Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20260124_152338.jpg
Kapusident Bareskrim Polri Brigjen Pol Mashudi menjelaskan proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 melalui sidik jari saat konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Makassar, IDN Times - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memastikan seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 berhasil teridentifikasi. Total korban berjumlah 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang, seluruhnya sesuai dengan data manifes penerbangan.

Kapusident Bareskrim Polri Brigjen Pol. Mashudi menjelaskan sebagian besar korban berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan sidik jari. Metode ini tetap efektif meski kondisi jenazah tidak sepenuhnya utuh akibat benturan keras saat kecelakaan.

"Kemarin dari tujuh kantong jenazah yang diterima, memang semuanya masih bisa teridentifikasi dengan sidik jari. Terhadap kantong jenazah PM05, ini kami mengambil perbandingan jempol kanan. Seperti ini contohnya. Alhamdulillah papilernya masih ada," kata Mashudi sambil menunjukkan gambar ilustrasi sidik jari saat konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026).

1. Sidik jari jadi metode utama identifikasi

Kapusident Bareskrim Polri Brigjen Pol Mashudi menjelaskan proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 melalui sidik jari saat konferensi pers di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Mashudi menjelaskan kondisi jenazah yang mengalami kerusakan tidak menjadi hambatan utama dalam proses identifikasi. Selama karakteristik sidik jari masih dapat terbaca, tim dapat membandingkannya secara ilmiah untuk memastikan identitas korban.

"Kalau rekan-rekan menanyakan kenapa itu bisa sama atau identik. Jadi memang kuasa Tuhan itu memberikan kita manusia itu identitasnya dengan sidik jari. Sidik jari, jempol kanan, jempol kiri, ataupun jari telunjuk, jari kelingking itu semuanya beda, memiliki ciri-ciri khusus," kata Mashudi. 

Dia menjelaskan bentuk sidik jari dapat berupa loop (melengkung), whorl (lingkaran), arch (busur), dan variasi lainnya. Setiap papiler memiliki ciri khas, seperti garis terputus, titik putus, dua garis yang menyatu, atau satu garis yang terbagi menjadi dua, yang membedakannya secara unik.

Dalam pembandingan sidik jari secara manual, tim minimal harus menemukan 12 titik kesamaan untuk menyatakan kecocokan. Jika 12 titik kesamaan telah terpenuhi, meski sidik jari tidak terekam secara sempurna, maka identitas tersebut tetap dinyatakan identik secara ilmiah.

"Sama juga dengan yang lain terhadap kantong 06 dan sebagainya. Ini juga sidik jarinya walaupun sudah mulai menipis, tapi dengan ketelitian anggota ini bisa juga menemukan kesamaan," kata Mashudi.

2. Identifikasi jenazah secara saintifik dan berlapis

Konferensi pers pengumuman hasil identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Selain sidik jari, proses identifikasi dijalankan secara berlapis dengan menggabungkan berbagai metode forensik. Pemeriksaan meliputi odontologi forensik, ciri medis, properti korban, serta pencocokan data ante mortem dan post mortem dari keluarga.

Proses tersebut melibatkan tim DVI Biddokkes Polda Sulsel, yang menjadi ujung tombak identifikasi korban. Tim ini didukung oleh Pusdokkes Polri, Inafis Polda Sulsel, Pusident Bareskrim Polri, serta Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

"Dan keseluruhan dari tadi yang disampaikan oleh Kabid Dokes, kami meyakini dengan keilmuan dan saintifik yang kita miliki, semuanya bisa teridentifikasi dan bisa meyakinkan," kata Mashudi.

Ciri medis juga ikut memperkuat identifikasi. Tim DVI memeriksa tanda lahir, bekas operasi, postur tubuh, tinggi badan, hingga riwayat medis sebagai pembanding untuk memastikan identitas.

Proses identifikasi untuk keenam jenazah yang tiba pada Jumat (23/1/2026) juga rampung dalam waktu singkat. Korban berhasil diidentifikasi kurang dari 24 jam setelah jenazah diterima tim DVI. Hasilnya pun langsung diumumkan pada Sabtu (24/1/2026).

3. Seluruh korban telah diserahkan kepada keluarga

Prosesi penyerahan jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 kepada keluarga di Biddokkes Polda Sulsel, Sabtu (24/1/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan proses identifikasi baru dapat berlangsung setelah korban berhasil dievakuasi. Evakuasi tersebut dikerjakan tim SAR gabungan dari lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

"Jadi semua sudah bisa teridentifikasi oleh tim tadi malam dengan upaya-upaya yang dilakukan. Ini bisa teridentifikasi dan identik semua dengan nama-nama korban yang masuk dalam manifest," kata Djuhandhani.

Setelah proses identifikasi dan administrasi selesai, seluruh jenazah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan. Kepolisian memastikan pengawalan hingga proses pemulangan ke daerah tujuan.

"Secara administrasi dan fisik, korban semua kami serahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dimakamkan oleh keluarga korban," kata Djuhandhani.

Editorial Team