Makassar, IDN Times - Titik terang mulai muncul dalam pencarian pesawat yang hilang kontak di Sulawesi Selatan. Tim SAR gabungan menemukan sejumlah serpihan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, pada Minggu pagi (18/1/2026). Temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian.
Pesawat nomor PK-THT sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu hilang kontak pada Sabtu siang (17/1/2026). Pesawat rute Yogyakarta-Makassar membawa sepuluh orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan berdasarkan laporan pergerakan di lapangan, pada pukul 07.46 WITA tim menemukan serpihan awal berupa potongan kecil jendela pesawat di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT.
“Tak berselang lama, tepat pukul 07.49 WITA, tim kembali menemukan bagian badan pesawat berukuran besar,” kata Arif Anwar dalam keterangan tertulisnya, Minggu.
Selanjutnya, pada pukul 07.52 WITA, tim menerima informasi bahwa bagian pundak pesawat telah terbuka. Pada waktu yang sama, ditemukan pula bagian ekor pesawat yang berada di sebelah selatan lereng bawah lokasi kejadian.
“Seiring perkembangan ini, unsur SAR terus menyesuaikan pergerakan dan menggeser SRU (Search and Rescue Unit/regu SAR) ke titik-titik yang diprioritaskan,” ujarnya.
Pemantauan dari udara menggunakan Helikopter Caracal juga membuahkan hasil. Pada pukul 08.02 WITA, SRU aju kembali melihat serpihan besar dari udara. Namun, kondisi medan yang terjal membuat tim membutuhkan perlengkapan tambahan. Pada pukul 08.11 WITA, tim mengajukan permintaan peralatan mountaineering atau climbing untuk menjangkau lokasi temuan.
Arif Anwar menuturkan, temuan serpihan tersebut menjadi petunjuk krusial dalam operasi pencarian. “Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian. Tim SAR gabungan saat ini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan,” ujar Arif.
Ia menambahkan, kondisi medan di lokasi kejadian cukup ekstrem dan menantang. “Beberapa titik berada di area lereng dan membutuhkan peralatan mountaineering. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama kami dalam menjalankan operasi ini,” tegasnya.
Operasi SAR melibatkan berbagai unsur, antara lain Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav, Paskhas, serta masyarakat setempat. Hingga kini, proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung. Perkembangan terbaru akan disampaikan secara resmi sesuai dengan hasil di lapangan.
