ilustrasi pria sedang berzikir (pexels.com/Michael Burrows)
Secara praktik, tata cara Tarawih mengikuti rukun salat pada umumnya. Ibadah ini dikerjakan setelah salat Isya hingga sebelum Subuh, baik secara berjamaah maupun sendiri, dengan bacaan dan gerakan yang sama seperti salat sunnah lainnya.
Setiap rakaat diawali dengan niat di dalam hati, dilanjutkan membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an, rukuk, sujud, hingga salam. Salat kemudian ditutup dengan witir sebagai penyempurna salat malam, sebagaimana dicontohkan dalam hadis-hadis tentang qiyam Nabi.
Dalam pelaksanaan dengan formasi 4-4-3, salat tarawih dikerjakan sebanyak 4 rakaat sekaligus dengan satu kali salam. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya tasyahud awal.
Setelah sujud pada rakaat kedua, jemaah langsung berdiri tegak melanjutkan rakaat ketiga.
Duduk tasyahud akhir hanya dilakukan pada rakaat keempat sebelum salam.
Lakukan hal ini sebanyak dua kali (total 8 rakaat).
Praktik ini merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
"Rasulullah saw tidak pernah menambah, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat, maka jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rangkaian ibadah malam ditutup dengan salat Witir sebanyak 3 rakaat. Sesuai tuntunan, 3 rakaat ini dikerjakan secara bersambung (sekaligus) dengan satu kali salam. Penting untuk dicatat bahwa dalam salat Witir ini juga tidak dilakukan tasyahud awal pada rakaat kedua. Hal ini bertujuan agar tata caranya tidak menyerupai salat Maghrib.
"Janganlah kalian menyamakan salat witir dengan salat Maghrib." (HR. An-Nasa'i) (Maknanya adalah larangan melakukan duduk tasyahud awal layaknya salat Maghrib).
Setelah salam, disunahkan membaca dzikir berikut sebanyak tiga kali:
"Subhaanal malikil qudduus" (Maha Suci Allah Raja Yang Maha Suci)
Pada bacaan ketiga, suara dipanjangkan dan dikeraskan, lalu ditambahkan bacaan: "Rabbul malaaikati warruuh" (Tuhan para malaikat dan Jibril).
Menyambut Ramadan 2026, memahami dalil dan tata cara salat Tarawih membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan lebih mantap. Dengan merujuk hadis-hadis sahih tarawih dapat dijalankan sebagai ibadah malam yang penuh makna dan keutamaan. Semoga Ramadan menjadi momentum memperkuat iman dan kualitas ibadah setiap muslim.