Patung macan di Taman Macan Makassar. IDN Times/Aan PranataIDN Times / Aan Pranata
Willem Yzereef dalam bukunya berjudul The South Celebes Affair, yang dikutip di laman Laniratulangi, mengungkapkan kegigihan taktik gerilya pemuda Makassar. Laskan gencar melakukan aksi pelemparan granat atau pun rentetan tembakan terhadap kamp-kamp militer dan rumah-rumah pembesar Belanda. Juga melakukan perang psikologis dengan penyebaran pamflet diberbagai pelosok kota.
Makassar dibuat terisolir dengan penebangan pohon-pohon yang melintang di jalan-jalan, dibantu oleh masyarakat. Semua jaringan komunikasi militer terputus karena kabel-kabel telepon sudah dipotong. Laskar dengan senjata dan seragam rampasan dari KNIL juga sering menyerang secara tiba-tiba ke pos Belanda.
Gencarnya perlawanan membuat militer dan sipil Belanda tidak bisa leluasa beraktivitas. Walau begitu aksi perlawanan Laskar Harimau Indonesia tak dapat memenangkan pertarungan, karena sebagian besar pemukanya berada di Jawa. Di lain sisi laskar tidak terorganisasi rapi mengimbangi militer Belanda, yang lebih baik dalam sistem pertempuran maupun persenjataan.