tersebut, masa simulasi SPMB 2026 untuk jenjang TK, SD, dan SMP diperpanjang hingga 21 Mei 2026. Hal ini untuk memberi ruang penyempurnaan sistem sekaligus memastikan layanan berjalan lebih stabil saat pendaftaran resmi dibuka.

1. Login berbasis NISN otomatis hasilkan akun peserta

Ilustrasi PPDB (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Tim Ahli Pemerintah Kota Makassar Bidang Percepatan Digitalisasi, Andi Gita Namira Patigana, menjelaskan sistem login tahun ini dirancang berdasarkan data NISN. Data tersebut tersambung langsung dengan basis data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). 

Dalam mekanisme tersebut, peserta yang NISN-nya sudah terdaftar akan otomatis memperoleh akun berupa username dan password. Akun tersebut digunakan untuk mengakses sistem SPMB 2026 melalui LONTARA+.

Sementara itu, calon peserta didik yang datanya belum tercatat diwajibkan mengisi formulir pendaftaran terlebih dahulu. Data tersebut akan diproses lebih lanjut dalam sistem.

"Masih terdapat masyarakat yang belum memahami alur login. Karena itu, kami terus melakukan penyempurnaan agar sistem lebih mudah dipahami dan lebih human-centered," kata Gita.

2. Temuan kendala NISN belum terbaca saat simulasi

Ilustrasi PPDB. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Gita menjelaskan konsep human-centered diterapkan dalam sistem SPMB 2026. Tujuannya agar alur pendaftaran lebih sederhana dan mudah dipahami oleh orang tua maupun calon peserta didik selama proses berlangsung.

Selain persoalan pemahaman login, Pemkot juga menemukan kendala NISN yang tidak terbaca saat simulasi pendaftaran berlangsung. Kondisi tersebut terjadi akibat data siswa yang belum tersinkronisasi melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

"Kami telah melakukan penelusuran terkait kendala NISN yang tidak ditemukan saat proses pendaftaran," kata Gita.

Menurut Gita, seluruh data yang digunakan dalam sistem bersumber langsung dari Kemendikdasmen. Karena itu, sekolah wajib memastikan data siswa telah diperbarui dan dilaporkan secara lengkap.

3. Sistem diperkuat untuk hadapi lonjakan akses

Ilustrasi PPDB (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Simulasi SPMB 2026 mencakup seluruh jenjang pendidikan, yakni TK, SD, dan SMP, dengan mekanisme pendaftaran yang disesuaikan pada masing-masing jenjang. Sistem ini juga menerapkan skema zonasi berdasarkan domisili sebagai bagian dari seleksi berbasis wilayah.

Untuk mengantisipasi lonjakan akses, Pemkot memperkuat sistem. Salah satunya dengan memisahkan server berdasarkan jenjang pendidikan untuk mengurangi risiko gangguan sistem.

"Pemecahan server dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan akses agar sistem tetap stabil. Selain itu, kami juga telah melakukan uji ketahanan sistem hingga tiga kali dengan simulasi beban pengguna yang lebih besar," kata Gita.

Editorial Team