Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pesawat ATR 42-500.
Ilustrasi pesawat ATR 42-500. (Kreuzschnabel, ATR 42-500 F-GPYM, CC BY-SA 3.0)

Makassar, IDN Times - Dunia penerbangan menghadapi tantangan besar pada pada era 1970-an. Ini lantaran krisis minyak global akibat aksi boikot OPEC (yang didominasi negara-negara Arab) ke semua negara pendukung Israel. Alhasil, ini membuat biaya operasional maskapai mendadak meroket.

Ini terjadi lantaran rute jarak pendek era tersebut didominasi oleh pesawat jet awal yang boros bahan bakar atau pesawat turboprop tua dari era pasca-Perang Dunia II. Industri dirgantara butuh solusi baru: sebuah pesawat yang tidak hanya hemat bahan bakar, tapu juga mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek dan terbatas di daerah terpencil.

1. Dilahirkan dari hasil konsorsium dua perusahaan dirgantara Eropa

Ilustrasi pesawat ATR 42-500. (Ronnie Robertson, ATR 42-500 G-LMRB MG 0126 (49725460406), CC BY-SA 2.0)

Menjawab tantangan tersebut, dua raksasa dirgantara memutuskan untuk bekerja sama. Pada 4 November 1981, perusahaan Aérospatiale dari Prancis (sekarang bagian dari Airbus) dan Aeritalia dari Italia (sekarang Leonardo S.p.A) menandatangani perjanjian kemitraan. Mereka melahirkan konsorsium bernama ATR (Avions de Transport Régional), yang bermarkas di Toulouse, Prancis, sebuah kota yang dikenal sebagai jantung kedirgantaraan Eropa.

Robert F. Dorr dalam buku 365 Aircraft You Must Fly (Voyagur Press, 2025) menulis bahwa desain penggunaan sayap atas (high-wing) di atas kabin memungkinkan pesawat ATR mendarat dengan aman di bandara perintis yang landasannya kerap tak beraspal atau banyak kerikil. Posisi mesin dan baling-baling yang lebih tinggi dari permukaan tanah turut memberi pandangan luas bagi penumpang karena tidak terhalang sayap.

"Berkat jendela besar berbentuk persegi panjang, setiap model ATR menyuguhkan pemandangan panorama yang luas bagi penumpang. Di sisi lain, pesawat ini juga menjadi favorit para pilot karena sistem kendalinya yang sangat halus dan responsif," tulis Robert.

2. Mengudara pada tahun 1995, seri 42-500 adalah hasil pengembangan 42-400

Ilustrasi kokpit pesawat ATR 42-500. (Wikimedia Commons/Bernard Gagnon)

Produk pertama mereka, ATR 42-300, sukses besar di pasaran karena efisiensinya sejak diluncurkan pada akhir tahun 1985. Tapi, seiring berjalannya waktu, tuntutan penumpang mulai bergeser. Masyarakat ingin pesawat baling-baling yang tidak terlalu bising dan memiliki performa lebih kuat, terutama untuk beroperasi di wilayah dengan cuaca ekstrem atau bandara di dataran tinggi. Hal inilah yang memicu lahirnya pengembangan varian ATR 42-500.

Mengudara pertama kali pada 1994 dan mengantongi sertifikasi resmi setahun kemudian, ATR 42-500 bukan sekadar pengembangan dari seri ATR 42-400 sebelumnya. Pesawat ini dibekali Pratt & Whitney Canada PW127E berkekuatan 2.400 tenaga kuda. Selain urusan tenaga, seri 500 menggunakan baling-baling enam bilah (six-bladed propeller). Baling-baling tersebut dirancang untuk mereduksi kebisingan di dalam kabin secara signifikan.

"Pesawat ini dilengkapi teknologi peredam suara yang canggih. Rahasianya ada pada pemasangan alat penyerap getaran dan lapisan khusus di badan pesawat yang membuat kabin jadi jauh lebih senyap," jelas perwakilan ATR saat menjelaskan ATR 42-500 dalam buku The World's Most Powerful Civilian Aircraft (Rosen Publishing Group, 2015).

3. Jadi penghubungan antar wilayah, terutama wilayah terpencil dengan perkotaan

Ilustrasi pesawat ATR 42-500. (Ronnie Robertson, ATR 42 G-LMRC MG 2962, CC BY-SA 2.0)

Secara teknis, seri 500 juga mendapat penguatan pada struktur sayap dan roda pendaratan. Hal ini memungkinkan pesawat membawa beban yang lebih berat (Maximum Take-Off Weight) tanpa mengurangi kemampuannya mendarat di landasan yang kasar. Fleksibilitas membuat ATR 42-500 laku keras di pasar dunia, termasuk di wilayah-wilayah dengan geografis ekstrem seperti pegunungan Alpen di Eropa atau kepulauan di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, warisan ATR 42-500 sangat terasa dalam sejarah maskapai nasional. Pesawat ini pernah menjadi tulang punggung Merpati Nusantara hingga Wings Air dan Garuda Indonesia sekarang untuk melayani rute-rute pendek. Tak heran, pesawat ini layak disebut "pahlawan" sebab menghubungkan pulau-pulau terpencil dengan kota besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team